Oktasari Yakin Buktinya Kuat Lemahkan Legalitas OSO Sebagai Ketum Hanura

unnamed (2)
Ilustrasi/net : OSO

Klikaktifis.com – Kursi Oesman Sapta Odang (OSO) sebagai Ketua Umum Partai Hanura digoyang dalam Sidang gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang menggugat hasil Munaslub Hanura 21 Desember 2016 lalu.

Oktasari Sabil, Ketua Umum Gemura,  salah satu sayap Partai Hanura yakin memiliki bukti yang melemahkan legalitas OSO sebagai Ketua Umum Hanura.

“Untuk sidang gugatan terhadap SK Kemenkumham atas SK tersebut. Sudah masuk kepersidangan yang ke 11 dan sudah masuk agenda pemeriksaan saksi fakta dan saski ahli, cuma tadi baru kita penuhi untuk memperlihatkan kepada majelis hakim bukti-bukti aslinya. Jadi baru sebatas pemeriksaan. Untuk agenda pemeriksaan saksi sendiri ini diagendakan minggu depan,” ujar Ridwan NR, kuasa hukum Oktasari Sabil, usai sidang, Rabu (31/5) seperti dilansir rmoljakarta.com

Dalam sidang ke-11 ini, hakim ketua meminta kedua belah-pihak memperlihatkan bukti-bukti asli dan otentik yang dimiliki para pihak dalam membela kebenaran yang diyakininya.

“Soal bukti-bukti yang tadi kita pelihatkan dalam sidang kepada hakim, memang belum sempat kita pelihatkan aslinya. Begitupun dari pihak tergugat, jadi istilahnya dilengkapilah. Biar kita lihat bagaimana sikap mereka (lawan/tergugat) merespons,” jelas Ridwan.

Menurut kuasa hukum Oktasari Sabil ini, pihak tergugat (Kemenkumham dan Partai Hanura) dalam persidangan hari ini berusaha membuktikan bahwa prosedur dan pelaksanaan Munaslub itu sudah sesuai seperti yang seharusnya dalam mekanisme partai.

“Tetapi sebaliknya kita juga membuktikan bahwa faktanya, Oesman Sapta itu baru sebulan menjadi anggota Partai Hanura, itupun berdasarkan pengakuan yang bersangkutan di berbagai media. Baru satu bulan masuk kader Hanura, kemudian mencalonkan menjadi Ketua Umum. Dan ini jelas-jelas melanggar ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Partai Politik Hanura itu sendiri, itu yang kita tekankan, bahwa apa yang kita tuduhkan selama ini memang terbukti,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ridwan menerangkan, dari bukti-bukti yang diperhatikan dalam persidangan, Ridwan sangat optimistis bisa membuktikan bahwa kepengurusan Partai Hanura periode ini, sudah melanggar aturan partai politik, dan melanggar AD/ART Partai Hanura itu sendiri.

“Sebuah pondasi partai yang dibangun untuk membangun bangsa dan negara, sementara di internal partainya sendiri dipilih dengan cara-cara yang tidak benar, maka akan membuahkan pemimpin yang kurang baik juga ke depannya, karena itu dari bukti-bukti yang sudah diperlihatkan dalam persidangan, kita sangat optimis bahwa apa yang sudah diperjuangkan oleh ibu Oktasari Sabil ini memang untuk kebaikan Partai Hanura pada khususnya, dan perbaikan tatanan kenegaraan pada umumnya,” tukasnya.

Di sisi lain, Oktasari Sabil selaku Penggugat Intervensi dalam persidangan ini mengaku puas dengan jalannya sidang yang masih dianggap normal.

“Sidang hari ini sudah sesuai jadwal, karena kedua belah pihak harus memiliki saksi-saksi, untuk memberikan ruang penjelasan. Saya berharap dalam sidang ini memutuskan kebenaran diatas kebenaran, tidak ada namanya intervensi dalam bentuk apa-pun dan permainan dibelakang dalam bentuk apa-pun, dan saya berdoa semoga siapapun tidak kemasukan angin, karena yang kita lawan inikan seorang gajah besar, yang memiliki segalanya, akan tetapi saya yakin kekuatan hati nurani, kebersihan pemikiran dan hati, mudah-mudahan tidak terkontaminasi apapun, dan saya yakin Tuhan tidak tidur,” ujar Okta.

Di sisi lain, sebagai Politisi dan Ketua Umum Gerakan Muda Hati Nurani, Oktasari Sabil mengaku masih merajut komunikasi dengan pihak lawannya di persidangan. Namun bukan berarti hal tersebut bisa merubah keputusan dan gugatan yang dilakukannya dalam persidangan.

“Kalau komunikasi memang selalu berkomunikasi karena bagi saya sendiri silaturahmi itu bentuknya silaturahmi, tetapi untuk gugatan dan ke depannya putusan, saya masih tetap konsisten pada keputusan pembuktian yang kami miliki,” pungkasnya.****

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa