Viktor Rusak Rumah Keharmonisan Bumi Flobamora

IMG-20170805-WA0011Klikaktifis.com – Semua anak Negeri di Indonesia ini sangat sadar bahwa semuanya hidup ditengah keberagamaan. Dinamika kehidupan yang sangat beragam ini yang dibutuhkan adalah spirit Toleransi, agar tidak terjadi benturan ditengah kemajemukan yang ada.

Akhir-akhir ini sangat ramai membicarakan tentang Intoleran, Radikalisme, Terorisme dan sejenis lainnya, tentu kondisi ini mengancam keharmonisan masyarakat yang sangat beragam. Sesungguhnya kondisi-kondisi yang mengeruhkan warna Toleransi di Indonesia ini tidak terlepas dari provokasi dari luar.

Seiring berkembangnya Isu Intoleran, saya sangat menyanyangkan pidato yang di sampaikan oleh Ketua DPP NasDem dan juga Anggota DPR RI Dapil NTT Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat. Setelah dicermati isi Pidatonya dalam Video yang tersebar.

Ditemukan ungkapan-ungkapan Provokasi yang menjurus kepada isu SARA. Dia sampaikan bahwa di negeri ini masih ada kelompok Ekstrimis yang ingin membangun negara khilafah di NKRI ini.

Dan Celakannya ada partai-partai yang mendukung hal tersebut. Diantaranya partai Gerindra, Demokrat, PKS dan PAN. Maka pada kontestasi pemilu nanti jangan tusuk partai tersebut (Video).

“Sehingga saya rasa apa yang disampaikan oleh Ketua Fraksi Nasdem DPR RI tersebut sangat merusak Rumah Keharmonisan di Bumi Flobamora”, ujar Din Salahudin, Aktivis IMM Asli Flores NTT pada redaksi, Sabtu (05/08)

Menurut Din, sebagi Pemuda Asli NTT masih sangat Bangga karena NTT selama ini dijuluki sebagai daerah Toleransi No 1 di Indonesia. Tetapi Setelah Bapak Viktor Berpidato pada tanggal 1 Agustus 2017 kemarin di Kupang,

“Saya sudah mulai gelisah dan bahkan khawatir. Karena pernyataan Viktor tersebut mengganggu keharmonisan masyarakat NTT yang selama ini mereka lakoni”, tutur Mahasiswa Pasaca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.

Lanjut Din, Semestinya seorang Wakil rakyat harus menjadi teladan untuk menjaga suasana Toleransi yang ada, menjaga keharmonisan untuk kedamaian, bukannya menjadi Api Provokasi yang pada akhirnya Konflik Horizontal.

“Viktor Laiskodat haru menarik kembali bahasa provokatifnya tersebut dan menyampaikan Ucapan Maaf kepada Publik, sehingga bisa meredam suasana kegaduhan ditengah masyarakat khususnya masyarakat NTT”, tegas Din.

Berikut cuplikan pidato laiskodat yang dianggap provokasi isu Sara

Kelompok-kelompok ekstremis ini ada mau bikin satu negara lagi, dong tidak mau di negara NKRI, dong mau ganti dengan nama negara khilafah. Negara khilafah itu berarti … NKRI. Ada sebagian kelompok ini yang hari ini mau bikin negara khilafah.
Dan celakanya, partai-partai pendukungnya itu ada di NTT juga. Yang dukung supaya ini kelompok ini ekstremis ini tumbuh di NTT, partai nomor satu Gerindra. Partai nomor dua itu namanya Demokrat.
Partai nomor tiga namanya PKS. Partai nomor empat namanya PAN. Situasi nasional ini partai mendukung para kaum intoleran, intoleran itu … intoleran. Yang dong suka orang lain, dong .. suka …. agama lain …. suku … bangsa … Ini catat baik-baik, yang calon bupati, calon gubernur, calon DPR, yang dari partai tadi tersebut, kalau tusuk tertusuk tumbuh untuk sampeyan pilih itu, maksudnya pilih supaya ganti negara khilafah.
Mangerti negara khilafah? Semua wajib solat. … lagi di gereja, mangerti? Mangerti? Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan semua harus salat.
Saya tidak provokasi, tetapi orang Timur yang semua itu berarti tunggu nanti negara hilang, kita bunuh pertama mereka, sebelum kita dibunuh (warga tertawa).
Ingat dulu PKI 1965, mereka tidak berhasil, kita yang eksekusi mereka. Lu telepon lu punya ketua umum di sana, suruh jangan tolak-tolak itu Perppu yang melarang untuk Perppu Nomor 2 tahun 2017. (NA)

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa