Tuhan Dalam Intuisi

Bang Saiduddin 20160721_185024Oleh : Saifuddin Al Mughniy

OGIE Institute Research and Political Developmen

Ada banyak fakta yang bisa kita lihat untuk kita terjemahkan sebagai bbagian dari prosesi hidup.. hari ini aku kembali di gerakkan oleh suatu energy yang menurut saya sulit untuk saya terjemahkan, apakah ini sebuah gerakan Ilahiyah “Alif Lam Mim” hanya Allah yang tahu, pemilik segala pengetahuan.

Saya begitu gusar dalam hati, dan bertanya, masih adakah Tuhan ?, sebab, saya tidak melihat usainya airmata karena kesedihan, saya tidak melihat adanya kebahagiaan si miskin papa atas deritanya, saya juga tidak melihat adanya kemakmuran bagi si ahli ibadah yang terisak dalam doanya.

Dan, lebih sadisnya lagi kalau Tuhan telah TIADA dalam genggaman para pemabuk smartphone, gadget serta inferio komunikasi, karenanya Tuhan telah terjebak dalam WA, BBM, Facebook, Twitter, Line, serta media sosial lainnya.

Bisa di bayangkan, bagaimana penikmat media sosial, menelantarkan waktu untuk mendekat sang pemilik waktu, begitu sibuk dengan alat komunikasi yang mereka punya, atau mungkin manusia telah “gila” sejatinya mereka tersenyum karena melihat sesuatu yang indah, terbah-bahak karena ia melihat sesuatu yang lucu, terkadang ia menangis karena melihat sesuatu yang mengharukan.

Tapi semuanya menjadi Absurd, sebab mereka sedang bercinta dengan “ruang kosong”. Ini masalah besar kemanusiaan, Foucalt dengan gaya pandang Episteme (melihat sesuatu di balik realitas), sesungguhnya ditemukan keanehan yang mendasar dari masyarakat modern, sebab sebagian sudah terjebak dalam jalan macet sebuah kehidupan.

Jalan macet yang di maksudkan adalah, bahwa manusia modern cendrung di kendalikan oleh nafsunya dan keinginannya yang berlebihan, sehingga peni-ADA-an akan Tuhan serta merta mereka terima. Bukankah ini malapetaka ?

Dan kalau kita ingin menengok sejenak bagaimana seorang penulis ternama di dunia sekelas Karen Armstrong yang sukses menulis buku tentang sejarah Tuhan, Masa depan Tuhan yang keduanya ini tentu begitu apik dan memancing imajenasi para penulis dan pembaca untuk meneguknya sampai tegukan akhir.

Kita terlalu banyak berbicara tentang Tuhan akhir-akhir ini dan apa yang kita katakan seringkali mengalami kedangkalan, menurut Karen Armstrong dalam kalimat pertama – buku Masa Depan Tuhan. Tuhan sebagai Zat yang maha tinggi, Absolut dan yang tak terjangkau oleh penafsiran apapun, seringkali dipahami dengan sederhana oleh banyak kalangan.

Namun dalam perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan sains dan teknologi, manusia mulai menemukan sedikit demi sedikit rahasia dibalik misteri-misteri yang dulunya dianggap hanya sekedar mitos dan rahasia kebesaran Tuhan.

Tuhan yang dulunya sebagi alasan utama kenapa semua keajaiban ini terjadi, tergantikan oleh fenomena alam yang serba rasional dan empiris bahwa keajaiban ini ternyata memiliki cara kerjanya sendiri dan tak ada Tuhan dibalik itu semua. Dan sekali lagi kita harus menerima kenyataan, bahwa Tuhan masih jauh untuk digapai, baik itu dengan nalar, temuan, penafsiran maupun melalui tanda-tanda (perenialisme).

Orang yang menolak kata “Tuhan” harus dihargai, sebab telah begitu banyak hal mengerikan yang dilakukan atas namanya. Tuhan yang ditolak Sartre sebenarnya Tuhan yang ditolak juga oleh ibn sina, namun perbedaanya satre berhenti pada penolakan hingga menolak eksistensi tuhan sedangkan Ibnu Sina terus mencari hingga menemukan Tuhan yang mereka maksudkan.

Fenomena kaum yang tak mempercayai adanya Tuhan dan agama (ateisme) dan perkembangan sains mungkin sebuah indikasi atau langkah yang lebih maju dari keyakinan yang telah usang.  Yang mungkin terdengar menyakitkan tapi awal dari kemajuan yang lebih cemerlang, karena kebanyakan orang Ateis adalah mereka yang mau berpikir ketimbang hanya sekedar mau menerima dan dicekokin doktrin iman tentang Tuhan.

Keyakinan selalu bertranformasi, dizaman agama pagan keyakinan agama monoteis ini danggap ateis, karena meyakini Tuhan yang abstrak dan terlalu universal. Ini satu dari sekian banyak kredo berfikir manusia yang kemudian “teralienasi” dari sub kultur dan ordinansi lainnya.

Akan tetapi keyakinan pada Tuhan selalu hadir pada panggung sejarah dan turut mempengaruhi manusia memaknai hidupnya, meskipun agama seringkali menjadi ajang kritik dan caci maki. Karena seringkali orang beragama terlalu percaya diri mendeklarasikan Tuhan yang mereka temukan dari penafsiranya tentang agama yang mereka yakini dengan penuh kelemahan yang secara rasional.

Tuhan yang ditemukan sebenarnya jauh dari makna Tuhan yang sebenarnya. Tuhan personal, sangat mudah ditolak pada masa kini yang telah mulai tenggelam oleh alasan moral, intelektual, ilmiah dan spiritual. Tuhan filosof juga dianggap telah usang sehingga bukti-bukti tradisisonal tentang eksistensinya. Luasnya penerimaan terhadap konsepsi Tuhan para filosof oleh kaum deis era pencerahan dapat dilihat sebagai langkah pertama atesime.

Sementara  Tuhan mistik tampaknya menampilkan sebuah altenatif yang lebih bisa diterima. Kaum mistik telah lama menegaskan bahwa tuhan bukan suatu wujud lain. Namun masih saja belum menemukan kepastian yang hakiki karena Tuhan kaum mistik mesih memiliki kelemahan yaitu dia tak mudah dipahami.

Seperti Dewa Langit kuno, Tuhan para Filusuf yang jauh itu cenderung memudar dari pikiran dan hati manusia. Tuhan yang mendominasi “agama ilmiah” modern terlalu mengeksternalisasi yang Ilahi, dan mendorongnya menjauh dari kemanusiaan, membatasinya pada “lubuk dan langit yang jauh”. Tapi, agama pramodern secara sengaja memanusiakan yang sacral dan suci.

Sementara orang boleh saja mengkritik perilaku umat beragama dan berbagai institusi keagamaan yang dibangunnya, tapi kesadaran, kebutuhan dan keyakinan agama masih tetap menggelora. Dengan agama seseorang mencari makna dan tujuan hidup yang lebih hakiki dan mulia.

Agama tidak pernah seharusnya menyediakan jawaban atas pertanyaan yang berada dalam jangkauan akal manusia. Itu adalah peran logos. Tugas agama sangat mirip dengan seni, adalah membantu kita hidup secara kreatif, damai dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan.

Kematian, penderitaan, kesedihan, kemarahan pada ketidak adilan dan kekejaman kehidupan. Max Horkheimer juga memandang Tuhan sebagai cita-cita penting dengan cara yang mengingatkan kepada para nabi. Apakah dia ada atau tidak bukan persoalan. Tanpa ide tentang tuhan takkan ada makna, kebenaran atau moralitas mutlak.

Sehingga dengan demikian Tuhan bukan tidak mungkin terlihat secara HITAM PUTIH, tetapi sejatinya Tuhan telah menyapa manusia dalam runag hampa maupun dalam ruang kenyataan, ya, agama palingtidak menjadi sarana penyapaan akan Tuhan pada diri manusia.

Sehingga manusia tidak selalu menyalahkan Tuhan terhadap apa yang dialaminya, karena hadirnya agama bukan karena peperangan tetapi lahir karena kedamaian. Sebagaimana Islam sebagai agama jalan keselamatan dan mungkin juga dengan agama yang lain.

****

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa