TAKDIR MERDEKA

Bang Saiduddin 20170816_162159Oleh :

Saifuddin Al Mughniy

OGIE Institute Research and political Development.

Kata kemerdekaan tentu tidaklah asing bagi setiap orang. Kemerdekaan adalah satu proses pelepasan dari keterkungkungan, pembelegguan, ketertindasan.

Kata merdeka adalah satu sikap dan perilaku individu dan kelompok untuk melepaskan diri dari ketergantungan (dependensi) kepada yang lain. Tidak terikat pada klan dan variabel tertentu.

Merdeka seringkali dilekatkan pada satu bangsa dengan bangsa yang lain. Imperialisme, kolonialisme adalah satu ruang penjajahan yang melahirkan ketidakmerdekaan.

Menjadi bangsa merdeka tentu tidaklah mudah, tidak cukup mengharapkan satu pengakuan kedaulatan dari negara lain, tetapi semangat nasionalisme haruslah menjadi pioneer utama mendorong perlawanan.

Perjuangan kemerdekaan pada suatu bangsa begitu sangat jelas karena berhadapan dengan bangsa yang lain. 350 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengenang “keterjajahan” secara fisik dengan mengeruk hasil bumi Indonesia oleh Jepang, Belanda dan sekutu (NICA).

Problematik utama menuju kemerdekaan bukanlah di puncak pembacaan teks proklamasi yang dibacakan pendiri bangsa ini Soekarno – Hatta 72 tahun yang silam.

Tetapi perjuangan sampai di titik kemerdekaan dilalui dengan susah payah. Sejak Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Angkatan 45 dengan semangat kemerdekaan, telah menciptakan opini di kalangan para kaum priyayi, bangsawan, kraton, dan para londo (sebutan untuk orang Belanda).

Untuk merdeka pun perdebatan paham antar kaum tua dan muda demikian alot. Kaum tua berpendapat bahwa kemerdekaan harus diperoleh dengan cara kompromi politik dengan dilakukan berbagai perjanjian seperti perjanjian Linggarjati, Renville, Roem Royen, KMB Den Hag Belanda. Namun semua itu diingkari oleh kaun kolonialisme yang dibuktikan dengan “agresi militer” yang tiada henti.

Namun kaum muda berpendapat lain, akhirnya pertentangan itu berujung pada penculikan Soekarno oleh kaum muda agar mendesak untuk merdeka. Rengas Dengklok, pulau Buru adalah jejak sejarah yang tidak bisa terhapus begitu saja.

Bahwa makna kemerdekaan begitu getirnya, bukan darah semata tetapi kekuatan politik begitu massiv di dorong untuk mengakhiri imperialisme.

Karenanya, kemerdekaan secara fisik dari bangsa lain telah selesai. Kini kita menghadapi musuh terbesar dalam “rumah bangsa” kita sendiri.

Ketertindasan ekonomi dengan minopolistik oleh kelompok tertentu, politik yang hanya dipunyai klan tertentu, hukum sebagai panglima takluk di tangan pendekar “mafia hukum”, akibatnya kebenaran tergadai ditempat yang gelap.

Penguasaan terhadap sumber-sumber alam dikuasai oleh negara tetapi diperuntukkan untuk negara lain. Basis kultural tergerus karena “senggama modernisasi”. Bagaimana mungkin kita mampu membincangkan makna “kemerdekaan” sementara hakikatnya terpinggirkan.

Yah, mungkin ada benarnya kata “kritis” menyebutkan bahwa “merdeka adalah sebuah takdir”. Sekali lagi “takdir”. Perburuan sesungguhnya dalam dimensi kemerdekaan adalah pelepasan dari semua unsur kehidupan masyarakat dari tekanan, intimidasi, provokatif, dalam pelbagai dimensi kehidupan. Karena dari sinilah esensi kemerdekaan ditemukan.

Salam kemerdekaan.
Roterdam, 15 agustus 2017
*sebuah catatan kecil seri 101*

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa