Target 165 T Dari Tax Amnesty Gagal, Jokowi Bisa Lengser

unduhan

Arief Poyuono
Wakil Ketua Umum DPP Gerindra

Hingga akhir agustus 2016 t penerimaan dari program tax amnesty menurut Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) baru mengumpulkan duit tebusan amnesti pajak Rp2,14 triliun. Angka tersebut baru menyentuh 1,3 persen dari target pemerintah sebesar Rp165 triliun yang diperkirakan bisa terkumpul sampai akhir tahun nanti.

Sepertinya akan sulit tercapai pada tutup tahun 2016 ,mencapai 10 persen saja dari target 165 trilyun saja udah Joko widodo udah kamsia banyak sama Wajib pajak yang mau mendeclare pajak pake fasilitas Tax amnesty

Ukuran bahwa penerimaan pajak lewat program TA tidak akan mencapai target sangat gampang wong target penerimaan negara Dalam APBNP 2016, pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan sebesar Rp1.539,17 triliun. Sekitar Rp165 triliun diantaranya, ditargetkan berasal dari uang tebusan amnesti pajak.

Sementara itu, realisasi penerimaan perpajakan sepanjang paruh pertama tahun ini baru terealisasi 34 persen atau sebesar Rp522 triliun. Capaian tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp535 triliun.

Nah jadi sangat tidak mumgkin target Tax Amnesty akan tercapai pada tahun lalu yang akan dilakukan oleh Menteri Keuangan adalah mengoptimalkan penerimaan dari WP yang punya usaha beromzet dibawah 5 Milyar.

Artinya pemerintahan akan melakukan pemalakan pada jenis usaha kecil menengah seperti pemilik restoran padang,warteg ,pedagang pasar traditional,petani kebun sawit ,pemilik cafe non franchise ,usaha kerajinan rakyat dll.

Ini tentu akan meningkatkan harga jual dari produk yang dihasilkan oleh sektor usaha beromzet kurang dari 5 Milyar .

Langkah kedua adalah memangkas Dana Alokasi Umum ke daerah yang tidak prioritas ,nah bisa jadi penundaan DAU untuk tahun 2016 bukannya ditunda tapi akan dibatalkan oleh pemerintah Pusat .

Jika program tax Amnesty yang tinggal hanya 4 bulan lagi di term pertama hanya akan menghasilkan 10 sd 16,5 Trilyun saja maka sudah dipastikan defisit anggaran akan semakin melebar hingga melebihi pagu yang ditetapkan oleh UU APBN.

Artinya Pemerintah Joko Widodo mengalami kegagalan dalam pengelolaan Keuangan negara dan tentu ada konsekuensinya .

Pengurangan DAU juga akan banyak berpengaruh pada perekonomian nasional dengan turunnya belanja negara maka ,sektor usaha yang berhubungan dengan belanja negara akan mengalami penurunan omset dan berakibat target penerimaan pajak dari WP beromzet kurang dari 5 milyar juga tidak akan tercapai.

Dampak paling ngeri adalah ledakan pengangguran apalagi tahun depan akan ada angkatan kerja baru hingga 2 juta orang dan yang paling ngeri adalah PHK besar besaran disektor UKM .

Jika penerimaan yang terus defisit diakhir tahun 2016 dan tahun 2017 sudah pasti akan menciptakan proyek proyek pemerintah mangkrak dan pemerintah gagal bayar terhadap supplier dan kontraktor yang menjadi rekana pemerintah.

Ini juga akan berdampak pada Kredit macet perbankan yang meningkat karena supplier dan kontraktor tekanan pemerintah dalam mendapatkan proyek pemerintah juga mengunakan Kredit perbankan

Sementara itu juga akan banyak Industri Industri yang produknya di beli oleh supplier dan kontraktor rekanan pemerintah seperti alat kesehatan ,ATK,alat transportasi ,alat peraga pendidikan ,alat alat berat ,bahan bangunan semua terpaksa tidak terbayar karena supplier dan kontraktor rekanan pemerintah tidak sanggup membayar barang yang sudah dibeli dan dipakai untuk proyek pemerintah ,akibat pemerintah mengurangi anggaran nya untuk tahun 2017

Nah mas Joko Widodo yang paling ngeri lagi dengan makin membaiknya Ekonomi Amerika Serikat maka otomatis the FED akan menaikan suku bunganya artinya akan terjadi Capital Flight yang cukup besar dari Indonesia ,diakhir bulan Agustus saja begitu FED baru beresan menaikan suku bunganya saja 18 Trilyun rupiah uang dari Indonesia terbang keluar.

Dampak membaiknya Ekonomi USA juga berdampak pada Pembatalan Rencana Investasi dari para investor yang sudah buat MOU dengan pemerintah Indonesia,

Nah untuk sektor penerimaan pajak dari produk produk komoditi juga akan semakin berkurang karena India ,China ,Timur Tengah ,Eropah sebagai tujuan ekspor komoditi Indonesia juga mengalami pelemahan Ekonomi domestiknya.

Kesimpulannya dari semua ini ditangan Pak Joko Widodo yang sebenarnya punya ambisi dan cita cita setinggi langit untuk membangun Ekonomi dengan Gaya manajemen marketing justru akan menciptakan Krisis Ekonomi nasional yang makin dalam dan di era Menkeu Sri Mulyani juga pemerintah Indonesia mengalamj kebangkrutan

Kalau sudah begini sebaiknya Sri Mulyani yang sebenar sudah tahu kondisi ekonomi nasional yang sudah 1 tahun setengah di bawah pimpinan Joko Widodo yang amburadul dan terlalu optimis tanpa perhitungan yang tepat ,segera saja mengundurkan diri dari jabatan Menkeu daripada reputasinya hancur sebagai Ekonomi yang piawai

12 September 2016

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa