POLITIK YANG BERDAMAI

Bang Saiduddin 20170820_034132Oleh

Saifuddin Al Mughniy

OGIE Institute Research and political Development.

Hiruk pikuk politik menjelang pilkada serentak terkesan menjadi tranding topik yang menghiasi dindibg media baik elektronik maupun cetak.

Isu politik di pentas pilkada menjadi nyanyian yang nyaring didengar. Fenomena politik seperti ini bukanlah hal yang baru. Tetapi yang menarik adalah ketika proses politik ini serentak dilaksanakan dibeberapa kabupaten/kota di seluruh indonesia.

Fenomena pilkada tentu berbeda satu daerah dengan daerah yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat pada visi, misi, gizi, budaya, serta tingkat partisipasi politik rakyat, dan belum lagi karakter calon. Dan bagaimana kemudian peran partai pendukungnya.

Pilkada sebuah proses politik didaerah tentunya bukan tidak mungkin akan memberikan efek yang lebih besar terhadap rakyat.

Dan terkadang perhelatan ini melupakan satu hal yang urgen yaitu kontrak politik dengan rakyat yang selama dilakukan adalah budaya transaksional dengan tim sukses dengan partai pengusung.

Dan inilah sesungguhnya telah melukai hati rakyat padahal rata^^diantara mereka punya tage line “bekerja dan mengabdi atas nama rakyat”.

Ternyata itu hanya menjadi pepesan kosong. Ruang publik tercederai sebab tidak ada pelibatan rakyat dalam kontrak politik yang dilakukannya.

Realitas ini sesungguhnya harus dibangun karena kontrak politik bukan sekedar kesepakatan tetapi ia sebagai kontrol politik. Pelibatan rakyat itu perlu sebagai pengejewantahan nilai kedaulatan dan perwakilan politik rakyat.

Kegagalan sistem politik kita selama ini karena kontrol politik yang tidak jalan. Legislatif yang seharusnya diharapkan mampu menjadi instrumen komunikasi politik rakyat justru tidak mampu berbuat apa-apa karena sebagian partai politik menjadi bagian dari politik transaksional.

Oleh sebab untuk mencegah kondisi demikian maka partai politik harus kembali ke khittahnya sebagai medium perwakilan politik rakyat. Dan kemudian pelibatan rakyat dalam kontrak politik sehingga ada kontrol kolektif bagi semua stakeholders yang ada.

Dengan begitu cepat atau lambat pilkada akan melahirkan pemimpin yang tangguh, bertanggungjawab serta memiliki kearifan yang baik bagi rakyatnya.

Ini satu dari sekian banyak kegagalan berpolitik, kontrak politik seyogyanya menjadi satu cita-cita yang melahirkan konsensus. Tidak sebatas jualan saat kampanye. Parpol, tim sukses dan kandidat seringkali lupa dan menjadi “seolah-olah”.

Politik itu bukan seolah-olah akan tetapi politik itu adalah value, etika, dan accountability, sehingga perlu.untuk mewujudkannya lewat politik. Politik penting untuk berdamai dengan kepentingan rakyat melalui proses consensus politik.

Olehnya itu, rakyat tidak menyerahkan kesetiaannya kepada elit yang seringkali membohonginya, akan tetapi rakyat menunggu janji “politik” bukan diruang gelap tapi ruang dimana rakyat berdamai dengan demokrasi. **

Ujungpandang, 19 Agustus 2017

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa