Menjadi Sarjana Paripurna

IMG-20160727-WA0069
Zackie Elmubarrak Mahasiswa STAI Al Haudl Ketapang  Ketua Umum Hmi Cabang Ketapang Kalbar

“Mahasiswa adalah tulang punggung negara, karena mahasiswa dengan kekayaan ide dan gagasan visionernya mampu merubah peradaban yang mengedepankan intektualitas dan nilai – nilai suci.

Mahasiswa dengan bekal ilmu pengetahuan yang didapatnya baik di bangku perkuliahan maupun  dunia organisasi sosial kemasyarakatan, diharapkan mampu membawa perubahan bagi permasalahan bangsa yang semakin komplek, mahasiswa yang handal bukan lahir dari universitas/ perguruan tinggi yang terkenal dimana mereka menimba ilmu.

Tetapi mahasiswa yang handal hadir dengan berbagai macam ide gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan , ide gagasan yang segar yang hadir ditengah masyarakat sosialnya dan dijadikan pedoman. Hematnya begitulah kalimat pembuka tulisan ini”.

Bermula saat ironi dari kampus menggeliat. Tertampar dengan statement sentilan seorang filosof Yunani Socrates ketika dengan lugas menyatakan bahwa sekolah- termasuk dalam hal ini didalamnya sekolah adalah bangku kuliah, hanya menjadi sekian dari sumber lahirnya masalah masalah.

Ironisnya, statement tersebut semakin dimafhumi banyak orang, terlebih karena tak sedikit lontaran Socrates tersembul dipermukaan kenyataan sedikit demi sedikit. Di lapangan kita sering tak bisa mengelak melihat fenomena memprihatinkan ini.

Seiring ribuan wisudawan yang melangkahkan kaki keluar dari aula Unversitas mereka saat diwisuda tiap tahunnya itu seiring pula bayang deretan calon calon pengangguran intelektual menjadi ancaman didepan mata.

Fakta berbicara bahwa angka pengangguran tinggi telah melahirkan beragam problema sosial. Dan yang lebih ironis, ketika kita menyadari bahwa lulusan perguruan tinggi yang diamanatkan sebagai agent pembaharu dalam masyarakat, ternyata turut menyumbang sebagian jumlah tersebut disana.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Hal tersebut diantaranya ditengarai karena adanya banyak ketimpangan. Salah satunya adalah begitu banyak mahasiswa tak bisa “purna belajar” meski purna kuliah mereka.

Mereka dianggap gagal untuk menyelesaikan proses belajar di perguruan Tinggi. Bukan karena Indeks prestasi yang tak mencapai batas normal ataupun masa studi yang terlampau lama. Tapi karena gagal menerjemahkan proses belajar yang sesungguhnya.

Dalam teori Experiental learning, belajar dimanapun berada sejatinya adalah kegiatan yang terformulasi untuk meningatkan lima hal, yakni Knowledge, Skill, Technique, Attitude, Experience (KSTAE) (Pengetahuan, Keterampilan, Teknik, Sikap dan Pengalaman).

Belajar dalam arti yang sesungguhnya seperti yang dituturkan oleh Raka Joni bahwa belajar berarti mengubah pengetahuan dan pemahaman secara terus menerus yang dilakukan siswa melalui proses pemberian makna terhadap pengalamannya.

Pemaknaan proses belajar yang unik ini selayaknya kemudian menjadi inspirasi  bagi para mahasiswa, Bahwa ”belajar” tak cukup dengan selalu bergelut tumpukan buku. Belajar tak cukup hanya menghafal materi sebelum ujian atau kepuasan ketika mendapat nilai A di setiap quiz yang diberikan dosen.

Lebih dari itu. Seperti telah tertera dalam Exprimental Learning. Konsep Knowledge, Skill, Technique, Attitude, Experience (KSTAE) harus selayaknya menjadi target pembelajaran setiap personal mahasiswa yang menyadari akan kebutuhan atas belajar yang akan mengantarkan  menjadi sarjana paripurna nan berkualitas.

Sekedar mengandalkan nilai saja,terbukti tidaklah cukup. Harus diimbangi dengan penguasaan dan ketrampilan lain yang mumpuni, hingga dapat membantu terbentuknya pribadi pribadi yang professional dan kompeten, sebagai supporting personal power dalam dirinyaUntuk itu, idealnya mahasiswa harus benar benar mengoptimalkan masa belajarnya dikampus.

Tidak sekedar belajar untuk mengupgrade knowledge saja, namun juga  untuk memaksimalkan belajar menggali banyak pengalaman dan mengasah skill. Ibarat sebuah rumah besar, kampus sebagai rumah bernaung mahasiswa, begitu banyak menyediakan jendela yang dapat dibuka mahasiswa kapan saja dan dimana saja untuk mengasah keduanya. Salah satunya adalah lewat organisasi.

Organisasi menjadi media belajar bagi mahaiswa untuk mengasah skill dan mengembangkan khasanah pengetahuan di luar bangku kuliah. Organisasi sebagai tempat belajar untuk menuntun pencapaian tujuan bersama sama. Pencapaian tujuan akan lebih efektif dengan adanya organisasi yang baik.

Layaknya pisau,semakin diasah kan semakin tajam.dan organisasi adalah proses pengasahan itu . Sejarah membuktikan, bahwa pemimpin pemimpin besar dulunya telah mengawal kancahnya dengan menerjunkan dirinya dalam dunia organisasi atau dapat dikatakan adalah seorang aktivis oganisasi.

Mereka sudah terbiasa dengan pengaturan jadwal, manajemen waktu,dan manajemen diri, Mereka terbiasa dibenturkan pada sempitnya waktu luang, dan persoalan internal lembaga yang menuntut untuk lebih bijak dalam menyikapi sebuah permasalahan Orang orang yang terbiasa berorganisasi juga memiliki salah satu kelebihan yakni memiliki lebih luas jaringan.

Dimana dengan adanya  networking yang luas akan mempermudah membuka kesempatan untuk dapat membangun relasi dari berbagai pihak. Selain itu kepekaan dengan problema dan lingkungan sekitar menjadi kian terasah.

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa