Mengenang Peristiwa Tanjung Priok Berdarah

images-6

Catatan Senin Siang

Hari ini 12 September 1984

Oleh: Muslim Arbi, Presidium FPMI, Front Perjuangan Muslimin Indonesia

Hari ini 12 September 1984 lalu, mengenang Peristiwa Tanjung Priok Berdarah. Peristiwa di mana Sejumlah Aktifis dan Tokoh pergerakan Amir Biki harus menjadi korban bersimbah darah dan lalu Tewas sebagai Syuhada. Peristiwa Tanjung Priok adalah Tonggak Sejarah Bangsa dalam proses Demokrasi. Sejarah mengoreksi Orde Baru dalam Azas Tunggal. Peristiwa Tanjung Priok menelan banyak korban yg sampai hari ini masih misteri.

Hari ini pula sejumlah Aktifis akan berkumpul di bawah Koordinator Mukhtar Beni Biki, adik kandung Almarhum Amir Biki. Sebuah refleksi Sejarah patuh di lakukan untuk mengenang Peristiwa tersebut. Sesungguhnya Peristiwa Tanjung Priok adalah momentum awal Demokratitasi Negeri ini.

Karena suara para Aktifis yg di Pimpinan oleh Amir Biki, (Alm), Bang Kadir Jailani, AM Fatwa, Salim Kadar (Alm), M Natsir (Kecil), Yayan Hendrayana, Syarifin Maloko, Toni Ardi dan sejumlah aktifis lain nya yg tidak di sebutkan satu per persatu.

Tonggak Demokratitasi Bangsa ini di era Orde Baru yg despotik sangat Mahal Harga nya karena di Bayar dengan Nyawa Para Syuhada Tanjung Priok.

Selain tokoh petisi 50 Bang Ali Sadikin, AM Fatwa dkk, yang memenjarakan sejumlah Tokoh dan Aktifis seperti Mayjen Hartono, atau mas Ton, juga Ir HM Sanusi (Alm), Erlangga (Alm) juga ada Fordem, Forum Demokrasi yg di gagal oleh Abdurahman Wahid atau Gus Dur, juga ada Peristiwa 27 Juli, yg juga merupakan rangkaian proses menuju Demokratitasi Politik dan Ekonomi.

Sejumlah Tokoh dalam Peristiwa Tanjung Priok juga mendekam di dalam Tahanan Orde Baru seperti, Kang J, Kadir Jailani, AM Fatwa, Toni Ardi, Erlangga (dalam Kasus Buku Putih Peristiwa Tanjung Priok), HM Sanusi, Syarifin Maloko, Syarifuddin Rambe, Husein Sape dll.

Selain itu ada Saksi Hidup, Yusron dlm Peristiwa 12 September itu. Juga dalam Hal ini,Tokoh yg meninggal dalam Tahanan Orde Baru adalah Salim Kadar.

Maka, oleh karena nya Peringatan 12 September tahun, memiliki beberapa makna penting.

Pertama, Peristiwa Tanjung Priok adalah Tonggak Sejarah Awal Demokratisasi, sehingga Peristiwa ini perlu di peringati dalam skala Nasional, atau bermakna Kasus Priok adalah Kasus Nasional bukan Lokal Jakarta.

Kedua, meneguhkan bahwa Bicara Demokratisasi adalah siapa Mayoritas Pejuang dan Pemilik Negeri ini. Tidak bisa Demokratisasi di tafsirkan sempit saja. Bahwa Mayoritas Negeri ini adalah Kaum Muslim.

Ketiga, terkait dengan Hajatan apa pun atas situasi Politik dan Ekonomi, maka Kaum Muslim tidak bisa terpinggirkan karena Sejarah Bangsa ini lahir dari Darah Syuhada selain ada pernah Tokoh yg lain.

Keempat, soal kepentingan DKI dalam Waktu dekat Kaum Muslim DKI Wajib pilih Pemimpin Muslim sehingga tidak membawa bencana bagi Ibu Kota Negara.

Kelima, DKI tidak boleh di Pimpinan oleh penguasa zalim yg arrogan, bringas, tidak manusia dan memecah belah keutuhan Bangsa.

Sebelum menutup catatan ini, Mari Mengiringi Doa dan Surat Alfatihah bagi para mujahid yg telah menjadi Syuhada terutama Para Syuhada Peristiwa Tanjung Priok.

Surabaya, 12 September 2016.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa