Surat Terbuka Untuk Ia Yang Menyebut Dirinya “Politisi Muda” Tsamara Amani

download (2)Perkenalkan nama saya Rayla Prajnariswari Belaudina Kusrorong, saya (bukan) politisi muda. Meskipun belum pernah bertemu apalagi mengenal anda secara personal dengan baik dalam acara diskusi maupun dalam dialog-dialog formal dan informal lainnya.

Perkenankan saya permisi berkomunikasi dengan anda secara terbuka di sela-sela kesibukan anda sebagai calon gubernur DKI suatu saat nanti.

Pertama-tama, mengapa surat ini saya buat untuk anda bukan yang lain seperti sist Grace Natalia atau ibu Eva Sundari atau Pak Fahri Hamzah. Itu dikarenakan anda hebat karena akhir-akhir ini cukup menggelitik pikiran saya. Biasanya saya memilih membaca jurnal sambil minum kopi.

Sang politisi muda Tsamara.

Awalnya saya tidak tau anda ini siapa, dari latar belakang mana, atau bagaimana bisa anda hadir dan tiba-tiba viral di media social akhir-akhir ini. Sebagai (bukan) politisi muda, saya banyak mengamati tentang figur-figur muda yang terjun berpolitik.

Saya tau akan sangat berdosa bagi saya jika saya menyarankan anda untuk kembali konsentrasi pada kuliah dulu saja sambil matangkan pengetahuan tentang dunia politik.

Karena saya adalah pendukung anak muda untuk juga bisa mengambil peran dalam pentas panggung politik. Namun gagasan dan langka anda kadang menggelitik pandangan saya tentang politik ini.

Pertama. Menantang Fahri Hamzah “bertengkar”. Saat anda di ILC membahas soal hak angket KPK. Saya melihat anda dengan percaya diri mengkritik keras pak Fahri Hamza.

Mbak Politisi muda berlipstik merah yang saya banggakan, ketahuilah dengan cara menolak atau menyuruh pembubaran pansus angket KPK, maka anda tidak sedang memperjuangkan lawan koruptor.

Ditengah opini pelemahan KPK, yang mereka butuhkan adalah anda membawa bukti di lembaga peradilan, bukan melawan dengan cara politis menggiring opini publik bahwa mereka yang mencurigai/mempertanyakan KPK adalah pendukung koruptor.

Saya tidak bilang anda si bau kencur yang belum pantas tampil orasi di depan gedung KPK. Tapi, alangkah baiknya anda yang mengaku politisi muda terlebih dahulu belajar apa-apa saja yang sangat prioritas negara ini hadapi. Mungkin seperti krisis sosial ekonomi dulu, dari orang miskin dan kaum marjinal.

Kedua, bagaimana bisa gagasan anda soal menjadi politisi hanya dengan baca berita,bikin vlog dan menulis,serta masuk organisasi/partai. Saya tiap hari baca berita, menulis lumayan sering, terlibat organisasi juga sudah.

Apa karena saya belum membuat vlog sehingga saya belum bisa jadi politsi muda yang popular akhir-akhir ini seperti anda? Mbak politisi muda, Kalau anda paham ilmu politik, didalam politik ada seni berpolitik, selain itu ada seni memerintah.

Didalam politik ada manusia-manusia politik, dan mereka adalah pencipta perubahan.
Dunia politik itu bukan hanya soal kepentingan dan bagaimana mewujudkannya, dunia politik itu bukan hanya soal keberanian dan kepedean, tapi juga membutuhkan strategi taktik dalam lingkup siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.

Ketiga. Anda sebagai politisi muda secara praktis belum melihat langsung dilapangan. Dalam berbagai diskusi anda hadir sebagai elit partai yang berbicara menurut data.

Maksud saya disini adalah mempublikasi diskusi berdasarkan hasil data sebaiknya didasarkan pada niat yang kongkrit dan nyata dilapangan.

Sehingga hasil data tersebut mampu bersinergi dengan omongan-omongan anda yang lain sesuai dengan yang terjadi dilapangan. Omongan yang hanya bisa menarik perhatian tapi bukan untuk perubahan yang jelas adalah sangat mudah dicari kebusukannya.

Sang politisi muda Tsamara.

Ada cara lain untuk untuk mencari perhatian untuk anda, misalnya belajar dengan baik dan membuat perubahan pada aksi-aksi strategis yang berpengaruh langsung pada masyarakat. Kampanye anti kemiskinan atau membuat vlog tentang edukasi politik.

Berpikirlah dengan baik, sayangilah langkah yang masih muda anda. Belajarlah dahulu seni politik dengan matang baru ngomongin bagaimana anda mengajak anak muda yang lainnya ikut terjun kedalam politik.

Agar anda bisa matang berpikir tanpa ditunggangi. Agar anda bisa berbicara sesuai dengan omongan dan keyakinan anda sendiri. Jangan sampai dikepala anda bayi gagasan yang lahir premature dan tidak tumbuh dewasa.

Demikian Tsamara
“Kata-Kata adalah Senjata”
Dari saya,
Rayla Prajnariswari belaudina Kusrorong. -(Bukan) Politisi Muda.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa