Pak Presiden, Lalaimu Renggut Hidup Pemudik

IMG-20160707-WA0013
Foto : ilustrasi/net

Wajah Kemenangan Yang Terjajah

Tanpa Minta Maaf Saya Ucapkan, Selamat Idul Fitri Pak Presiden.. Lalaimu Renggut Hidup Pemudik

Oleh : Ferdinand Hutahean

Tradisi mudik bagi masyarakat saat Idul Fitri bukanlah tradisi yang baru terjadi di era Jokowi atau baru terjadi tahun ini. Tradisi mudik sudah terjadi puluhan tahun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang beragama Islam.

Mudik menjadikan pergerakan angkutan umum darat, laut dan udara keseluruh penjuru meningkat. Puluhan juta manusia melakukan perjalanan mudik dalam satu waktu bersamaan.

Mengutip pendapat Dr Syahganda Nainggolan menyatakan Mudik menunjukkan bahwa Pribumi masih ada di negara ini, selagi ada mudik maka kata INDONESIA ASLI tidak layak dihapusksn dari UUD 45.

Tradisi mudik di pulau Jawa tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Perbedaannya bukan karena terjadi peningkatan mudik besar-besaran hingga macet lebih parah dari sebelumnya.

Tetapi mudik kali ini menjadi berbeda karena atas nama kerakusan kapitalisme dan nafsu exploitasi masyarakat maka digiringlah pemudik yang puluhan juta itu masuk secara bersama-sama kedalam sebuah jalan tol yang menjadi tenar dengan nama BREXIT (BREBES EXIT) mengikuti kata Brexit atas keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa.

Brexit menjadi ladang penyiksaan bagi pemudik, jalan tol Brebes menjadi bukti nyata bahwa kita sedang terjajah. Terjajah oleh kapitalisme dan nafsu exploitasi negara terhadap rakyatnya.

Pribumi terjajah oleh keserakahan asing, terjajah oleh kebijakan pemerintah yang menjadikan segala kehidupan berbayar bagi rakyat. Kebijakan yang menjajah itu telah mengakibatkan jalan tol brexit tidak manusiawi, pemudik disiksa hingga terpaksa makan tidur, buang air besar dan kecil serta sholat dijalan tol.

Yang lebih meyedihkan adalah kondisi tersebut hingga merenggut nyawa pemudik belasan orang. Tercatat terakhir sudah 18 korban meninggal karena tersiksa di jalan tol Brebes. Padahal sebelumnya presiden menyatakan sudah mengantisipasi akan hal tersebut tapi tidak melakukan apa-apa. Akhirnya hari kemenangan berubah menjadi hari penjajahan bagi pemudik.

Apakah hal ini harus terjadi? Sesungguhnya hal tersebut tidak perlu terjadi andai kebijakan pemerintah berhenti mengexploitasi rakyatnya. Hentikan jalan tol atas nama infrastruktur, mestinya pemerintah membangun jalan bagi rakyat tanpa harus mengexploitasi rakyatnya.

Jalan tol itu bukan milik negara tapi milik kapitalis yang menjajah. Kewajiban negara diserahkan kepada swasta dan asing, ini pelanggaran kepada konstitusi.

Daftar gagal Jokowi bertambah pada lebaran kali ini, gagal mengelola lalu lintas mudik yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Pak Presiden Jokowi, tanpa meminta maaf saya ucapkan Selamat Idul Fitri, lalaimu merenggut hidup pemudik.

Jakarta, 6 Juli 2016 – 1 Syawal 1437 H

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa