NARKOBA MASIH MENJADI MIMPI BURUK

images (4)Foto : ist/net

Oleh

Nila Afila

Mahasiswa Politeknik Negeri Jember

Pemerhati remaja dan anak

Keberadaan narkoba ternyata masih memiliki eksistensi yang tinggi di dalam negara berkembang seperti Indonesia, pasalnya masih banyak catatan mengenai pengedaran dan penggunaan narkoba oleh semua kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pegawai negeri.

Rabu lalu (06/09/2017) anggota Satnarkoba Polsek Konang, Bangkalan menangkap Zahri Ramadhan (35) bersama Marzuki (40) yang berstatus sebagai pegawai kantor Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atas penggunaan narkoba jenis sabu seberat 0.5 gram (beritajatim.com)

Di wilayah lain anggota Satresnarkoba Polres Mojokerto juga meringkus dua pengedar narkotika jenis sabu-sabu dengan barang bukti berupa satu paket sabu kemasan plastik klip dengan berat 1,76 gram dan beberapa barang bukti lainnya.

Kedua pelaku pengedar narkotika tersebut yaitu Priyono (38) warga Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto dan Slamet Hariyanto (47) warga Dusun Madyopuro, Desa Kalipuro, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto dijerat Pasal 114 ayat (1) subs 112 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman paling lama 20 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 1.000.000.000 .

Tidak hanya itu, sebagian besar pengedar narkoba menjual barang haram ini kepada remaja terutama pelajar SMP dan SMA. Kasus pengedaran narkoba ini cukup membuat masyarakat terutama orang tua resah terhadap kondisi lingkungan saat ini.

Pasalnya yang menjadi incaran para pengedar narkoba adalah remaja. Kondisi ini jelas mengingatkan kita bahwa narkoba masih menjadi mimpi buruk yang menghantui para pemuda khususnya pelajar yang seharusnya menempa ilmu tanpa dibayang-bayangi hal buruk seperti narkoba.

Lalu, siapakah yang harus disalahkan atas kondisi saat ini? Apakah individu yang memiliki mental lemah sehingga mudah dipengaruhi oleh barang haram bernama narkoba tersebut ataukah aparat hukum yang kurang garang dalam membrantas narkoba?

Semakin luasnya peredaran narkoba bukanlah hal yang remeh melainkan merupakan hal besar yang harus diselasaikan dan pasti melibatkan berbagai pihak dalam menyelesaikan masalah ini.

Pihak pertama, adalah dari induividu sendiri yang perlu membentengi diri dari narkoba, perlu adanya sosialisasi mengenai narkoba yang dilakukan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas, sehingga pemahaman mendasar mengenai bahaya narkoba melekat dalam diri remaja dan membuat mereka tidak ingin mengkonsumsi narkoba.

Pihak kedua, merupakan pihak yang sangat berperan dalam pemberantasan narkoba yaitu negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekuat-kuat seorang individu membentengi diri dari narkoba, apabila dia ditawari narkoba terus menerus, maka benteng tersebut akan roboh juga, apalagi seorang remaja masih “labil” dalam mengambil keputusan.

Maka dari itu, negara perlu memberikan perhatian khusus terhadap masalah narkoba ini dan menjadikan penyelesaian untuk masalah ini sebaga prioritas.

Negara harus mengeluarkan kebijakan yang tegas mengenai hukuman bagi para pengedar narkoba, sehingga mereka jera dan tidak ingin mengedarkan narkoba lagi.

Negara harus menutup segala akses untuk kemungkinan adanya ekspor-impor narkoba khususnya memperketat keamanan di perbatasan, sehingga tidak ada narkoba dari luar negeri yang dapat masuk kedalam Indonesia.

Negara juga harus melakukan razia terhadap tempat-tempat yang menjadi pabrik atau tempat pembuatan narkoba didalam negeri dan memberikan hukuman yang pantas bagi pelaku.

Pihak ketiga, adalah aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum juga memiliki peran dalam melaksanakan segala sesuatu yang telah ditetapkan negara seperti razia, penegakan hukum bagi pelaku pengedar narkoba, penggeledahan, penjagaan perbatasan, dan lain-lain.

Aparat hukum harus selalu siaga untuk mencari pelaku pengedar narkoba, mengingat jumlah Polisi dan TNI serta teknologi di negara Indonesia cukup mendukung, maka pencarian terhadap pelaku pengedar narkoba bukanlah hal yang sulit. Selain itu penegakan hukum juga harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Apabila kita lihat, sosialisasi tentang narkoba sudah banyak dilakukan dimana-mana, bahkan disekolah juga sudah dilakukan. Pasal tentang narkoba juga sudah dibuat. Razia sudah dilakukan dimana-mana. Lalu mengapa masih ada remaja yang mengkonsumsi narkoba?

Kondisi ini jelas membuktikan kurang seriusnya negara dan aparat penegak hukum dalam masalah narkoba ini. Belum adanya sistem dan pengaturan yang jelas didalam sebuah negara mengenai pentingnya menjaga diri remaja dari narkoba menyebabkan negara kurang serius menangani masalah ini, padahal seorang pemuda adalah masa depan bagi sebuah bangsa yang harus dijaga dan dipelihara.

Negara saat ini belum memahami hakikat menjaga dan memelihara diri seorang individu, maka wajar apabila narkoba ditemui dimana-mana, kasus narkoba seperti tidak pernah ada akhirnya, dan pemuda terjerumus kedalam narkoba.

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa