Terkaget-Kaget Di Pilgub DKI Bagian 2

img-20160925-wa0103by. Naufal A. Caya

Bak menonton sebuah film yang pada umumnya memiliki lima bagian alur, mulai dari awal cerita (intro); awal konflik (complication); menuju konflik (rising action); konflik memuncak (climax); dan penyelesaian (ending), Pemilhan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta dapat dikatakan tengah memasuki alur rising action.

Dalam rising action biasanya akan mulai muncul macam-macam peristiwa yang menyebabkan peristiwa lebih lanjut. Peristiwa-peristiwa yang terus terjadi akan membawa ke arah konflik atau bagian permasalahan. Rising action dalam Pilgub DKI baru dimulai usai ditutupnya pendaftaran calon gubernur-wakil gubernur KPU DKI Jakarta tadi malam (23/9).

Dimana setelah mendaftarnya pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN) disusul pasangan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno (Partai Gerindra dan PKS), kita para “penonton” film yang bernama Pilgub DKI Jakarta ini akan melihat peristiwa-peristiwa ataupun kejutan-kejutan selanjutnya.

Baik itu susul-susulan elektabilitas dan popularitas dalam berbagai survey ataupun perkembangan situasi politik lainnya dalam suksesi DKI-1 itu.

Kita akan bersama-sama menyaksikan rising action yang terus hingga nantinya akan membawa kita ke arah konflik atau bagian permasalahan (climax).

Climax nantinya dimulai ketika diumumkannya hasil verifikasi berkas calon oleh KPU DKI Jakarta pada 22 Oktober mendatang. Sehingga waktu yang cukup panjang bagi rising action yakni kurang lebih satu bulan pastinya akan dipergunakan bagi aktor dan aktris, dalam hal ini pasangan calon gubernur-wakil gubernur, untuk memainkan peran ke masyarakat.

Terutama pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang harus benar-benar ekstra memainkan perannya untuk turun ke masyarakat menaikkan popularitas dan elektabilitasnya jika ingin keluar sebagai pemenang dalam ending suksesi ini.

Hingga hari ini (Sabtu, 24/9), terus bermunculan berbagai macam analisis para pengamat hingga prediksi strategi maupun kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan calon.

Mulai dari pendapat yang menyebutkan pasangan Agus-Sylvi akan terpental di putaran pertama hingga kalkulasi kemungkinan pasangan Anies-Sandiaga yang akan memenangi suksesi mengalahkan pasangan petahana di putaran kedua.

Selaku orang Ilmu Komunikasi, saya tentunya harus melihat secara subjektif berdasarkan data dan fakta yang ada. Survey yang ada saat ini belum bisa kita jadikan ukuran menang atau tidaknya pasangan calon.

Ketiga pasangan memilki tentunya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Anies adalah sosok yang dekat dengan anak-anak muda, mampu berkomunikasi secara efektif, artikulatif, dan dekat dengan berbagai kalangan.

Agus seorang tentara yang santun dan bijak dipadu dengan wakilnya yang berpengalaman dalam birokrasi DKI Jakarta diyakini mampu merebut suara kaum hawa dan pemilih pemula.

Di sisi lain, pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot S. Hidayat juga memiliki tingkat elektabilitas dan kepercayaan yang cukup tinggi dari masyarakat DKI Jakarta.

Masyarakat yang meyakini Ahok-Djarot telah membawa perubahan yang cukup banyak bagi daerahnya dapat dipastikan akan kembali mempercayai pasangan ini untuk kembali memimpin.

Sebaliknya, bagi mereka yang tidak puas dengan sisi kekurangan Ahok-Djarot dapat dipastikan akan berpaling ke dua calon lainnya, apakah itu Anies atau Agus, pilihan ada di tangan masyarakat DKI Jakarta.

Jangan sampai lima menit di bilik suara menjadi penyesalan selama lima tahun atau bahkan selama-lamanya.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa