Pemerintahan Jokowi Hancurkan BUMN & Jadikan Bancakan Oligarki (2)

images (16)
Foto/ilistrasi : setkab

Seri kedua (2)

Oleh :

Salamuddin Daeng

(AEPI)

Skandal keuangan terbesar dalam era pemerintahan Jokowi adalah menjadikan bank BUMN sebagai tumbal bagi sektor swasta untuk mendapatkan pinjaman dari China.

Skandal tersebut disertai dengan kebohongan bahwa pinjaman tersebut akan digunakan untuk membangun infrastruktur, namun faktanya diginakan untuk tujuan lain lain.

Tahun 2016, tiga bank BUMN yakni Bank Mandiri, Bank BNI, dan bank BRI dipaksa mengambil utang dari China untuk membiayai Taipan Indonesia yang tengah sekarat.

Pinjaman dari China (China Development Bank (CDB) senilai US$ 3 dolar dibagi bagikan kepada taipan dan oligarkhi penguasa nasional untuk restrukturisasi utang-utang sampah mereka.

Oleh para taipan dana pinjaman dari China tersebut digunakan untuk memulihkan kegiatan ekonomi mereka yang terkena serangan penurunan harga komoditas global dan ancaman kebangkrutan.

Dana pinjaman CBD oelh Bank Mandiri digunakan juga untuk membeli saham PT. Newmont Nusa Tenggara sebuah perusahaan tambang yang mau tutup dan gagal mengembangkan operasinya di Nusa Tenggara Barat.

Pertanyaan publik, mengapa para taipan swasta ini tidak meminjam sendiri ke China? mengapa harus menggunakan tangan bank pemerintah?

ternyata jawabanya adalah perusahaan perusahaan dan bank bank swasta sudah berada pada posisi yang sulit mendapatkan pinjaman.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2016 utang swasta merosot sementara utang pemerintah meningkat hampir Rp.1000 triliun.

Padahal utang BUMN perbankkan sudah sangat besar. Bank bank milik pemerintah terancam kolaps. Apakah memang ini maunya pemerintah ?

agar bank bank swasta milik para taipan semakin berjaya di republik ini? dan bank bank pemerintah kehilangan kredibilitasnya?

Saat ini Utang BNI sebesar Rp. 46,528 triliun. BNI total debt to equty ratio sebesar 85.16. dana pemengang saham sebesar Rp 109,607 triliun. Sebagian besar adalah pihak asing. NPL perusahaan berada pada batas mengkuatirkan 3%.

Sementara Bank Mandiri baru baru ini berencana akan menjual aset mereka dalam rangka menangani utang yang besar karena kegagalan investasi para taipan yang dibiayainya di sektor tambang.

Keuntungan perusahaan jatuh hampir separuh pada 2016 dibandingkan tahun 2015. NPL bank ini sangat buruk yakni berada pada posisi 4.0 (april 2017). Ini adalah hasil dari pemberian pinjaman dari China untuk membeli saham Newmont Nusa Tenggara.

Sementara bank BRI memiliki utang paling besar dari jajaran bank BUMN yakni mencapai Rp. 83,783 triliun dengan Rp. 220 triliun lebih pemegang saham yang sebagian besar adalah asing. NPL perusahaan sangat buruk mencapai 5.61. tampak sekali bank ini hendak dibangrutkan untuk dijual kepada asing dan taipan.

Nah sekarang Pemerintah akan menarik lagi pinjaman dari China, salah sarunya adalah untuk membangun kereta Cepat. Nilainya US$ 4 miliar dolar dari total pinjaman yang diperlukan sebesar US $ 6 miliar.

Bank bank BUMN tampaknya kembali akan menjadi tumbal. Dipaksa menarik pinjaman, lalu bangkrut. Maka dengan cara ini bank BUMN segera pindah tangan ke China.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa