RSN : Sebelum Terlambat, Presiden Harus Berani Rombak Tim Ekonomi Pada Agustus ini

070049200_1494162804-JokowiKlikaktifis.com – Saat ini para Menteri di kabinet kerja mereka hanya mengandalkan sisi persaingan pasar global, standarisasi internasional dan untung rugi import eksport.

“Padahal mengelola ekonomi Indonesia itu harusnya dengan pendekatan ekonomi Pancasila. Artinya budidayakan SDA lokal pangan dan pertanian, sumber daya laut dan tambang”, ujar DR. Rahman Sabon Nama (RSN) pengamat sosial politik nasional dalam keterangannya pada redaksi, Senin (28/08).

Menurut RSN, Pengelolaan ekonomi harus punya hati Pancasila yaitu keberpihakan pada rakyat banyak dengan melibatkan petani, buruh, ekonomi lemah/mikro ekonomi sehingga setiap kebijakan menyangkut org banyak harus bersandar pada pasal 33 UUD 45.

Sisi ini sepertinya sengaja dilupakan oleh para kabinet pembantu presiden Jokowi. Sebagai contoh Menteri Perdagangan yang habitatnya aslinya pedagang kita dimaklumi saja, setiap langkah gerak otaknya pasti hanya untung yang dilihat untuk diri dan kelompoknya.

Sama halnya juga dengan esensi berpikirnya Tim Ekonomi kabinet ‘sami mawon’. Silahkan fight rakyat, inilah dunia masa kini, global tanpa batas, yang terpenting kebijakan yang diambil harusnya bersabdar pada hati nurani untuk memperbaiki ekonomi, karena tanpa proteksi utk rakyat sama saja membiarkan ketidakadilan dan kemiskinan, tetap akan langgeng.

Solusinya presiden Jokowi harus punya keberanian segera merombak Tim Ekonomi.
Sebagai keniscayaan suatu pulihan sulit yang harus segera dilakukan dengan reshuffle secepatnya di Agustus ini sebelum terlambat.

Kenapa presiden harus ragu, masih banyak putra putri terbaik bangsa dengan keahlian dan kecerdasannya mau pasang badan demi Indonesia utk kejayaan bangsa.

“Jadi reshufle 3 inilah momentum jika tidak ingin pemerintahannya (Jokowi) keok ditengah jalan karena intelijen terkait dan banyak menteri yang justru berkhianat menggerogoti dari dalam dengan berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat”, sebut RSN.

Terkait berita Forbes kata RSN, Forbes tidak paham Indonesia. Karena tidak ada dikotomi kemiskinan dan ketidak merataan. Oleh karenanya harus simultan memecahkan kemiskinan dan pemerataan.

Pokok masalahnya, kemiskinan dan ketidakadilan dua hal satu sisi mata uang. Oleh karenanya harus ada keberpihakan pada rakyat kecil, sektor ril, ekonomi mikro menjadi fokus tim ekonomi.

Karena disini persoalannya, jadi kenapa Sri Mulyani harus mengeluh kemiskinan bertambah dan memyalahkan pada para Kepala Daerah.

Jadi suatu yang muskil Sri Mulyani yang kitab sucinya Liberal tulen bermimpi menyuruh rakyat bersaing bebas dengan pasar global, jurang kemiskinan dan ketidak adilan semakin bertambah lebar karena tim ekonomi dibawah Darmin dan Sri Mulyani Cs. sangat tidak paham Nawacita.

“Tim ekonomi Kabinet tidak memiliki hati nurani dan yang disalahkan rskyat nanti adalah presiden Joko Widodo”, pungkas RSN.

Seperti di ketahui ekonomi Indonesia sedang lesu, daya beli masyarakat menurun, utang luar negeri harus jatuh tempo Rp 600 Triliun tahun 2018.

Utang luar negeri di gunakan untuk kembali membayar hutang, project infrastruktur macet karena tak ada pembiayaan. Tim ekonomi yang di gawangi Darmin, SMI, Enggar dll apa masih bisa di andalkan?walahualam.****

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa