Miskonsepsi “Kewajiban” Menutup Aurat Di Tengah Liberalisme

images (5)Ist/net

Oleh:

Ulfiatul Khomariah

(Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UNEJ, Pemerhati Sosial dan Politik)

Gempar! Rina Nose yang selama ini dipuji-puji oleh netizen karena keputusannya menggunakan hijab, kini berubah menjadi perbincangan negatif di tengah masyarakat.

Pasalnya, buka-tutup aurat bukan hanya terjadi kepada artis Rina Nose semata, melainkan banyak artis lainnya yang tiba-tiba “kepengin” berhijab, dan tiba-tiba pula “melepas” hijab.

Alasannya pun bermacam-macam, karena ada masalah keluarga, takut kalau pakai hijab gak bisa naik daun, takut gak ada orderan nge-acting lagi kalau memakai hijab, dan banyak alasan lainnya yang tentunya alasan itu tidak bisa diterima oleh syariat.

Karena mau alasan seabrek apapun yang namanya menutup aurat itu hukumnya “wajib” bagi umat Islam. Faktanya, buka-tutup aurat bukan hanya terjadi di kalangan artis semata, melainkan juga terjadi di semua elemen generasi jaman ‘now’.

Saat pergi ke masjid memakai hijab, setelah keluar dari masjid buka hijab. Saat bulan ramadhan berbondong-bondong menutup aurat, saat ramadhan pergi berganti membuka aurat. Saat tampil di acara Islami memakai hijab, saat tampil di acara umum melepas hijab.

Saat di dalam pesantren menutup aurat, setelah keluar dari pesantren buka aurat, dan masih banyak realita lainnya yang bisa kita indera di tengah masyarakat.
Melihat realita yang demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa ternyata ada sebuah miskonsepsi di kalangan masyarakat mengenai kewajiban menutup aurat.

Bagaimana tidak, bahkan ulama terkenal yang dirinya dijadikan sebagai rujukan oleh masyarakat ternyata juga salah paham makna menutup aurat. Quraish Shihab misalnya mengatakan “saya beranggapan jilbab baik. Tetapi jangan paksakan orang pakai jilbab karena ada ulama yang berpendapat bahwa jilbab tidak wajib.

Ada ulama yang berkata wajib menutup aurat. Sedangkan aurat diperselisihkan oleh ulama apa itu aurat”. Alhasil, banyak orang yang membuka aurat dengan dalih “gapapa gak berhijab, yang penting hatinya baik”, atau “mending gak berhijab, daripada berhijab tapi hatinya busuk”, dll.

Tentunya problematika buka-tutup aurat ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan tempat tinggal. Di Indonesia misalnya, negeri yang terkenal dengan negeri paling toleran ini mensuasanakan para muslimah untuk buka-tutup aurat.

Dengan konsep liberal yang dianut di negeri ini menjadikan para muslimah tidak takut-takut lagi untuk buka-tutup aurat, karena ide tersebut meniscayakan kebebasan berekspresi dan berperilaku. Kebebasan seperti ini muncul akibat penerapan ideologi sekuler yang memisahkan antara agama dan kehidupan.

Hal ini dilegitimasi juga oleh ide HAM, dan dilestarikan oleh negara demokrasi.
Maka bukan sebuah hal yang baru lagi jika melihat penduduk Indonesia sering melakukan pelanggaran terhadap syariah.

Bukan sebuah hal yang tabu lagi jika ada yang mengaku muslimah, tetapi enggan menutup aurat, karena ide HAM mendorong seorang muslimah bebas melakukan hal apapun meski melenceng dari syariah.

Oleh sebab itu, selama konsep liberal masih bertengger di dalam sistem pemerintahan, maka sudah dipastikan berbagai pelanggaran yang lainnya pun akan menyusul. Bayangkan, hanya karena tidak menutup aurat, seorang muslimah bisa dilecehkan, pelecehan seksual bisa seperti pemerkosaan terjadi dimana-mana, dll.

Agar tidak terjadi miskonsepsi mengenai kewajiban menutup aurat, mari kita telaah lebih mendalam apa makna menutup aurat yang sebenarnya dalam Islam.

Berjilbab/Menutup Aurat Hukumnya “Wajib”
Jilbab pada dasarnya bukanlah hanya sekedar mode sesaat yang hanya dikenakan saat sedang trend saja dan dilepas kembali sesudah trend tersebut berlalu. Jilbab merupakan “kewajiban” dari semua wanita muslim yang sudah baliqh.

Jilbab menjadi identitas dari seorang wanita Islam dan mahkota yang harus dijunjung tinggi. Apabila seorang wanita muslim sudah mengambil keputusan untuk berjilbab, maka segala konsekuensi yang mungkin akan muncul juga haruslah dipersiapkan serta siap menjaga sikap dan juga perilakunya.

Apabila seorang wanita muslim berjilbab melakukan hal yang kurang baik, maka yang dianggap buruk bukan hanya wanita tersebut, namun juga pada jilbab dalam Islam.

Perempuan yang sering buka-tutup aurat atau dengan kata lain mempermainkan jilbab dianggap sebagai seorang wanita yang munafik dan juga tidak mematuhi perintah yang sudah diberikan Allah SWT.

“Dan sungguh Allah telah menurukan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.

Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentu kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An-Nissa: 140).

Allah SWT sudah dengan tegas melarang umat-Nya untuk mempermainkan dan juga memperolok ayat ayat yang telah diturunkan, sehingga membuat seseorang yang mengingkari dan tidak mematuhi ayat Al-uran, maka sama saja dengan memperolok ayat Allah SWT.

Seorang perempuan yang sering buka-tutup aurat dan hanya menggunakan jilbab sebagai hiasan atau hanya sebuah pakaian yang bisa dibuka dan dipakai kapan saja, maka dianggap sebagai golongan orang munafik dan tempat bagi orang munafik adalah neraka jahanam.

Yang dimaksud dengan lepas pasang jilbab adalah seorang perempuan yang terkadang memakai jilbab keluar rumah, akan tetapi terkadang juga sering melepas jilbab saat keluar rumah atau bahkan hanya mengenakan jilbab sebagai sensasi dan bukan karena Allah.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada ALLAH, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS 24:31)

Jilbab menjadi sebuah kewajiban bagi wanita muslim dan bukan hanya pilihan, sudah siap atau alasan lainnya. Namun pada kenyataannya, masih banyak wanita muslim yang belum berjilbab dengan alasan karena merasa ingin membenahi diri terlebih dahulu.

Tetapi jika dilihat, kita tidak akan pernah mengetahui kapan waktu siap memakai jilbab tersebut, merasa dirinya sudah soleha, sudah baik dan juga sudah sempurna. Selain itu, umur setiap orang tidak akan pernah diketahui.

Maka, selama masih hidup di dunia, sudah menjadi kewajiban untuk setiap manusia memperbaiki diri terus menerus, sebab pada dasarnya manusia bukanlah makhluk yang sempurna.

Untuk semua muslimah yang dimuliakan Allah SWT, berbahagialah dengan kemuliaan berjilbab tersebut dan sudah selayaknya kita untuk menjaganya segenap tenaga dan upaya, karena hanya ini cara kita untuk mengabdikan diri pada Allah SWT, mematuhi perintah-Nya dan juga Rasul-Nya.

Sudah sepantasnya wanita muslim membekali diri dengan ilmu dan pemahaman yang cukup menyangkut perintah Allah SWT mengenai berjilbab.

Luruskan niat untuk berjihad di jalan Allah, melawan hawa nafsu sekaligus yakin jika kita sudah melakukan sesuatu yang benar dan memohon pada-Nya supaya bisa tetap menjaga hati dan tetap beristiqomah pada ketaatan-Nya.

Sebab, sekali sudah memutuskan untuk berjilbab, maka sebaiknya jangan pernah berjalan mundur dan kembali kejahiliahan diri. Tidak ada alasan apapun untuk lepas pakai jilbab sebab Allah SWT adalah segalanya.

Wallahu a’lam bish-shawwab

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa