PDIP, Demi Kekuasaan Pilih Cagub Koruptor & Penindas

img-20160921-wa0037Catatan Rabu Pagi:

Oleh

Muslim Arbi Koordinator GALAK Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi

Demi kekuasan PDIP menjatuhkan Putusan pada Cagub yang di nilai Publik sebagai Koruptor yg di lindungi Istana, Penindas juga berprilaku kasar dan bermulut Kotor. Setidaknya itu lah yang menjadi presepsi sejumlah kalangan masyarakat hingga hari ini.

Soal Kasus Korupsi yang membelit Ahok sudah jelas. Sederet Kasus Korupsi yang sudah menjadi pengetahuan Umum Publik seperti, Taman BMW, Sumber Waras, Reklamasi, Kasus Tanah Cengkareng.

Tapi yang nama aparat Penegak Hukum Pemberantas Korupsi seperti KPK, misalnya nya malah menjadi semacam Advokat bagi mantan Bupati Belitung Timur itu.

Penindasan terhadap Rakyat Kecil di DKI dengan semena mena tanpa ampun menghiasi kritikan di Medsos, tapi tidak di media mainstream karena rupanya sudah di kontrak untuk proyek Pencitraan. Jadi hanya Medsos dan sejumlah media Kecil yang masih berusaha kritis terhadap Ahok.

Jika PDIP usung Jargon Partai Wong Cilik, sudah terbantahkan dengan Putusan yang menjadi Ahok sebagai Cagub, meski setiap saat Ahok menindas Wong Cilik dengan menggusur mereka tanpa ampun.

Menjadi pertanyaan, ada apa Megawati sebagai penentu Keputusan Final pada Cagub DKI, akhirnya semalam melalui Sekjen nya umumkan Ahok yang bukan kader PDIP dan di pasangkan dengan Jarot sebagai Cawagub nya pada Pilgub 2017 nanti?

Ada rumor berkembang bahwa Megawati di tekan oleh Aseng yang terlibat di kasus BLBI dan sejumlah Mantan Militer yang dapat untung dari keberadaan Aseng untuk jatuhkan pilihan pada Ahok.

Hal itu terjadi karena kalau Mega tidak lakukan itu, maka kasus SKL BLBI yg mengendap di KPK akan di buka lagi. Para Aseng yang konglo hitam itu pun seolah merasa kuat karena rampokan BLBI yg di milikinya dan belum tersentuh Hukum berubah menjadi garang dan menakutkan.

Karena dengan uang rampokan BLBI itu mereka bisa beli apa saja, termasuk Istana dan seisinya juga insitusi Penegak Hukum sekali pun. Padahal sikap Aseng itu sangat berbahaya bagi kelangsungang hidup NKRI.

Memang, memasuki pilihan politik praktis itu terkadang bisa korban kan ideologi, prinsip2 kebenaran dan keadilan, bahkan Negara sekali pun. Di era Demokrasi Liberal seperti sekarang Uang sudah menjadi kekuatan yang menentukan segalanya.

Sehingga tidak heran sejumlah aktifis sebutkan Sila pertama Pancasila adalah Keuangan Yang Mahakuasa, bukan Ketuhanan Yang Mahaesa lagi.

Jadi, jangan berharap banyak kepada Partai yang berjargon Partai Wong Cilik. Atau demi kekuasan Partai Wong Cilik berubah menjadi Wong Licik? Wallahu a’lam

Surabaya 21-09-2016

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa