Sikap 3 T + 1 A & Dunia Akademik

unduhan-1

Oleh :

NAUFAL A. CAYA

(Mahasiswa FISIP Unila)
(Pengurus DPD KNPI Kota Bandar Lampung Komisi Organisasi dan Keanggotaan)

Fenomena pengusiran paksa warga sekolah SMK Negeri 9 Bandarlampung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandarlampung, Suhendar Zuber, pada hari pertama masuk sekolah Senin, 18 Juli lalu adalah salah satu pertanda bahwa karakter bangsa kian memburuk.

Sosok yang diharapkan menjadi panutan dunia pendidikan di sebuah kota besar ini, justru malah menunjukkan sikap arogansinya di lingkungan akademik.

Belum lagi seorang Pak Guru malang di Sidoarjo, Jawa Timur yang harus duduk di kursi pesakitan gara-gara dilaporkan muridnya karena hal sepele, dicubit.

Siswa itu kemudian hari fotonya yang tengah menunjukkan memar di tangan menjadi viral di dunia maya.

Satu contoh lagi, cekcok pasal skripsi eh mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Sumatera Utara tega melukai leher dan menebas tangan dosennya hingga tewas.

Korban yang merupakan dosen pembimbing pelaku pada Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mengaku dendam karena selalu dimarahi.

Melihat tiga contoh fenomena di atas, lantas apa yang harus diperbaiki di dunia akademik, baik sekolah maupun perguruan tinggi? Paling tidak dapat menimbulkan rasa hormat dan mengembalikan kehormatan dunia akademik yang notabenenya adalah sebagai tempat pembentukan karakter.

Tidak cukup kita hanya menyimpulkan bahwa merosotnya nilai-nilai karakter anak bangsa dikarenakan tontonan yang buruk, lingkungan yang tidak mendukung, dan lain sebagainya. Karena perbaikan nilai-nilai karakter bangsa sejatinya harus dimulai dari lingkungan akademik dengan menerapkan rumus sikap 3T+1A.

3T+1A?
3T+1A sebenarnya adalah sikap kemasyarakatan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang terdiri dari Tawasuth (lurus/tengah), Tasamuh (toleran), Tawazun (seimbang), dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan).

Saya berpendapat sikap 3T+1A ini mampu menjadikan generasi penerus bangsa sesuai yang diharpkan yakni anak bangsa yang memiliki karakter tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, dinamis, yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Sedini mungkin pelajar/mahasiswa harus ditanamkan sikap Tawasuth. Kaitannya dengan akademik, sikap Tawasuth mampu menjadikan pelajar/mahasiswa tidak mudah terjebak oleh sikap ekstrimis dan sekular serta menjadi ”penawar” pelajar/mahasiswa lainnya yang mungkin tidak sadar ikut dalam paham-paham tersebut.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah: 143).

Sedini mungkin pelajar/mahasiswa harus ditanamkan sikap Tasamuh. Keragaman merupakan realitas yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, kaitan sikap Tasamuh dengan dunia akademik menjadikan pelajar/mahasiswa memiliki rasa toleran terhadap perbedaan, baik agama, pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, budaya, dan berbagai perbedaan lain.

Pelajar/mahasiswa sejatinya berada pada usia pencarian jati diri. Apapun pilihan yang dijatuhkan di masa mudanya, masa depan lah yang akan menjadi taruhannya. Untuk itu, sikap Tawazun juga harus ditanamkan. Tawazun adalah sikap berimbang dalam melakukan pertimbangan-pertimbangan.

Sikap Tawazun membawa seseorang tidak terpolarisasi kepada ekstrim kanan (fundamentalime) dan ekstrim kiri (liberalisme).

Setelah sikap 3T diterapkan, maka sebagai penyempurna sikap Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Insya Allah menjadikan generasi penerus bangsa mahasiswa ataupun pelajar selalu memiliki kepekaan untuk mendorong perbuatan baik.

Berguna dan bermanfaat bagi sesama, serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan. Tentunya sikap-sikap di atas haruslah berbekal ilmu, kesabaran, dan lemah lembut. Waullahualam

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa