Saracen Hoax Atau Hook (Istilah Tinju) Untuk Aktifis

images (1)Foto : ist/net

Oleh

Haikal Haikal

Aktifis Komando Barisan Rakyat (KOBAR)

Belakangan santer berita dan wawancara wawancara di beberapa media televisi terhadap seseorang bernama Jasriadi yang menjadi tersangka kasus saracen.

Dalam sebuah sesi, Jasriadi ditanya oleh pewawancara tentang nama-nama dan struktrur (yang katanya sebagai pengurus). Jasriadi menyebut bahwa struktur dan nama nama itu baru sebatas wacana dan draft saja, selebihnya tidak pernah ada realisasinya. (Cat : draft struktur beredar liar di medsos – yang entah darimana sumbernya).

Lalu pada pertanyaan pewawancara soal apakah Jasriadi mengenal nama nama yang ada di draft wacana itu, jasriadi menyebut tidak mengenal secara dekat.

Di sisi yang lain selang beberapa hari, ada pula wawancara media Tv dengan tokoh tokoh yang namanya konon ada didalam draft wacana saracen. Tokoh tokoh itu membantah keras keterlibatan dan sangkut paut mereka dengan saracen.

“Struktur dan nama-nama itu baru wacana” begitu jasriadi mengatakan di media Tv.

Jadi sudah jelas bahwa strukstur dan nama nama masih wacana, masih berupa draft yang tidak lengkap, tidak dan belum sebagaimana lazimnya sebuah struktur.

Pertanyaannya kemudian, Jika itu semua masih sebuah wacana, kenapa harus di jadikan masalah dan dipersoalkan untuk nama nama yang tercantum dalam struktur pula yg masih berupa draft itu. iwacana itu belum ada sisi legalnya.

Apalagi kemudian sampai dituduhkan terlibat penyebar kebencian dan hoax kepada nama yang tertera disitu.

Sebenarnya antara Jasriadi dengan beberapa orang nama nama yang tercantum sebagai dewan Penasehat, dewan Pakar (di draft yang beredar di medsos – yg entah sumbernya fari mana) tidak pernah ada kontak dan komunikasi. Ini tersimpulkan dr beberapa wawancaranya di media.

Tapi ada satu nama yang cukup sering disebut oleh Jasriadi di wawancaranya (yang penulis rasa agak tendensius) yakni Rijal Kobar. Jasriadi menyebut bahwa nama nama dewan penasehat yg tercantum dalam draft yg masih wacana itu adalah atas saran Rijal Kobar.

Sebagai orang yg mengenal cukup dekat dengan Rijal kobar, penulis merasa tergelitik hati manakala mendengar “alkisah cerita” Jasriadi diatas.

Spontan kemudian, penulis mencoba mengorek informasi dari Rijal Kobar (meski dia tidak tahu maksud penulis sebenarnya).

Rijal bercerita kpd penulis bahwa dia tidak pernah mengenal secara dekat dan personal dengan Jasriadi.

Pernah bertemu hanya 1 kali saja dalam satu perhelatan acara SILATURAHMI AKBAR di Jakarta, pada kesempatan itulah jasriadi menyampaikan dan bercerita tentang saracen kepada Rijal. Rijal tidak menanggapi secara serius kala itu.

Setelah dan selepas pertemuan itu kata Rijal kepada penulis, tidak pernah lagi ada komunikasi ataupun kontak dengan Jasriadi. Hingga sampai Rijal mendekam di sel 2 desember 2016 sampai 7 bulan, bahkan hingga saat penulis mendatanginya 27 agustus 2017.

Apa yang penulis lakukan ini, hanya ingin menarik dan menggelar tikar dan mengajak orang untuk menggunakan logika sederhana saja.

Saya yakin Rijal bukan orang bodoh dan tidak sebodoh itu apalagi untuk sekedar soal menyusun organisasi.

Rijal orang yang punya etika yang baik, jadi kalau sekiranya Jasriadi mengatakan bahwa nama-nama dewan penaseha saracen (yang hanya wacana itu) adalah atas usulan Rijal, itu sangat tidak mungkin (apalagi tanpa diketahui oleh yang punya nama bersangkutan) Rijal sangat menjaga atitude dan etiika.

Pula dari sepak terjal Rijal Kobar, yang penulis kenal adalah sebagai mantan aktifis Mahasiswa, dan sarat dengn pengalaman di berbagai organisas kemasyarakatan, serta sebagai orang yang pernah menjadi pengusaha yang cukup sukses.

Dengan bekal pengetahuan dan pengalamannya pasti Rijal Kobar akan sangat berhati hati dan tidak akan gegabah dalam menganjukan /mengusulkan apalagi mencantumkan secara sepihak soal nama-nama mereka orang-orang yang disebut sebagai dewan penasehat dalam kasus ini.

Terakhir yang ingin penulis tanyakan, kenapa Jasriadi terkesan sangat tendensius kepada Rijal Kobar ?

Ada apakah gerangan ? Atau mungkinkah ada maksud tertentu ?

Siapa sebenarnya Jasriadi ini ??
Berbagai Spekulasi pertanyaan, rasanya wajar dilontarkan.

Tapi apapun itu kami berharap semoga kasus ini segera terungkap, mana yang sebenarnya pembuat hoax – mana yang memang fakta.
Mana pembuat kegaduhan, mana penyembunyi yang bermaksud mengalihkan issue.

Siapa sebenarnya pejuang dan siapa sebenarnya pecundang. Semoga Rakyat semakin cerdas menyikapi dan menelaah setiap berita yang di blow up dan diledakan dengan dentuman serentak Media Mainstream.

Diakhir tulisan ini penulis mengutip pernyataan Dr. Eggy sudjana SH tentang kasus sarasen ini,
“…Bahwa ini ada motif, saya tidak percaya dengan sekedar motif ekonomi.
Jelas Ini motif politik. Ada proses devida at empera, ada proses pemecah belahan bangsa kita. Karena ini sesungguhnya anti Islam. Mereka ini gerakan-gerakan anti Islam. Nggak suka dengan gerakan Islam ini,”

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa