Tren Calon Patahana Tumbang Di Sultra Bisa Berlanjut Termasuk Thamrin & Maasra

Klikaktifis.com – Menarik untuk dicatat, hasil pilkada beberapa kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tahun 2017 sebagian besar calon petahana mengalami kekalahan antara lain seperti di kabupaten Muna dan Kabupaten Buton Utara. Tren kekalahan petahana terus mengalami kenaikan setelah digelarnya pemilihan kepala daerah secara langsung.

Secara teoretis, petahana akan lebih mudah memenangkan kompetisi. hal itu disebabkan oleh modal sosial dan politik yang dimiliki petahana lebih siap.

Foto : Nasir SH (Bacawako Baubau)

“Namun dalam prakteknya di beberapa pilkada di Sultra justru berbanding terbalik dengan teori diatas. Petahana tumbang berjamaah”, ujar Ervan Kusindarto Direktur Eksekutif Index Pemilu dalam perbincangan dengan redaksi di Kendari, Minggu (03/09/2017)

Menurut Ervan, ini pertanda bahwa telah hadir dan era kebangkitan pemilih rasional. Kejenuhan dan involusi politik menggerakkan pemilih untuk mencari cela perubahan walaupun tak ada garansi keadaan lebih baik. Jurus kebanyakan yang dipakai petahana adalah bagaimana birokrasi dan organisasi binaan pemerintah menjadi mesin politik yang efektif.

“Bagaimana modal sosial dan politik dalam beragam bentuknya dengan mudah dapat dikapitalisasi dalam bentuk suara dukungan”, sebut Ervan.

Lanjut alumni Fisip Universitas Airlangga ini, untuk kota Baubau teori ini tidak bekerja sebab ketika Pilkada 2018 digelar AS Thamrin (walikota) dan Wa Ode Maasra Manarfa (Wawali) efektif sudah bukan lagi Walikota dan Wawali Baubau karena masa jabatannya sudah berakhir 6 bulan jelang pemilihan.

Namun jangan lupa jejaring keduanya (Thamrin/Maasra) di birokrasi dan pemerintahan tentu masih kuat, kubu-kubuan pasti terpolarisasi maka presepsi yang berkembang di warga bahwa keduanya adalah patahana tak dapat di hindari.

“Ini bisa jadi kekuatan namun bisa jadi bumerang jika melihat tren pemilih di Sultra secara keseluruhan dimana sebagian besar patahana tak lagi terpilih”, sebut Ervan.

Jika tak hati-hati dan piawai mengelola isu maka keduanya bisa saja tumbang karena kapitalisasi calon lain yang membawa visi perubahan. Demikian Ervan.

Menanggapi fenomena di atas, saat di hubungi redaksi salah satu bakal calon walikota Baubau mengatakan, hal ini (patahana tumbang) bisa saja terjadi dan tentu ini menguntungkan bagi calon calon lain di luar kubu patahana termasuk saya.

“Jujur saat ini banyak deklarasi dukungan yang masuk kepada kami termasuk dari organisasi kepemudaan (OKP), ormas dan kelompok muda dan bahkan mau mendeklarasikan aspirasinya secara resmi ke publik seperti dari GPII Baubau, Keluarga Besar Bulan Bintang (eks Masyumi) dan kelompok pemuda warga Pulau Makasar yang bersama salah satu patahana. Itu adalah aspirasi masa saya larang mereka karena kami sedang fokus pada rekomendasi partai di Jakarta (DPP) dan sosialisasi gagasan ke warga tapi tunggu saja kejutannya”, tutur Nasir.

Nasir yang juga Advokad ini menegaskan, semangat otonomi daerah adalah membawa keberkahan bagi pembangunan sumber daya manusia, kesejahteraan, dan kemakmuran masyarakat.

Oleh sebab itu masyarakat Baubau harus cerdas dalam menentukan pilihannya agar pemerintahan diisi oleh orang-orang baru pro perubahan dengan pikiran memajukan kota Baubau, peduli terhadap kesejahteraan dan kemakmuran warga.

“Nah kami hadir untuk menawarkan itu sebagai alternatif dari calon yang ada termasuk patahana tadi yang anda sebutkan sebagai tren tumbang berjamaah dalam Pilkada di Sultra”, pungkas Nasir. (is)

Source : mediaharapan

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa