Wajah Kemerdekaan Versi Indonesia

unduhan

Mujtabah Fatururrahman
Mahasiswa Pasca Sarjana STIMA IMMI Jakarta

Kemerdekaan berati mendapatkan suatu kebebasan. Bebas dari segala bentuk penindasan dan penguasaan bangsa asing. Bebas menentukan nasib bangsa sendiri. Hal ini berarti bahwa bangsa yang merdeka merupakan bangsa yang berdaulat, bangsa yang harus memliki tanggung jawab sendiri dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Kata-kata Merdeka pernah menjadi begitu sakral dan mewarnai hari-hari awal perjalanan bangsa ini. Begitu banyak jargon, semboyan dan seruan yang menggemakan kata Merdeka dalam berbagai bentuk dan kesempatan seperti antara lain, Merdeka atau mati, Sekali Merdeka Tetap Merdeka.

Bahkan Preambule Undang-Undang Dasar 1945, dalam Alinea pertama kalimat pertama, secara tegas mencantumkan, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa…” Indonesia merdeka tidak mentolerir adanya penjajahan dimanapun juga.

Dan terbukti bahwa bangsa Indonesia mampu menaklukan Penjajah Negeri ini dan memproklamirkan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945. Ini adalah sejarah baru bagi bangsa Indonesia setelah dijajah selama 3 1/2 abad dan kemudian berhasil mendirikan negara yang berasaskan PANCASILA dibawah panji Kemerdekaan.

Kemerdekan ini tentunya harapan bagi setiap bangsa setelah kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama direnggut oleh sistem Imperialisme (Imperialisme Gaya Lama).

Kemerdekaan ini merupakan buah dari sebuah perjuangan yg melekat pada setiap Individu yg kemudian diorganisir dalam satu kepentingan yaitu Indonesia Raya. Satu kepentingan ini merupakan dasar dan cita-cita bangsa yg kemudian dijadikan alat untuk meraih tujuan sebagai bentuk perlawanan atas ketertindasan dan tekanan-tekanan yg dialami oleh setiap Individu.

Kemudian Kemerdekaan ini merupakan pondasi awal bagi bangsa Indonesia untuk menjalankan roda Kepemerintahan yg terlepas dari tekanan dan intervensi-intervensi siapapun dan negara manapun sehingga tercipta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kemakmuran bagi setiap bangsa.

Semboyang ini merupakan pencapain tertinggi yg diharapkan oleh setiap bangsa setelah sekian lama mereka berada pada lingkup Imperialisme yg telah meluluhlantahkan kehidupan mereka disegala lini kehidupan. Namun, dari rentetang sejarah terbukti bahwa pencapain tertinggi yg diharapkan jauh dari Ekspektasi bangsa.

Pemerintah yang diharapakan mampu merealisasikan pencapaian tertinggi yg diharapkan tidak mampu merangkul kepentingan setiap bangsa.
Kepentingan bangsa mulai tergadaikan oleh pemerintah, kepentingan mereka diperkosa dan digantikan oleh kepentingan kaum-kaum borjuis dan para penguasa.

Akar persoalan yang mendasar adalah mulai bermunculan paham-paham baru seperti Feodalisme dan Kapitalisme.
Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan di mana seorang pemimpin, yang biasanya seorang bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan juga tetapi lebih rendah dan biasa disebut vazal.

Para vazal ini wajib membayar upeti kepada tuan mereka. Sedangkan para vazal pada gilirannya ini juga mempunyai anak buah dan abdi-abdi mereka sendiri yang memberi mereka upeti. Dengan begitu muncul struktur hirarkis berbentuk piramida.

Feodal juga diistilahkan Tuan Tanah, yang menguasai banyak tanah. Masyarakat feodal menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, dari hal tersebut membuat para pemilik tanah sebagai pihak yang berkuasa dan menempati lapisan atas struktur masyarakat atas dukungan petani lapisan terbawah. Feodalisme merupakan paham yg mencoba memisahkan strata sosial masyarakat ke dalam skub-skub tertentu yaitu kaum Bangsawan/Elite (Borjuis) dan kaum Buruh (Proletar).

Tatanam masyarakat seperti ini banyak ditemukan di daerah Jawa yg dipengaruhi oleh kerajaan Hindu karena Sistem yang melekat dalam kerajaan Hindu adalah sistem Feodalisme. Pengelompokan manusia sesuai dengan derajatnya.

Perkembangan feodalisme-pun runtuh, kemudian muncul paham Kapitalisme seiring perkembangan zaman dan pola kepentingan diitandai dengan hadirnya industri sandang di Inggris sejak abad XVI sampai abad XVIII dan pergeseran dari perdagangan publik kebidang industri yang ditandai oleh Revolusi Industri di Inggris dimana banyak diciptakan mesin- mesin besar yang sangat menunjang industri.

Feodalisme dan Kapitalisme merupakan dua paham yg tidak beda jauh karena berusaha memisahkan strata sosial yaitu kaum Elite (Borjuis) dan kaum Buruh (Proletar).

Kapitalisme dengan tiga Trendnya yaitu Ekspansi, Eksploitasi dan Akumulasi (memperluas sektor wilayahnya, mengeksploitasi kekayaan alam dan mengumpulkan hasil eksploitasi sebanyak-banyaknya) adalah paham yg mengancam kehidupan bangsa Indonesia, yg kaya makin kaya yg miskin makin miskin.

Kaum Kapitalis merupakan momok bagi bangsa Indonesia karena Kapitalis merupakan Imperialisme Gaya Baru yang mencoba meluluh lantahkan Lini kehidupan bangsa bukan lagi persoalan perang fisik namun perang pemikiran yg mencoba menciderai kepentingan bangsa disegala sektor dan mencabik serta memperkosa cita-cita bangsa Indonesia yg tertuan dalam Pancasila dan UUD 1945. Kaum penguasa telah menghianati bangsanya sendiri dan telah menjadi komparador oleh kaum Kapitalisme.

Kapitalisme tidak lagi bermain hanya pada tataran sektor Industri/Ekonomi saja tetapi sudah mulai mengakar ke semua lini kehidupan baik itu sektor politik, sosial, pendidikan, wisata, dan lain sebagainya.

Disektor politik kaum kapitalis memainkan perannya dengan memberikan dukungan baik berupa finansial maupun tolls untuk kepentingan memenangkan salah satu calon pemimpin daerah maupun pusat tentunya dengan adanya hitam diatas putih atau perjanjian politik yang mengarah kepada kepentingan kaum kapitalis baik yang bersifat fisik yaitu ekploitasi sumber daya alam maupun yg bersifat strategis yaitu regulasi untuk memenangkan pasar dan lain sebagainnya.

Disektor pendidikan tentunya dengan dengan disahkanya UU BHP (Badan Hukum pendidikan) merupakan kemenangan bagi kaum kapitalis, selain menghentikan aktifitas dan aspirasi mahasiswa diinternal lembaga pendidikan tentu berdampak sangat buruk bagi dunia pendidikan yaitu Komersialisasi di dalam tubuh dunia pendidikan.

Sehingga tidak bisa dipungkiri adanya bisnis didunia pendidikan yang kemudian mengakibatkan pendidikan tidak setara dan merata, bagi kaum yang berduit mereka bisa mengenyam pendidikan yang baik sedangkan bagi kaum buruh tidak bisa lagi mengenyam pendidikan.

Disektor wisata mungkin kita akan beranggapan bahwa bangunan dan fasilitas wisata semuanya adalah milik negeri ini tetapi pada kenyataanya wilayah-wilayah vital wisata dinegeri ini bukan lagi milik bangsa Indonesia.
Konspirasi Rezim dan kaum kapitalis telah menghancurkan dan telah menjual sumber daya alam yg sangat vital dinegeri ini, tambang-tambang besar seperti Freepot, Newmont, dll.

Para Rezim telah menodai dan melanggar Undang-undang yg mengatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (pasal 33 ayat 3 UUD 1945 pasal). Namun pada kenyataannya dikelola oleh kaum kapitalis, kita hanya memakan hasil kotoran dari Sumber Daya Alam dinegeri yang kaya raya ini.

Intervensi Asing baik yang bersifat strategis maupun non strategis merupakan acuan buat kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang belum merdeka. Negara Indonesia dengan sistem Demokrasinya mengedepankan Musyawarah Mufakat dalam setiap persoalan, namun hal itu menjadi barang langka sehingga Transparansipun merupakan racun bagi penguasa.

Pergantian Rezim bukan lagi problem solvin bagi bangsa dan negeri ini tetapi hanya acara yang bersifat seremonial yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Masyarakat begitu antusias dan semangat berharap ada pemimpin yg kompeten, akuntable, berjiwa patriotisme, independensi, tidak takut Asing. Namun lagi-lagi Bangsa Indonesia harus bisa terima bahwa setiap Rezim meninggalkan pilu dan derita bagi bangsa Indonesia.

Rezim Orde baru dengan Bapak Pembangunannya mengekang dan membungkan kembali mulut yg sudah merdeka. Begitupun dengan rezim-rezim yang selanjutnya selalu meninggalkan kepahitan bagi bangsa Indonesia.

Hingga dipenghujung tahun 2014, bangsa Indonesia kembali memilih rezim dengan harapan yg sama dan terpilihlah seorang presiden yg sangat dieluk-elukkan oleh rakyat dengan gelar “Satria Berkuda” dan semboyangnya “Kerja, kerja, kerja” yang terus menerus dipropagandakan kemana-mana dan tentu dengan janji-janji politiknya yang begitu meyakinkan.

Namun, diluar prediksi carut marut Negeri ini semakin mencuat, disektor sosial terjadi penggusuran dimana-mana, pendidikan yang tidak jelas arahnya ditandai dengan adanya beragam kurikulum disetip pergantian Menteri yg kemudian membingungkan setiap orang, korupsi semakin merajalela.

Terjadi pergolakan antara KPK dan BPK yang mengantarkan rakyat pada mosi ketidak percayaan dan kebingungan lembaga mana yg harus dipercaya, dan masyarakat menilai persoalan ini bukan persoalan yg alamiah yg terjadi secara alami.

Tetapi semua persoalan-persoalan ini melibatkan elit-elit yg tengah bermain memainkan peranan untuk kepentingan individu dan golongan dan tentu intervensi tidak bisa terelakan lagi untuk menuntaskan persoalan tersebut.

Pergolakan disektor ekonomi tidak bisa dielakan lagi, melemahnya nilai rupiah terhadap US Dolar merupakan bukti nyata bahwa kinerja dengan semboyang “kerja, kerja, kerja” belum menunjukan kinerja yg sesungguhnya.

Dan diperparah lagi dengan bertambahnya Utang Luar Negeri hampir 900 Trilliun, ini berarti bahwa selama kepempinan Rezim yg memiliki konsep Revolusi Mental ini membawa luka dalam bagi setiap bangsa dengan Treck Recordnya yg fantastik dengan menambah utang 1.3 trilliun perhari (dikutip dari Tulisan Navias Tanjung).

Sadar tidak sadar, mau tidak mau bahwa bangsa Indonesia tengah dihadapkan pada persoalan Perang Asimetris. Perang Asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer, tetapi memiliki daya hancur tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dahsyat dari perang militer.

Sasaran Perang Asimetris ini ada tiga:
Membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme/kapitalisme.
Melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyat.

Menghancurkan ‘food security’ (ketahanan pangan) dan ‘energy security’ (jaminan pasokan dan ketahanan energi) sebuah bangsa, selanjutnya menciptakan ketergantungan negara target terhadap negara lain dalam hal ‘food and energy security’.

Perang Asimetris di Indonesia ditandai dengan turnkey project management dari Cina. Turnkey Project Management’ adalah sebuah model “investasi asing” yang ditawarkan dan disyaratkan oleh Cina kepada negara peminta dengan “sistem satu paket,” artinya Mulai dari ‘top management’, pendanaan, materiil dan mesin, tenaga ahli, bahkan metode dan tenaga (kuli) kasarnya di ‘dropping’ dari Cina.

Modus Turnkey Project ini relatif sukses dijalankan di Afrika sehingga warganya migrasi besar-besaran bahkan tak sedikit yang menikah dengan penduduk lokal. Mereka menganggap Afrika kini sebagai tanah airnya kedua. Beberapa investasi Cina di Indonesia, sebenarnya telah menerapkan modus ini. Memang bukan barang baru, karena sejak dulu sudah berjalan.

Fakta yg meyakinkan kita adalah Utang Indonesia ke Cina dari tahun 2015 hingga januari 2016 melejit naik menjadi 59%, dari total 8,55 US Dollar menjadi 13,65 US Dollar (dikutip Kompas.com).

Terjadinya kerja sama pembangunan kereta cepat Indonesia dengan Cina, masuknya pekerja dari Cina dalam jumlah yang tidak sedikit yang sangat mengganggu kestabilan lapangan pekerjaan bagi bangsa Indonesia dan ini sangat bertolak belakang dengan janji Rezim Jokowi yang mengiming-iming membuka 10 juta Lapangan pekerjaan.

Persoalan di Negeri ini begitu kompleks dan refleksi dari persoalan itu banyak gerakan-gerakan bermunculan, mulai dari beberapa wilayah yang ingin merdeka dari Indonesia seperti yg terjadi di Papua yg dipelopori oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), muncul organisasi-organisasi yang lain tentunya mengancam eksistensi NKRI, dan lain sebagainya.

Ini adalah bentuk ketidakpuasaan dan krisis kepercayaan masyarakat terhadap Rezim yang notabene tidak berpihak kepada rakyat. Lantas dengan persoalan yang sangat Kompleks ini.

MASIHKAH KITA MENGATAKAN INDONESIA MERDEKA.?

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa