Wahai Muslimah, Hijab adalah Pakaian Takwamu

images (4)
Ist/net

Oleh

Puput Hariyani, S.Si

Belakangan santer diperbincangkan deretan Hijabers yang eksis di dunia hiburan atau publik. Mulai dari penampilan Ratna Ariyani wanita asal Bogor yang “menggoyang” panggung audisi dengan menari jaipong dalam audisi Sunsilk Hijab Hunt.

Disusul penampilan menggemparkan Ariska Wigatiningtyas yang memperlihatkan aksinya nge-DJ menggunakan cadar yang sempat mendapatkan kritikan pedas dari netizen.

ditambah hadirnya Marsya Gusman yang merebut gelar Miss Internet Indonesia 2017 yang syarat utama tentu harus menonjolkan kecantikannya selain memang harus pintar, cerdas dan multi talenta. Mereka unjuk kebolehan dengan dalih berkontribusi untuk masyarakat luas.

Kehadiran mereka di ranah publik tentu memunculkan pro-kontra mengingat mereka seorang Hijabers. Memangnya ada yang salah dengan seorang Hijabers? Terus kalau bukan Hijabers apa sah-sah saja mereka tampil di tempat umum?

Mungkin demikian pertanyaan yang akan muncul seiring banyaknya opini yang berkembang di masyarakat. Perlu digarisbawahi beberapa pernyataan dari salah seorang DJ bercadar, Ariska Wigatiningtyas, yang berpesan kepada Hijabers muda agar jangan takut untuk menjadi diri sendiri.

Lakukan apa yang memang anda senang tidak perlu memusingkan omongan orang lain. Ia juga mengingatkan kalau setiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk mengekspresikan diri. Sebuah pesan berbahaya, karena memberi kesan bahwa dengan berhijab seakan bisa melakukan apa saja yang diinginkan.

Ratna Ariyani juga berbagi cerita tentang kisahnya yang sempat buka tutup jilbab. Hal ini dilakukan karena dulu banyak tawaran menari yang mengharuskannya membuka kerudung ketika tampil. Namun kini hal itu tak perlu dilakukan lagi, karena meski sudah berhijab tetap bisa menari (Wolipop.com).

Hijab dan pakaian menutup aurat sudah semestinya menjadi pakaian takwa, bukan sekedar dijadikan trend fashion. Dari sinilah perlu dipahami bersama bahwa trend hijab dihadapkan pada sebuah tantangan yang luar biasa besarnya dan kita harus mewaspadai agar tidak terbawa arus opini.

Pertama, tertancapnya sebuah serangan pemikiran dari Barat bahwa hijab mengekang perempuan, tidak bisa menampakkan kecantikan, tidak bisa berkarya, dll.

Akhirnya kaum Hijabers hendak menunjukkan bahwa meski dengan berhijab mereka tetap bisa tampil cantik, bersolek, unjuk kemampuan meski harus menonjolkan lekuk tubuhnya, berlenggak-lenggok di tempat umum.

Kedua, realitas yang terjadi menunjukkan betapa minimnya pemahaman tentang batasan syariah dalam berekspresi. Bolehkah menjadi DJ dengan campur baur laki-laki dan perempuan atau menari di tempat umum disaksikan publik?

Dari Abu Hurairah dia berkata: Bersabda Rasulullah Saw: “Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum saya lihat sekarang, yaitu kaum yang membawa cemeti (cambuk) seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia.

Dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, menggoyang-goyangkan tubuhnya, memiringkan kepalanya, seperti punuk unta yang miring. Para wanita itu tidak akan masuk surga, bahkan tidak mendapat wanginya surga, padahal wanginya surga itu bisa tercium dari perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim).

Ketiga, adanya indikasi yang kuat kepentingan industri dan kaum kapitalis sebagai kiblat fashion muslim sehingga semakin deras arus penyesuaian desain busana muslimah dengan trend fashion dunia, sampai-sampai diciptakan make-up khusus Hijabers, dll.

Keempat, kuatnya cengkraman nilai kapitalis yang memandang perempuan tak lebih dari barang komoditas dan “dihormati” dengan cara diperlombakan kecantikannya. Misalkan dengan menjadi putri Indonesia, putri muslimah, sekarang juga marak kontes Miss pariwisata, Miss Internet, dll.

Sementara Islam memandang bahwa perempuan adalah sosok yang wajib untuk dimuliakan, dan dilarang untuk mengeksploitasi dengan dalih pemberdayaan perempuan.

Demikianlah seorang muslimah harus senantiasa menjaga kemuliaan dan kehormatan dirinya dengan terus berpegang teguh terhadap syariah Islam sebagaimana puluhan abad yang lalu Islam menempatkannya pada posisi mulia.

Bahkan catatan sejarah tak pernah lekang oleh waktu, penjagaan seorang Khalifah Al Mu’tasim terhadap seorang muslimah yang dilecehkan kehormatannya di sebuah pasar Romawi. Beliau kirimkan pasukan yang sangat banyak, panjang pasukannya dari pusat kota hingga tempat pelecehan tersebut terjadi demi menjaga seorang muslimah saja.

Namun kini, ketika Islam tidak lagi dijadikan pedoman kehidupan bahkan perempuan menghargai dirinya dengan sangat murah dan mudah terayu oleh iming-iming kapitalis yang justru menyengsarakan dan merendahkan martabat perempuan.

Selayaknya kaum muslimah menjadikan hijab sebagai pakaian takwanya sehingga menunjukkan identitas kemuslimahannya dan merindukan kembali hadirnya Islam dalam kehidupan. Wallahu’alam bi ash-showab.

*Penulis
Anggota Lajnah Khusus Sekolah MHTI Jember
Staff Pengajar Salah Satu Sekolah di Jember

(Tulisan adalah pendapat pribadi tidak mewakili redaksi)

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa