Pleidoi ‘Nemo’ Mirip Komedi

images (11)
Ist/net

Oleh

Rezza R Pahlevi

(Komunitas Mahasiswa Melek Politik)

Pembacaan pleidoi Ahok sudah dilakukan. Dalam pleidoi ini Ahok terlihat sama sekali terlihat tidak bersalah. Seolah itu adalah suatu kebenaran yang harus diterima. Jika Ahok adalah manifestasi dari kebenaran yang harus diterima, lalu pertanyaan berikutnya adalah untuk apa sidang dengan terdakwa Ahok selama ini?

Apakah hanya candaan untuk mengisi waktu luang? Tentu saja bukan sekedar seperti itu. Jika ada suatu sidang di pengadilan dengan penuntut jutaan massa, maka pasti dan harus ada pihak yang salah.

Supaya terjadi sebuah fakta bahwa pengadilan mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan. Dan “hukum” tidak menodai dirinya sendiri, karena jutaan massa yang menuntut Ahok agar dipenjara itu bukan hasil hipnotis atau hasil suap.

Untuk lebih jelasnya sebelum memulai sedikit analisis mengenai pleidoi Ahok, hendaknya ditilik pleidoi Ahok dibawah ini secara keseluruhan.

Pleidoi

Isi pleidoi Ahok dengan judul “Tetap Melayani Walau Difitnah” :

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada majelis hakim atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Setelah mengikuti jalannya persidangan, memperhatikan realitas yang terjadi selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta.

Serta mendengar dan membaca tuntutan Penuntut Umum yang ternyata mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini.

Dan karenanya terbukti saya bukan penista atau penoda agama. Saya mau tegaskan, selain saya bukan penista atau penoda agama, saya juga tidak menghina suatu golongan apapun. Majelis hakim yang saya muliakan, banyak tulisan yang menyatakan, saya ini korban fitnah.

Bahkan Penuntut Umum pun mengakui adanya peranan Buni Yani dalam perkara ini.Hal ini sesuai dengan fakta bahwa saat di Kepulauan Seribu, banyak media massa yang meliput sejak awal hingga akhir kunjungan saya. Bahkan disiarkan secara langsung yang menjadi materi pembicaraan di Kepulauan Seribu.

Tidak ada satu pun yang mempersoalkan, keberatan, atau merasa terhina atas perkataan saya tersebut, bahkan termasuk pada saat saya diwawancara setelah dialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu.

Namun, baru menjadi masalah 9 hari kemudian, tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 setelah Buni Yani memposting potongan video pidato saya dengan menambah kalimat yang sangat provokatif.

Barulah terjadi pelaporan dari orang-orang yang mengaku merasa sangat terhina, padahal mereka tidak pernah mendengar langsung. Bahkan, mereka tidak pernah menonton sambutan saya secara utuh.

Jika dilihat hanya dari segi judul sebenarnya sudah terlihat bahwa pihak yang ingin disalahkan bukanlah Ahok. Dalam judul pleidoi di atas, setelah frasa ”tetap melayani” muncul kata “walau”.

Jadi ada peristiwa pertama yaitu Ahok difitnah oleh pihak tertentu dan ada peristiwa kedua yaitu Ahok tetap melayani masyarakat. Kedua peristiwa ini dianggap memiliki hubungan sebab akibat, yaitu kejadian kedua terjadi sebagai respon atas kejadian pertama.

Dari sini makna yang bisa diambil adalah Ahok adalah korban yang difitnah (pihak yang tidak bersalah), karena itu ia akan tetap melayani masyarakat karena sebagai orang yang tidak bersalah alias korban ia tidak perlu dihukum.

Catatan

Bahasan mengenai siapa dikehendaki untuk menjadi pihak yang salah, sebenarnya bisa dilihat dengan menganalisis mulai dari paragraph 3 khususnya setelah frasa “peranan Bu Yani” muncul.

Karena bahasa yang digunakan oleh Ahok hanya memiliki satu tanda linguistik untuk merujuk pada “peranan” Bu Yani yang tentu saja dalam artian negatif karena disini kata peran digunakan dalam mode “mendenigrasi” setelah kalimat sebelumnya yang menyebutkan bahwa Ahok adalah korban fitnah, maka orang-orang akan selalu memandang BuYani dari sisi negative.

Karena orang-orang tidak sadar bahwa kata “peranan Buni Yani” itu muncul dari pengalaman-pengalaman negatif Ahok yang sudah disebutkan sebelumnya seperti menjadi tertuduh dan semacamnya.

Sehingga nama BuYani akan mucul sebagai persepsi negative di benak orang-orang sementara Ahok adalah nama yang muncul sebagai persepsi positif.

Orang-orang pun akan yakin bahwa makna negatif dari kata “peranan” atau lebih jauh lagi kalimat lain yang mengandung nama “Buni Yani” adalah sebuah fakta yang objektif dan faktual.

Apalagi setelah ditambah oleh pleidoi Ahok di paragraph 6 yang menyatakan bahwa masalah “baru muncul” ketika Buni Yani memposting video pidato Ahok, yang katanya ditambahkan kalimat-kalimat provokatif.

Dengan sedikit analisis di atas terlihat dengan jelas bahwa isi pleidoi Ahok adalah untuk menunjukkan siapa yang harusnya jadi terdakwa dan dihukum, dan siapa pula sebenarnya yang selama ini di “dzolimi”.

Lama-kelamaan umat akan terbakar amarahnya, tatkala hukum tak lagi memihak pada yang haq. Maka, demikian benarlah bahwa hanya hukum Allah yang lebih unggul dan memberikan rasa keadilan. No Suap dan No Cuap-cuap!

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa