MPII ; Wacana Palembang Darussalam Sebagai Tawaran 

13645182_1224636744234545_8672425613815475864_n

Klikaktifis.com – Memasuki era post Islamisme, suara pemuda adalah instrumen penting dalam memecahkan berbagai kompleksitas problem keummatan.

Dalam beberapa tahun kedepan Indonesia akan memasuki prosesi penting yang dikenal dengan istilah bonus demografi. Usia produktif akan mencapai titik puncaknya diperkirakan pada tahun 2025-2030.

Sinyal ini ditangkap oleh MPII Kota Palembang yang memandang bahwa pemuda terdidik dalam hal ini pelajar, mahasiswa dan para sarjana merupakan subjek yang strategis yang perlu dibangun dalam mereview wacana pembangunan berikut dengan kajian dan rumusanya.

Dipelataran gedung Yayasan Pembinaan Umat, Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) dan HMI Kota Palembang  menggelar  Diskusi Publik dengan mengangkat tema, Konsolidasi Pemuda Islam; Menuju Palembang Darussalam, Minggu (24/7/2016)

Acara ini dihadiri oleh elemen organisasi pemuda islam, IPNU, GP ANSROR, IMM, IPM, PMII, MPII Sumsel, PII dan HMI.

Ketua Umum MPII Kota Palembang, Muhammad Haekal Al Haffafah S.Sos dalam keterangannya Rabu (27/7) menyampaikan, bicara soal kemajuan bangsa dan masadepan agama tentu tidak bisa lepas dari peran dan kualitas pemuda.

Mau melihat masa depan bangsa dua puluh tahun kedepan, lihat saja kehidupan pemuda didalamnya.

“Dunia inikan bicara soal pengaruh, bicara soal idiologi, bicara soal hegemoni, siapa yang mempengaruhi siapa, tentulah untuk membangun struktur masyarakat yang baik. Perlu didorong oleh kerja kelembagaan dan elemen organisasi didalamnya”, ungkapnya.

Barulah nanti tambah Haekal, kita bisa bicara soal tata nilai agar paling tidak Palembang Darussalam sebagai pijakan tema awal dalam membangun desaign strategy guna menjaga dan mengawal prosesi kehidupan pemuda Palembang, agar tertutup kemungkinan untuk muncul istilah  A lost generation atau generasi yang hilang” tuturnya.

Menurut dia, sulit rasanya menjelaskan sejarah Indonesia tanpa melibatkan Islam didalamnya, sehingga akan menjadi sangat mungkin untuk menggalang konsolidasi organisasi pemuda islam yang sudah punya kekuatan idiologis.

“Generasi muda butuh pegangan, butuh leadership, butuk kebiasaan positif untuk dijadikan model sebagai gaya hidup, tentu ikhtiar membangun kebersamaan lewat tema konsolidasi adalah corong untuk memecahkan kebuntuan interaksi antar organisasi yang hari ini dirasa kurang produktif dalam mengoprasikan kerja-kerja sosial keorganisasian” tambah Haikal.

Dalam diskusi itu, Hadir sebagai narasumber Drs. Umar Husain Dewan Pakar ICMI Sumsel, Hernoe Roesprijadji Dewan Pakar MPII Sumsel, KH Amri Siregar S.Ag MAg Ketua PW NU Sumsel, Abdul Malik S.Hi Ketua MPII Sumsel, Bambang Yusantra S.IP,  mantan aktivis PII Sumsel.

Seorang penanya dalam diskusi tersebut menyampaikan tanggapan, “Usaha konsolidasi pernah dan bahkan sering kami lakukan dikampus bersama organisasi lain tapi ya, seperti biasa menguap begitu saja tidak ada tidak lanjut hanya sekedar wacana saja”.

Menanggapi hal tersebut mantan aktivis PII Sumsel, Bambang Yusantara S.IP mengatakan, perlu keyakinan untuk membangun setiap usaha, karena keyakinan itu berpengaruh pada usaha, usaha berpengaruh pada potensi yang digunakan. Potensi berpengaruh pada hasil dan hasil itu akan membentuk keyakinan baru

“Kalau keyakinan kecil, maka kita ogah-ogahan, kerja tidak optimal dan hasilnya gagal. Kegagalan itu akan menjadi agama baru yang akan menjadi believe kita seumur hidup, pun begitu juga sebaliknya” Ungkap mantan gubernur mahasiswa fisip ini.

Senada disampaikan oleh Ketua MPII Sumsel Abdul Malik, S.HI, mencari persamaan adalah kata kunci untuk membangun kerja kolektif antar organisasi.

“Inilah mimpi kami untuk membangun kebersamaan lintas organisasi islam sehingga tema besar Palembang Darussalam adalah harapan untuk membawa nilai-nilai islam sebagai rahmat bagi semesta alam” Pungkasnya.****

 

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa