Memungut “Cinta” Di Atas Sejadah

Bang Saiduddin 20160703_002543(sepenggal kalimat yang tersisa dari Ramadhan)

Oleh : saifuddin al mughniy

Subhanallah, terkadang dalam hidup ini kita seringkali banyak membicarakan tentang cinta, ya, cinta yang tak pernah berhenti di bicarakan, didiskusikan dalam berbagai ruang dan tempat.

Dan nyaris tak menyisakan kesimpulan, sebab sebagian kita memandang dan mempersepsikan cinta sesuai dengan sudut pandang serta perasaan kita masing-masing. Cinta, yang terkadang membuat sebagian kita rapuh, jatuh, dan tersungkur, sebab ketiadaan rasa terhadap perasaan orang lain yang terabaikan.

Cinta, yang melukai, bukankarena ia memiliki dua mata pisau yang tajam yang sesekali mencabik serta menorehkan. Cinta, yang tak sekedar lagu dan ungkapan penyair yang serba puitis, namun cinta, bagaikan air bening yang tak terluka oleh darah dan pewarna apapun, sebab ia sesuatu yang suci, ya, suci bagaikan kain kafan, dingin sedingin salju.

Agar kiranya kita tak terjebak pada ungkapan atas cinta, tentu saya akan meyuguhkan sekelumit pencerahan mengenai cinta yang insya Allah mampu menjadi bahan introspeksi kita selaku ummat dan hamba yang menghambakan diri pada kuasa Ilahi dalam pandangan mengenai cinta.

Cinta dalam pandangan Islam bagaikan iman, yakni diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan atau tindakan. Karena mencintai merupakan salah satu ciri orang-orang beriman. Yang meneguhkan keimanan karena cinta. Islam, tentunya bukan hanya menafsirkan cinta sesaat seperti sebagian orang memandang seperti (pacaran), walau dalam Islam tak dikenal dengan pacaran.

Tetapi kalau kitaingin merujuk jauh kebelakang, Islam sebagai (addinul) sebagai agama, dari sejarahnya Islam yang bersifat Rahmatan Lil alamain, rahmat dan cinta bagi seluruh alam tak terkecuali.

Cinta yang bukan hanya sesame manusia, akan tetapi semua habitat yang ada di muka bumi ini di ciptakan Allah Subhana wa Ta’ala tak lain dan tak bukan untuk saling mencintai satu sama lain. Bukankah Al quran telah mengabarkan kepada ummat manusia, bahwa “telah kuciptakan engkau bersuku bangsa, laki-laki dan perempuan, litarafu’ (saling kenal mengenal), dan tidak ada yang mulia diantara kalian kecuali yang bertaqwa”.

Ada dua hal pengyakinan kita, bahwa saling kenal mengenal adalah simbolisasi hakekat kecintaan (saling mencintai) satu sama lain, ini lebih bersifat horizontal (hablumminannas), sememntara kata Allah Subhana wa Ta’ala tidaka ada yang mulia kecuali yang bertaqwa, ini mengandung hubungan secara vertical, sebuah nilai transcendental, di mana sang pemilik cinta mentransformasikan nilai kecintaannya pada hakekat ketaqwaan seseorang.

Proses kecintaan yang yakini dengan hati, yaitu cinta datang bukan berasal dari dorongan nafsu. Tetapi, cinta datangnya dari iman di dalam diri yang mengedepankan akhlak mulia dan ketaqwaan kepada Allah Subhana wa Ta’ala.

Karena cinta atas dasar nafsu takkan mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman di jiwa, kecuali kesengsaraan dan kehinaan yang berkepanjangan. Kecintaan yang berdasarkan nafsu diukur dengan materi seperti kekayaan, kekuasaan, kemewahan, yang kesemuanya itu akan mengalami fase dimana akan berakhir dan hilang dari barsan kehidupan manusia.

Pengungkapan cinta dengan lisan, yaitu cinta diucapkan kepada seseorang yang kita cintai, dan itu termasuk sunnah karena Rasulullah sendiri menganjurkannya. Namun ada aturannya, yaitu cinta diucapkan kepada yang sudah mukhrim (halal), teman yang shalih, dan yang paling penting adalah kepada orang tua.

Disini kita terkadang terjebak pada fatamorgana kehidupan,sebab tidak sedikit manusia terjeremba dan hina karena menafikkan cinta, ya, cinta kepada orang tua. Alkisah, seorang sahabat nabi yang berusaha membalas kasih dan cinta ibunya rela menggendong dari tanah Makkah menuju Madinah, tapi itu tak cukup baginya untuk berbakti kepada ibunya.

Dalam Al quran surah Al Ahkaf ayat 15, Allah berfirman “ kami perintahkan kepada manusia, supaya berbuat baik kepada kedua orang tua ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkan dengan susah payah pula, mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai pada empat puluh tahun lalu ia berdoa.

Ya, Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, agar aku dapat berbuat amal yang sholeh yang Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Kalimat tersebut tentu menyeakkan nurani kita sebagai manusia begitu tingginya nilai kecintaan terhadap orang tua. Sebab sederhananya, kita (manusia) tak akan mungkin lahir tanpa tetesan cinta, sebuah manifestasi cinta dari sang pemilik cinta yang ter-transformasi dalam dekapan orang tua kita, nyaris tak tergugat bukan..?

Sementara pembuktian cinta dengan tindakan, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam  pernah berkata bahwa jika ada seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, maka melamarnya untuk dijadikan istri merupakan bentuk dari pembuktian cintanya. Jika menyukai, segera nikahi.

Tetapi kalau belum mampu, maka berpuasalah, Yaitu kendalikan nafsu dan cintai dalam diam. Itu semua demi menjaga kesucian diri sendiri dan kusucian dia yang dicintai. Sebagai hakekat menjaga cinta yang mulia.

Cinta secara hakikatnya jika dipandang secara umum yaitu sedia mengorbankan waktu, tenaga, dan harta kita hanya untuk sesuatu yang kita cintai. Sedangkan cinta secara hakikatnya jika dipandang secara syari’at islam yaitu mencintai seseorang atas dasar ketaqwaan kita kepada Allah Subhana wa Ta’ala.

Pada realitanya betapa banyak orang yang mengatakan cinta kepada Allah, namun sangat sedikit yang berani berkorban yang terbaik untuk-Nya dan agama-Nya. Untuk mendapatkan kesenangan dunia, kita berani berkorban apa saja milik kita yang terbaik.

Namun untuk meraih kebahagiaan akhirat, surga dan ridha Allah Subhana wa Ta’ala  kita hanya berkorban seadanya, seperlunya dengan berbagai macam pertimbangan. Namun kecintaan Allah Subhana wa Ta’ala kepada ummatnya melebihi dari segalanya.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dalam kesempatan ia berjalan-jalan dengan sahabatnya, ditengah perjalanan ia melihat seorang ibu dengan menggendog dengan dekapan di dadanya, terlihat penuh cinta yang sangat ibu itu pada anaknya.

Lalu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam beranya kepada sahabatnya, wahai sahabatku lihatlah ibu itu ia menggendong dan memeluk anaknya dengan cinta dan kasih saying,tetapi aku ingin bertanya kepada kalian wahai sahabatku, apakah ibu itu akan rela melemparkan anaknya ditengah bara api ?

spontan sahabat menjawab, wahai ya Rasulullah, itu sangat tidak mungkin terjadi karena ibu itu begitu mencintai anaknya. Lalu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam melanjutnya ucapannya, wahai sahabatku, ketahuilah bahwa kecintaan ibu itu kepada anaknya tiidaklah seberapa dibandingkan kecintaan Allah Subhana wa Ta’ala kepada hambanya.

Buya Hamka pun, setelah di tinggal istrinya lebih banyak menyendiri, suatu ketika puteranya bertanya, wahai abi, kenapa abi akhir-akhir ini memilih menyepi dan menyendiri, lalu Buya Hamka menjawab dengan mata berbinar seakan menahan tetesan airmatanya, ingatlah wahai anakku, ummimu adalah sosok wanita yang tangguh, baik soleha, ia menghabiskan waktunya menemaniku dalam berjuang.

Saat ini aku lebih banyak menangis dan beribadah, ketika aku mengingat ummimu, terasa pembuluh darah pecah, dan air mataku sulit untuk kubendung karena kecintaanku padanya. Aku menyendiri, karena aku takut kalau kecintaanku kepada ummimu, melebihi cintaku kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Subhanallah.

Saat ini tentu begitu sulit kiranya bagi sebagian kita untuk meninggikan kecintaan Allah Subhana wa Ta’ala atas semua ruang dan waktu yang kita miliki. Ruang dan tempat yang mewah bukanlah jaminan bagi kita (manusia) untuk menemukan hakekat cinta yang sesungguhnya.

Sebab, kita telah telah tertimpa oleh reruntuhan kemanusiaan yang menghidupkan “ego”pada semua lini kehidupan.

Ramadhan, yang mengajarkan sebuah proses kemanusiaan, bagaimana kita menahan lapar, dahaga, nafsu dunia, untuk kemudian larut dalam suasana heningnya cinta di sepertiga malam kita.

Siangnya kepala begitu tegak berdiri yang posisinya lebih tinggi dari bintang di langit, dan gugusan awan di belantara tata surya. Karena kesadaran Ilahiyah, kepala kita pun maua atau tidak mau pada akhirnya tersungkur dalam posisi paling rendah diatas sajadah. Ya, sajadah sebuah bingkai kecil yang menyiratkan suatu tempat terindah dan terbaik untuk “berkomunikasi” dengan Tuhan.

Tidak sedikit diantara kita, bersimpuh luluh tak berdaya diatas sajadah, kita bagaikan “pemulung” yang memungut sisa-sisa sampah. Tetapi kita tentu bukanlah pemulung secara etimologis, tetapi secara terminologis-transenden kita adalah pemulung yang memungut cinta di atas sajadah.

Ya, tak perlu mengharapkan sebongkah berlian untuk bahagia, cukup selembar sajadah sebagai ruang dan tempat untuk berselancar menemukan cinta. Rodiatul Adawiyah, tak kala dalam doanya, ya Allah sekiranya sholat dan ibadahku hanya untuk mengharap surgaMU, maka tempatkanlah aku di dalam nerakaMU.

Apa makna yang dapat dipetik dalam doa tersebut, bahwa surga dan neraka adalah  ketentuan Allah Subhana wa Ta’ala atas keridhoanNYA pada siapa yang di kehendakiNYA. Maha benar Allah yang telah meletakkan cinta di serambi kehidupan ummatnya. Saat ini yang paling dekat dengan manusia yaitu hanya cinta dan kematian. **

**catatan yang ditulis dalam relung qalbu yang tak ber-ruang dan tak ber-waktu** moga bermanfaat.

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa