Meneropong Khilafah

images (18)
Ist/net

(Kajian Kritis pada Pemikiran Adopsi & Buku HT)

Oleh Amil Al-Rahman

(Aliansi Peduli Ulama dan Ormas)

Saat Khilafah di ujung tanduk, berdiri dua kekuasaan di Turki, yakni kekuasaan Khilafah di Instanbul dan kekuasaan Kebangsaan di Ankara.

Setelah pasukan khalifah dipukul mundur oleh pasukan Musthafa, maka otomatis kekuatan Musthafa berada di puncak kegemilangan. Dalam kesempatan seperti itu, Musthafa Kemal Atarturk tidak berani gegabah untuk langsung menghapus kekuasaan Khilafah.

Hal itu karena seluruh pasukan dan rakyat yang ada di balik kekuasaan kebangsaan masih mencintai Khilafah, dan berharap Musthafa yang akan menggantikan Khalifah Wahiduddin bukan malah menghapus khilafah.

Oleh karenanya, Musthafa melakukan 3 langkah manuver politik; pisahkan kekhilafahan dari kekuasaan, rubah kekuasaan menjadi republik dengan dirinya sebagai presiden pertamanya, hapus khilafah dan usir khalifah beserta keluarganya.

Pada awalnya, Musthafa mengambil jalan demokrasi untuk melakukan manuver tersebut. Ia mengusulkan pemisahan kekhilafahan dari kekuasaan kepada anggota dewan. Namun sebagian besar anggota dewan enggan menerima usulan tersebut.

Ketika usulan tersebut dibawa ke dalam majelis komite perundang-undangan dimana setiap anggota bisa memberikan pandangannya, usulan tersebut ditolak mentah-mentah oleh mayoritas anggota majelis.

Ketika jalan musyawarah tidak memuluskan usulan tersebut, maka keputusan dialihkan pada suara terbanyak anggota dewan dengan mengangkat tangan.

Itupun sedikit yang mengangkat tangan menyetujui usulan pemisahan pemisahan khilafah dengan kekuasaan. Dari sini Musthafa mengalami kebuntuan untuk meloloskan manuvernya dengan jalan demokrasi. Ketika demokrasi tak lagi bisa dipakai, maka ia mulai memainkan peran kediktatorannya.

Meski mayoritas anggota dewan tidak menerima usulan tersebut, majelis yang berada di bawah kekuasaan Musthafa memaksakan agar usulan tersebut diterima.

Kemudian komite dijerumuskan dalam kemelut berdarah, sehingga Musthafa memiliki alasan untuk membubarkan parlemen dan dirinyalah pemegang keputusan satu-satunya.

Dengan kewenangan tersebut, segera kemudian diproklamirkan sistem pemerintahan republik dan mengangkat dirinya sendiri sebagai presiden.

Di tengah gejolak masyarakat akibat gaya kediktatoran Musthafa, ia terus melangkah untuk mempropagandakan bahaya khilafah dalam setiap kesempatan dan menghabisi siapapun yang meneriakkan keberpihakannya pada khilafah.

Ketika iklim yang sudah panas mendominasi negara, 3 Maret 1924 Musthafa melakukan langkah politiknya yang terakhir, yakni penetapan penghapusan khilafah dan pengusiran khalifah beserta keluarganya.

Kajian Kritis

Hizbut Tahrir telah menggariskan basis pemikiran dan pergerakan semata-mata hanya bersandar pada syariah Islam. Dalam kitab mafahim hizbut tahrir ditegaskan

“Semuanya berupa pandangan-pandangan, pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum yang Islami dan hanya berasal dari Islam.

Tidak ada di dalamnya hal-hal yang tidak Islami bahkan tidak terpengaruh sedikit pun oleh sesuatu yang berasal dari luar Islam; semata-mata Islam dan hanya berdasarkan pada dasar-dasar Islam serta nash-nashnya secara murni.” (Mafahim Hizbut Tahrir, Terjemah, cetakan 2011, hal 23)

Kegagalan umat Islam mempertahankan khilafah di masa lalu bukan karena Mustafa Kemal mendapatkan sokongan militer dan politik yang kuat dari pihak sekutu terutama Inggris.

Bukan pula karena kemampuan Mustafa memonopoli opini di media yang dia kuasai. Bukan pula karena kelihaian Mustafa bermain politik secara cantik tapi licik dan jahat, bukan pula karena kediktatoran Mustofa.

Umat Islam mampu dikalahkan sampai derajat yang paling menghinakan dan memilukan karena semata-mata tidak lagi murni dalam memperjuangkan Islam.

Umat Islam baik sadar ataukah tidak telah teracuni oleh pemikiran-pemikiran di luar Islam akibat hilangnya potensi bahasa arab dan kemampuan berijtihad.

Akibatnya umat Islam tidak mampu menjawab tantangan zaman dimana Barat meraih masa keemasan dengan kemajuan tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi saat itu.

Ketidakmampuan tersebut menjadikan umat Islam perlahan-lahan mengadopsi pemikiran Barat dan mengislamikan pemikiran tersebut. Demikianlah, racun pemikiran tersebut terus menggerogoti pemikiran umat dan persatuan umat Islam sehingga perjuangannya tak lagi suci.

Kecintaan mereka kepada khilafah tidak diimbangi dengan fikrah dan thariqah yang sesuai dengan Islam. Inilah yang membuat pergerakan umat Islam menjadi sporadis dan saling bertolak belakang.

Sehingga kemudian bisa dibelokkan untuk memberikan jalan penjajah kafir bersama antek-anteknya termasuk Mustafa Kemal untuk menghancurkan Institusi Politik yang selama ini menjaga darah dan kehormatan Umat Islam.

Meneropong HT

Berangkat dari situlah kemudian HT senantiasa konsisten hanya berpegang pada prinsip Islam semata-mata dalam menyusun fikrah-nya dan thariqah-nya. Kekonsistenan itulah yang kemudian menjadikan aktivitas dakwah ini senantiasa mendapatkan pertolongan Allah.

Konsisten tidak menggunakan kekerasan fisik, misalnya, menjadikan Hizb tidak pernah bisa dijebak masuk dalam perangkap stigma negatif sebagai gerakan radikalisme dan terorisme.

Bahkan ketika kedzaliman menimpa Hizb dimana berbagai macam kegiatan dakwahnya dihalangi bahkan sekarang berada di ujung tanduk pembubaran legalitas badan hukumnya serta ancaman penjara bagi seluruh pimpinan dan anggotanya.

Hizb tetap konsisten tidak menempuh jalan kekerasan semata-mata meneladani perjuangan dakwah rasulullah pada fase Mekkah.

Maka langkah awal kediktatoran yang dilakukan oleh penguasa sekarang ini tidaklah menambah apa-apa melainkan simpati dan dukungan yang semakin nyata kepada HT.

Seruan syariah dan khilafah menjadi buah bibir di hampir setiap warga atau setidaknya masuk ke seluruh telinga warga Indonesia. Semakin banyak menjadi pembicaraan, seruan tegaknya syariah Islam di dalam naungan khilafah akan semakin familiar sehingga kemudian muncul kecintaan dan kerinduan kepadanya.

Dengan kemurnian fikrah yang diadopsi oleh Hizb, kecintaan dan kerinduan tersebut akan diarahkan pada pergerakan yang benar untuk bersama-sama menegakkan khilafah secara damai tanpa pertumpahan darah.

Menggantikan demokrasi dan kapitalisme yang telah gagal membentuk masyarakat yang beriman dan bertaqwa dan gagal memberikan kesejahteraan yang merata di setiap individu masyarakatnya.

Telah berlalu kesuksesan zaman kediktatoran untuk membungkam dan melemahkan kaum muslimin. Para penguasa tiran dengan segala kehebatannya telah berguguran di tangan rakyatnya sendiri.

Oleh karenanya, jika kemudian rezim Jokowi hendak melangkah menuju rezim yang represif dan diktator, maka hendaklah bercermin diri bahwa dirinya tidaklah sehebat Mustafa Kamal, tidak pula sekuat Husni Mubarak, tidak pula sekokoh Soeharto dan penguasa-penguasa tiran lainnya.

Maka bila rezim Jokowi beserta para pembantunya mencoba mengikuti langkah-langkah tirani, maka harus mempersiapkan diri untuk menyusul para penguasa tiran sebelumnya yang berakhir dengan tragis.

Jika tidak dijatuhkan dengan adzab dunia yang disegerakan langsung oleh Allah SWT, maka akan dijatuhkan oleh tangan rakyatnya sendiri.

Apalagi, umat Islam kini telah menemukan kekuatan politiknya yang sudah tidak lagi mau dicerai beraikan. Umat Islam sekarang bersatu di bawah komando ulama-ulama yang lurus dan ikhlas yang tak lagi bisa ditekan dengan peraturan yang represif dan tak lagi bisa ditipu dengan pencitraan.

Dan Hizb akan bersama-sama umat Islam mensucikan kekuatan politik tersebut dari berbagai macam racun-racun pemikiran barat dengan pemikiran Islam saja, memurnikan perjuangannya, dan mewujudkan impian kaum muslimin untuk kembali melangsungkan kehidupan Islam yang telah lama ditinggalkan.

Kelangsungan kehidupan Islam akan kembali ketika khilafah Islam tegak dan syariah Islam mengikat kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga kita lah generasi terealisasinya janji Allah SWT.

…..Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya.

Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam”. [HR. Imam Ahmad]

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa