Perempuan, Politik & Cinta

bang-saiduddin-20160921_155527Oleh

Saifuddin Almughniy

Dalam berbagai hal terkadang kata perempuan selalu ditasirkan sosok yang lemah, anggun, molek, serta kiasan estotik yang melekat pafa dirinya. Kata perempuan yang terpenggal menjadi [Pe] rempu [an] adalah sebuah proses prilaku untuk ” menjadi “, yang bisa saja menjadi perempuan yang sesungguhnya dengan segala tanggung jawab yang dimilikinya sebagai pendamping suami dan pengasuh dari anak-anaknya, atau sebuah proses menuju kedewasaan dari sosok perempuan yang di maksud.

Dalam beberapa sejarah politik dunia, mungkin kita mengenal Margareth Teacher mantan perdana menteri Inggris yang dikenal sebagai wanita bertangan besi, Benazhir Bhuto mantan presiden Pakistan, Isabel Peron (1974) presiden wanita pertama dalam politik modern yang berkuasa di Argentina.

Ibunda Theresia yang menghabiskan waktunya untuk kemanusiaan, dan saat ini ada Hillary Clinton calon terkuat presiden USA dari Partai Demokrat. Dan sejarah Indonesia pun menyisakan sosok pahlawan nasional seperti Raden Ajeng Kartini, Cut Meutia, Rasuna Said, mereka pun menghabiskan waktunya untuk cita-cita kemerdekaan.

Bahkan dalam fase sejarah Kenabian Muhammad SAW dalam sebuah peperangan, Husaima bin Kaab tampil membela Agama Allah, di medan perang Husaima bin Kaab terhujani panah dan tombak dalam tubuhnya, saat tubuhnya ingin terjatuh maka Rasulullah memeluknya lalu ia berbisik.

Wahai Husaima, sesungguhnya engkau jauh lebih mulia dari seorang laki-laki. Bukan karena melampaui kodratnya sebagai perempuan tetapi karena Husaima memperlihatkan sikap yang teguh, prinsip dan cita-citanya menjadikan ia mulia.

Dan saya kira, dibelahan dunia ini banyak perempuan yang hebat, tangguh dan pejuang. Film “Biarkan Kami Bersaudara” menginjeksi pikiran kita, bagaimana sosok perempuan kecil memilih mengabdi di NTT yang kering dan tandus, belum lagi lingkungan ideologis yang berbeda.

Sebab, kemajuan satu peradaban tidak selamanya disentuh dengan invation menurut Samuel P. Huntington disebut sebagai Class Civilitation (benturan peradaban), akan tetapi seribu kemajuan bisa disentuh dengan satu hati perempuan.

Sekalipun memang dipanggung politik belumlah dapat memenuhi 30% kouta suara diparlemen. Ada beberapa asumsi yang menyebabkan, pertama, karena rekruitmen perempuan di parpol begitu sedikit dibandingkan kaum perempuan. Kedua, rendahnya minat kaum perempuan masuk diarena pilitik praktis.

Ketiga, perempuan lebih care dan memilih aktifitas diluar politik, seperti menjadi pebisnis. Belum lagi perempuan terpenjara oleh “patriarkisme” dimana kaum perempuan hanya memilih jalan untuk mendampingi suami dan pengasuh bagi anak-anaknya.

Dan suguhan kapitalisme dan wajah metropolis menjadikan patriarki cendrung diseruduk oleh kaum perempuan, dan tidak ayal kalau kemudian “perempuan” juga aktif mengisi ruang-ruang publik dan seabrek kegiatan lainnya.

Tetapi paling tidak bahwa perempuan adalah perekat sosial, dalam pengertian sosok perempuan begitu penting (filsafat romantisme) dalam kehidupan sosial. Kelembutan dan kesehajaan perempuan adalah pemantik kehidupan, sebab gerak perubahan dan peradaban selalu dilahirkan olehnya.

salam untuk perempuanku
.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa