‘Nalar’ Peradaban

 

IMG-20160727-WA0074

Oleh

Saifuddin Al Mughniy

Dalam terma kehidupan manusia yang bergerak dari titik nol menuju satu fase kehidupan adalah bentuk pergeseran masa, waktu, pikiran, nilai, etika, dalam frame dinamika. Dan satupun nilai benda yang menghindar darinya, kaum “sufi” secara ekstrim menyebutnya hukum Tuhan yang tak berhukum pada dirinya, karena ada pemutlakan atasnya.

Nalar yang tak menjangkau karena terhijab oleh kekuasaan yang tertinggi (arsy), dan peradaban adalah satu tatanan yang dibentuk dan diartikulasikan dalam tata pergaulan antar manusia (ubermensch).

Pritchof Capra sebagai penulis titik balik peradaban, begitu gamblang mengutarakan masalah teori perkembangan ilmu pengetahuan sampai kepada bagaimana ilmu fisika dan matematika sebagai induk ilmu-ilmu pasti tak luput dari analisis pengetahuannya. Perkembangan sains dan pengetahuan begitu diukur dengan daya analisis, uji laboratorium, tesa dan antitesa, rasionalitas serta logika yang menjadikannya karya ini begitu luar biasa. dan sampai akhirnya karya ini menjadi bacaan bagi ilmuwan guna melakukan upaya kilas balik terhadap perkembangan sains dan pengetahuan. Ya, titik balik peradaban yang beliau maksudkan.

Pada fase perkembangan ilmu pengetahuan dan sejalan dengan tingkat populasi manusia yang mencapai 6 milyar yang mendiami planet bumi ini. Tentu secara akal sehat dengan jumlah sebanyak itu bukanlah jumlah yang sedikit. Pertautan dan sirkulasi udara tentu juga sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan manusia.

Eko sistem lingkungan hidup tentu juga sangat berpengaruh. Kebakaran hutan, ekploitasi sumber daya alam yang berlebihan, illegal mining, illegal loging, serta pembalakan lainnya secara praksis akan memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan dunia dan lingkungannya.

Eko sistem yang rusak tanpa naluri sangat dirasakan sejak beberapa tahun belakangan ini. Kalau lingkungan yang rusak maka ada upaya untuk melakukan reboisasi atau reklamasi. Tetapi persoalannya adalah, krisis mentalitas kemanusiaan menimbulkan efek negatif yang begitu besar. Kebakaran hutan yang telah merugikan negara dan masyarakat. Banjir yang meresahkan setiap masyarakat.

Ilegal loging dan illegal mining yang menjadikan kerusakan lingkungan, penyebab utamanya adalah keserakahan yang dipengaruhi hasrat kapitalisme yang berujung pada krisis kemanusiaan.

Penguasaan. ruang elitisme yang menjadikan Freeport sebagai ajang pertarungan nyaris membuat kegaduhan politik di negeri ini. Perang terbuka ini sesungguhnya adalah penampakan terhadap jatuhnya martabat kebudayaan bangsa di titik klimaks. Nyaris bukan ?

TRAGEDI kemanusiaan.

Dalam 20 tahun terakhir ini tragedi demi tragedi terjadi. Isu terorisme yang kian tak kunjung selesai. Mulai bom Bali, Poso, Makassar, Double J. Marriot, Sarinah, adalah bukti kemerosotan nilai kemanusiaan. Teror terjadi dimana-mana.

Itu membuktikan bahwa kehidupan eko sistem kemanusiaan sudah tidak lagi stabil dan bahkan tidak seimbang. Hukum ketidakseimbangan ini menjadikan manusia berada pada pola kehidupan yang serba mengkhawatirkan, mencemaskan, mencekam, dan praktis tidak lagi bisa memberikan rasa aman terhadap kebahagiaan ummat manusia.  ujung-ujungnya tuduhan beralamat lagi kepada kelompok Islam.

Sesunggguhnya Islam tidak sedikitpun mengajarkan tentang kekerasan apalagi teror. Islam yang secara etimologi mengandung makna Aslamah yang berarti keselamatan, jalan lurus, dan secara terminologi Islam itu merupakan agama yang bersifat Rahmatan Lil Alamin yang berarti keselamaan bagi ummat manusia tak terkecuali.

Perang yang terjadi dimana-mana, seperti di Israel, Palestina, Irak, Suriah dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Sesungguhnya perang itu tercipta karena keserakahan manusia secara politis, yang konon memperebutkan kilang minyak dan harta gono gini lainnya. Kejatuhan beberapa pemimpin timur tengah adalah fenomena keruntuhan kepemimpinan Islam.

Peran-peran politik internasional ikut mewarnai didalamnya. Amerika Serikat sebagai induk sekutu telah melakukan propaganda politik yang luar biasa dan mampu menggulingkan beberapa presiden di negeri 1001 malam itu. Hegemoni kekuasaan pemimin negara Islam praktis ambruk karena kekejaman rezim uni eropa yang menguasai pangkalan minyak terbesar di dunia Arab. Bukan tidak mungkin hal ini bisa dipertahankan bila Islam menjadi kekuatan yang mumpuni.

Gerakan ISIS (Islam State Irak Syuria) yang muncul disela gerakan kejatuhan para pemimin Arab adalah sebuah gerakan sempalan yang telah menyita perhatian dunia.  Sekian banyak pertanyaan yang muncul, siapa dan apa itu ISIS, sekian banyak pula isu yang berkembang bahwa gerakan ISIS ini juga akan masuk merangsek ke Indonesia.

Apakah tragedi bom Sarinah beberapa hari yang lalu itu adalah jawaban atas gerakan ISIS di Indonesia, semuanya masih tanda tanya dan sementara dalam penyelidikan oleh aparat penegak hukum.

Tragedi kemanusiaan yang melanda dunia saat ini adalah sebuah fenomena kemunduran kemanusiaan. Saling membunh satu sama lain dalam sejarah panjang kemanusiaan jauh sebelum manusia menginjakkan kaki dimuka bumi ini telah terjadi hal demikian.

Sehingga tidak heran kalau kemudian fenomena ini digambarkan dalam Al-quran Surah Al Baqarah (Q.S 2 : 30) yang berbunyi,  dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi, mereka berkata, apakah Engkau ingin menjadikan orang menumpahkan darah disana, sedang kami bertasbih, memujiMU, mencusikan namaMU, Dia berfirman, sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Ayat ini telah mengingatkan kita semua bahwa manusia akan hadir untuk menumpahkan darah satu sama lainnya. Saat ini dialog Allah SWT dengan malaikat nampak dipermukaan. Subhanallah.

Sejarah peradaban manusia sepertinya kembali ketitik nol sebagai bentuk revolusi, terjadinya hukum causalitas atau causa prima (hukum sebab akibat). Dalam pengertian bahwa kejadian, fenomena, fakta adalah muncu lkarena adanya sebab yang melatar belakanginya.

Ia tidak muncul begitu saja secara alamiah atau melalui proses evolusi. Namun secara teori akademik, bahwa sesuatu itu terjadi karena adanya perbenturan atau pergesekan dua variabel yang dependen dengan independen (faktor berpengaruh dan tidak berpengaruh). Sebuah realitas tentu dibentuk oleh dua variabel itu tadi.

interdependensi satu variabel dengan variabel yang lainnya saling memberikan pengaruh sehingga akan muncul hipotesanya, bahwa sesuatu A akan terjadi bila B akan memberikan pengaruh terhadapnya, demikian pula sebaliknya.

Nah, kejatuhan moral kemanusiaan yang terjadi akibat karena disparitas sosial yang tajam (kesenjangan sosial ). Peran negara yang melemah, yang tidak membuka ruang secara lebar terhadap publik. Tingkat ekonomi misalnya yang rendah, perlakuan hukum yang tidak adil, kekejaman politik, sandang dan pangan yang tidak memadai,  kesenjangan sosial yang tajam serta disparitas yang memisahkan antara kaum berpunya dengan fakir.

Pertanyaannya adalah dimana peran negara dalam proses distribusi kekayaan sumber daya alam sebagaimana yang diatur dalam UUD 1945 pada pasal 33 yang berbunyi bahwa kekayaan sumber daya laut, udara dan seisinya dikuasai oleh negara dan diperuntukkan untuk kepentingan rakayt. Tetapi faktanya tidak demikian justru kekayaan itu hanya dikuasai oleh segelintir orang demi kepentingan bisnis pribadi dan kelompok.

Seperti tali temali yang sulit terpisahkan, sehingga benarlah kiranya kalau saya mengatakan dibeberapa tulisan sebelumnya bahwa sistem pemerintahan hari ini berada dililitan liingkar oligharkhis, dan ini yang saya sebut sebagai fase kemunduran.

Oleh karena itu, kita bisa saja sepakat dengan Karl Marx yang mengungkapkan bahwa negara itu tak lebih dari mesin penindas. Keadaan negara yang membuat pernyataan tersebut lahir, bukan tanpa asumsi tetapi sangat diperkuat oleh adanya realitas yang sulit dibantah saat itu, faktanya adalah ketika kaum proletariat di eksploitasi oleh kaum borjuasi, diperlakukan secara tidak manusiawi, mereka hanya dipekerjakan tetapi upahnya tidak cukup membeli sebungkus nasi untuk mempertahankan hidupnya.

Tetapi ada kesan menarik yang tersirat dalam fenomena tersebut adalah ketika kaum proletariat melakukan konsolidasi politik untuk melawan hegemoni kaum borjuasi maka meledaklah Revolusi Bolsevik yang menggulingkan kelompok borjuasi yang di back up oleh negara dan dewan gereja.

Fenomena ini tentunya sangat sulit untuk di introdusir kedalam frame politik nasional, sebab bangsa Indonesia tentu memiliki karakter budaya gerakan yang tidak sama dengan kaum proletar. Gaya hidup misalnya, telah menyulap kehidupan kaum gerakan untuk tampil sebagai kaum elitisme, berpenampilan manusia metro seksual, generasi gadget, smart phone, serta perilaku budaya lainnya yang tidak pernah dilahirkan dari rahim budaya ketimuran.

Menurut Dr. Kuntowidjoyo inilah yang disebut sebagai perang budaya tanding, dimana posisi budaya dihadapkan pada situasi yang berbeda dengan kultur yang ada sehingga melebur menjadi budaya yang tidak memiliki karakter tersendiri sebagaimana pemahaman kita tentang budaya.

Bahkan nyaris serangan kapitalisme lewat Mall atau tempat berbelanja kaum borjuasi kini berhasil menyedot prilaku manusia menjadi prilaku hedonis, oportunis dan konsumtif. Lahir sebuah budaya ketidak-sadaran yang menyebabkan budaya lokal ambruk dalam genggaman heroisme budaya luar.

Ini sebuah fakta bahwa titik balik peradaban semakin nampak dipermukaan sebagai hasil dari sebuah proses evolusi sosial. Budaya lokal semakin tergerus oleh waktu dan tuntutan manusia akan sebuah perubahan. Apakah ini suatu gerakan metamorfosis yang menggiring manusia pada level yang terendah.

Sementara manusia dalam pandangan agama dan filsafat ilmu pengetahuan menegaskan bahwa manusia itu adalah mahluk sosial yang memiliki keistimewaan di banding mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Sebab manusia memiliki potensi aqliyah (akal pikiran) yang tidak dapat terbatasi oleh ruang dan waktu. Sebab titik balik peradaban adalah kilas balik dari kejumudan manusia terhadap lingkungannya.

Dan sejatinya, nalar peradaban akan membentuk satu “inferio” tata kehidupan manusia yang dibentuk oleh interaksi untuk membangun budayanya, sebagaimana bangsa-bangsa skandinavia yang terusik dinegaranya karena perang lalu membentuk comunity dengan power identity.

Sehingga ia bergerak dan maju sebagai satu bangsa yang ber-keadaban. Sehingga nalar peradaban begitu urgen untuk mendaras ulang kebudayaan yang hilang untuk penemuan peradaban yang humanis dan egaliter.,**

Wassalam, moga bermanfaat..

Saifuddin al mughniy

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa