Modal Cekak, Elektabilitas Jokowi Hanya 32 Persen

IMG-20160721-WA0060
Foto : ilustrasi/net

Klikaktifis.com – Jika Pilpres digelar hari ini siapa yang akan menang? Lembaga Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) punya jawabannya. Dari survei yang mereka lakukan, elektabilitas Presiden Jokowi masih berada di posisi yang tertinggi dibanding kandidat yang lain, dengan modal 32 persen.

Kemarin seperti di lansir rmol.co, SRMC merlilis hasil survei terbarunya di Kantor SMRC, Menteng, Jakarta Pusat. Tajuk surveinya adalah “Kinerja Pemerintah Dua Tahun Pilpres”.

Yang diukur adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Jokowi jelang dua tahun pemerintahannya. Survei dilakukan pada 22-28 Juni 2016 drengan menanyai 1.220 responden yang dipilih dengan metode random. Survei memiliki margin 3,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Apa hasilnya? Direktur SMRC Sirojudin Abbas menyatakan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi terus meningkat. Sebanyak 67 persen menyatakan puas. Ada pun 30 persen lainnya mengaku tidak puas.

Angka ini terus naik dari Juni 2015. Saat itu, masyarakat yang puas dengan kinerja Jokowi hanya 41 persen. “Masyarakat umumnya puas dengan kinerja Jokowi dalam membangun infrastruktur, menciptakan layanan kesehatan dan pendidikan yang terjangkau, serta menciptakan rasa keamanan,” kata Sirojudin.

Kinerja Jokowi dianggap kurang memuaskan dalam meningkatkan kesejahteraan, memenuhi harga kebutuhan pokok yang terjangkau, menyediakan lapangan kerja, hingga pemberantasan korupsi.

Nah, rupanya tingkat kepuasan kinerja Jokowi ini berbanding lurus dengan tingkat elektabilias Jokowi. Jika pilpres digelar saat ini, elektabilitas Jokowi berada di posisi teratas.

Elektabilitas Jokowi 32,4 persen, naik dari sebelumnya 31,1 persen pada Maret lalu. Di peringkat kedua ada Prabowo Subianto dengan elektabilitas 9,4 persen, turun dari sebelumnya 12,8 persen.

“Nama-nama lain di bawah tiga persen,” ujar Sirojudin. Nama-nama tokoh yang masuk dalam survei antara lain, SBY (2,6 persen), Hary Tanoe (1,9 persen), Basuki Tjahaja Purnama (1,4 persen), Tri Rismaharini, dan Ridwan Kamil (0,6 dan 0,4 persen).

Sirojudin mengatakan, tingginya elektabilitas Jokowi tak lepas dari kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi. “Makin tinggi tingkat kepuasan publik, makin tinggi elektabilitas Jokowi,” kata Sirojudin.

Sirojudin menjabarkan, dari 67 persen masyarakat yang puas dengan kinerja Jokowi, 57 persennya menyatakan akan memilih Jokowi. Sementara dari 30 persen masyarakat yang tidak puas dengan kinerja Jokowi, hanya 16 persennya yang memilih eks Gubernur DKI itu. Sementara 30 persen lainnya memilih Prabowo. “Kalau trennya positif sampai 2019, kita memprediksi Jokowi sulit dikalahkan,” ungkapnya.

Politikus PDIP Maruarar Sirait girang dengan hasil survei tersebut. Dia bilang, masyarakat mulai memilih calon berdasarkan kinerjanya. “Kalau kinerja jadi ukuran, bangsa ini akan mempunyai harapan jadi bangsa yang maju.

Saya harap ini yang didorong. Bukan primordial, apa agama suku etnisnya, tapi bagaimana integritas dan kinerjanya,” kata Maruarar, saat menjadi pembicara paparan hasil survei.

Pengamat politik dari Indobarometer Burhanudin Muhtadi mengatakan, posisi Presiden Jokowi saat ini memang sangat kuat karena mendapat legitimasi mayoritas rakyat. Karena itu, akan sangat sulit menggulingkan Jokowi saat ini.

Burhanuddin mengatakan, semakin ke sini Jokowi makin mampu menkonsolidasikan kekuatannya. Berbeda dengan masa-masa di awal pemerintahan. Saat itu, Jokowi terlihat masih gagap mengonsolidasikan kekuatan politik yang ada.

Akibatnya, dalam menyusun kabinet, memilih Kapolri, hingga mengambil kebijakan strategis, Jokowi terjebak dengan kepentingan parpol pendukungnya dan publik tidak puas dengan itu. “Akibatnya, baru 3 bulan pemerintahan berjalan, masa bulan madunya sudah berakhir,” kata Burhan.

Namun, lanjut Burhan, saat ini Jokowi sudah punya pengalaman. Setelah PPP, PAN, dan Golkar merapat menjadi partai pendukung pemerintah, Jokowi lebih bisa mengonsolidasikan kekuatan politiknya.

Jokowi bisa mengambil pilihan dengan bebas. Hal ini terlihat dari penolakan Jokowi terhadap revisi UU KPK dan penunjukan Tito Karnavian sebagai Kapolri.

Apa kekurangan dari Jokowi? Burhanuddin memandang, gaya bahasa Jokowi pada tahun lalu yang terlalu memberi angin surga justru menyusahkan dirinya sendiri.

Contohnya saat mengatakan akan menjungkir balikkan harga saat Lebaran dan meroketkan perekonomian. “Jokowi sebagai presiden harus diplomatis dalam memberikan statement. Jangan buat dirinya susah sendiri,” ujarnya.

Ia berharap, ke depan, mantan gubernur DKI Jakarta itu bisa mengeluarkan pernyataan yang terukur dan tampil lebih presidensial di hadapan publik.

“Kalau dia bisa melakukan hal itu, tahun 2019 Jokowi nggak hanya PDIP yang akan menjagokan dia sebagai presiden,” pungkasnya.****

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa