Mengapa Pada Ribut ‘FDS

imagesIst/net

Oleh

Fadhilah U. Hanifah

(Women Movement Institute)

Membicarakan pendidikan di Indonesia tiada habisnya. Selama ini belum ada bentuk baku model dan sistem pendidikan. Terlalu dinamis dan lebih menyontek negara lain.

Belum mampu memiliki ciri khas keindonesiaan. Yang lebih ramai saat ini yakni FDS (Full Day School). Sejak kemunculannya pun membuat polemik di kalangan pendidik dan orang tua. Pasalnya, selama ini siswa senantiasa menjadi kelinci percobaan.

Hal yang menarik untuk dikritisi yakni mengapa muncul demo dan opini penolakan FDS yang dilakukan secara massif dan terstruktur?

Pertama, dilihat dari sisi politis kemunculan ini terlihat reaksioner. Tak biasanya yang meributkan FDS mengancam akan melakukan demo besar-besaran dan mengeluarkan surat edaran penolakan.

Kedua, model FDS seperti apa yang diinginkan oleh pemerintah. Sekadar memangkas sekolah menjadi lima hari? Anak diminta sekolah sehari delapan jam?

Ataukah memang benar untuk menanamkan karakter yang lebih kuat? Selama ini pun, yang terlihat FDS lebih pada proyeksi dalam mengejar label ‘internasional’.

Ketiga, ada yang mengatakan FDS menghasilakan generasi radikal dan memangkas waktu belajar di Madrasah Diniyyah. Mengapa isu radikalisme dibawa ke FDS? Dapatkah diatur waktu agar Madin dan Sekolah tetap berjalan beriringan.

Keempat, ini merupakan penekanan kepada pemerintah atas sentimen kepemilihan pejabat di lingkaran kekuasaan. Pressure group ada biasanya menuntut hak atau janji yang belum diberikan oleh penguasa.

Tak Harus Ribut

Agar FDS tidak menjadi keributan nasional dan memecah belah elemen umat karena kepentingan. Maka perlu disikapi dengan bijak dengan merujuk pada model sistem pendidikan Islam yang sesungguhnya. Serta memandang pendidikan dari sisi keilahian dan kemanusiaan.

Jujur, Pondok Pesantren yang menjadi ikon pendidikan Islam di Indonesia telah lama berdiri. Faktanya banyak ulama yang lahir dan menjadi dai’-dai’ di beragam level.

Sehingga ilmu dan Islam tersebar ke seluruh nusantara dan dunia. Model pendidikan pondok pesantren memang tak menyebutkan FDS, tapi praktiknya menuntut ilmu dimulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Ada pula pendidikan modern saat ini digabung dengan boarding school. Sekolah dengan konsep pemondokan dan penambahan ketrampilan serta pemantauan untuk mengintegrasikan harapan dan visi misi sekolah.

Unggul Tak Harus FDS

Menilai kualitas pendidikan harus dilihat dari dua hal: sistem pendidikan dan landasan pendidikan. Sistem pendidikan Islam telah memperlihatkan keunggulannya dibanding sistem lainnya. Hal ini sudah terbukti semenjak masa rasulullah hingga masa keemasan Islam pada masa kekhalifahan Islam.

Sejarah emas telah mencatatkannya bahwa kecerdasan umat Islam dan penemuannya telah memajukan dan memodernkan dunia. Ilmu begitu berkah untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Sistem pendidikan tidak memisahkan agama dengan kehidupan. Hal ini berbeda dengan sistem yang ada saat ini. Sekolah agama khusus agama. Sekolah umum khusus pelajaran umum.

Ada memang penggabungan dua sekolah itu. Landasan dalam pendidikan dalam Islam yakni aqidah. Sehingga belajar apa pun dilandasi keimanan dan ketaqwaan. Tujuannya pun jelas diharapkan menjadi pribadi islam yang tangguh. Cerdas pemikirannya. Bagus akhlak dan budi pekertinya.

Selama FDS diributkan dan tidak dikaitkan dengan sistem dan landasan pendidikan Islam. Bisa jadi ide itu sia-sia dan akhirnya capek, lalu berganti lagi, buat model baru lagi.

Ujungnya anak didik tak akan jelas ke depan menjadi apa dan seperti apa. Karena itu daripada ribut FDS, mendingan kaji sistem pendidikan Islam yang sahih dan bersama mewujudkannya untuk generasi unggul dan beradab sesuai Islam. Yuk ngopi dulu baru diskusi!

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa