Situasi Border-less Hadirkan Spektrum Ancaman Bagaikan ‘Hantu’ Tanpa Bentuk

downloadfile-9Note 29 Desember 2015

Seri 4

By: Haris Ruly

|| Petisi 28

Dalam tulisan seri sebelumnya telah dijelaskan secara ringkas tentang melemahnya struktur dan fungsi negara akibat dari globalisasi pasar bebas dan kemajuan teknologi informasi yang menciptakan situasi border-less, yang ditandai dengan robohnya pondasi, tiang, dinding dan tembok yang menciptakan sekat antar negara.

Sejarah, budaya, ideologi dan konstitusi yang menciptakan tembok yang membatasi atau men-sekat setiap negara dipaksa tunduk kepada sebuah budaya dan identitas baru, ideologi baru, serta aturan baru, aturan tertinggi, yaitu aturan globalisasi pasar bebas di bawah kendali rezim totalitarianisme kapitalisme global yang sangat integralistik dan sentralistik.

Situasi border-less tersebut pada gilirannya menghadirkan spektrum ancaman bentuk baru, termasuk ancaman tanpa bentuk yang hadir bagaikan hantu dari berbagai penjuru, yang mengancam eksistensi dan tujuan sebuah negara-bangsa.

Gentayangannya hantu-hantu tidak berbentuk, yang mengancam kehidupan umat manusia dan eksistensi sebuah negara-bangsa, telah digambarkan di dalam film James Bond terbaru dengan judul SPECTRE. Menurut Wikipedia, kata ‘spectre’ berasal dari bahasa Latin, yang berarti hantu.

Kata ‘spectre’ kemudian berevolusi menjadi istilah ‘spectrum’ yang digunakan dalam analogi ilmu alam untuk menggambarkan “warna pelangi yang beragam dan terurai, namun tidak terlihat jelas batasan antara warna yang satu dengan lainnya, saling tumpang tindih”.

Istilah ‘spectre’ di dalam film James Bond tersebut kemudian diplesetkan dengan kepanjangan Special Executor for Counter-intelligence, Terrorism, Revenge and Extortion (Operasi Chusus untuk Counter-intelligence, Terorisme, Balas Dendam dan Pemerasan).

Dalam mencermati hadirnya spektrum ancaman bentuk baru bidang pertahanan dan keamanan, kita dapat mengambil contoh kasus dari kejahatan terorisme yang memanfaatkan situasi melemahnya fungsi negara.

Terorisme sebagai sebuah ancaman bentuk lama dalam tindakannya selalu dilandasi oleh keyakinan ideologis yang didukung oleh sebuah struktur organisasi yang solid dan rapi dengan jaringan “sistem sel” international.

Sementara terorisme yang hadir sebagai ancaman bentuk baru, bisa saja dimotivasi oleh balas dendam,  seperti yang terjadi di dalam teror berdarah di Paris Perancis yang menewaskan 150-an orang, Jumat 13-11-2015, atau yang dikenal dengan ‘Friday the 13th’.

Terorisme sebagai ancaman bentuk baru juga hadir sebagi sebuah proxy war dari negara tertentu untuk mengganggu atau menghambat operasi penguasaan wilayah dan penguasaan pasar ekonomi oleh negara yang menjadi pesaingnya.

Sebagai contoh poros kapitalisme Amerika-Inggris mencipatakan ISIS untuk mengganggu dan menghambat strategi penguasaan wilayah dan pasar (manufaktur, infrastruktur dan pasokan energy) oleh poros kapitalisme China-Rusia di wilayah Timur Tengah. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi China jatuh hingga di level 7 persen.

Jika sebelumnya ancaman hanya datang dan didominasi dari kekuatan yang “ber-bentuk” dan “ber-truktur”, yang terutama datang dari aktor negara yang membawa misi kepentingan nasionalnya, berupa agresi militer untuk pendudukan sebuah wilayah dan operasi intelijen untuk perluasan pengaruh ideologi dan penguasaan Sumber Daya Alam.

Maka ke depan, sebagaimana yang telah menjadi analisa umum, selain datangnya ancaman yang ber-bentuk dan ber-struktur, akan hadir dan didominasi juga oleh ancaman dari kekuatan dan aktor non negara atau aktor multi-negara.

Yaitu aktor sindikat kejahatan ekonomi international dan aktor multinational coporation (MNC), yang tidak membawa misi ideologis atau misi nasionalisme memperjuangkan kepentingan nasional sebuah negara.

Disebut tidak berbentuk, lantaran aktor-aktor non negara atau multi negara tersebut bergerak dalam berbagai modus dengan menggunakan beragam warna bendera di berbagai negara, yang tidak terlihat atau sulit dibuktikan kaitan antara satu dengan lainnya.

Aktor-aktor non negara tersebut kadang bergerak berdasarkan kepentingan sebuah negara. Tapi sering kali aktor non negara tersebut bergerak di luar dari kendali dan kepentingan sebuah negara, hanya berorientasi untuk “merampok” dan menguasai ekonomi dan sumber daya alam sebuah negara.

Dalam bidang ekonomi, kita dapat mengambil dua contoh kasus terkait ancaman bentuk lama dan ancaman bentuk baru. Pertama adalah kasus Freeport dan perusahaan sejenisnya sebagai model ancaman bentuk lama. Kehadirannya ber-bentuk dan ber-struktur.

Secara telanjang kita dapat melihat siapa saja yang bermain dan untuk apa mereka bermain. Kehadiran Freeport melanggar UU Minerba, sangat jelas membawa kerusakan lingkungan dan merugikan ekonomi sebuah negara. Dampak negatif dari Freeport dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat umum.

Tentu, seharusnya kita lebih mudah menghadapi Freeport, karena kita didukung oleh mindset masyarakat yang menolak kehadiran sebuah perusahaan yang membawa dampak negatif.

Kedua, ancaman bentuk baru dapat kita ambil contoh dari kasus Gojek, yang kehadirannya dibutuhkan oleh rakyat, namun agenda dan kepentingan dibalik layarnya sangat tertutup dan sulit dibuktikan.

Selain di Indonesia, Gojek dan perusahaan sejenisnya juga beroperasi di sejumlah wilayah Asia Tengara,  memanfaatkan situasi pasar bebas dan kemajuan teknologi informasi.

Disebut sebagai ancaman, lantaran Gojek hanyalah “martir” untuk meliberalisasi sektor transportasi angkutan darat di Indonesia, yang akan membunuh perusahaan transportasi nasional. Awal mula berdirinya, Gojek di-back up dengan dana lumayan besar dari sebuah konsorsium.

Tentu, berbeda dengan Freeport, kita sangat sulit menghadapi ancaman bentuk baru model Gojek, yang hadir tanpa bentuk. Walaupun keberadaannya  melanggar dan mencampakan berbagai peraturan per-undang undang (UU Tansportasi, dll), serta mengancam eksistensi industri transportasi nasional, namun kehadirannya dibutuhkan dan telah membentuk mindset masyarakat untuk mendukungnya.

(bersambung….)

 

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa