Membunuh “Ketakutan” Dengan Menulis

bang-saiduddin-20160912_224412

Oleh

Saifuddin Almughniy

Pekerjaan berat bukanlah beban yang secara fisik.bagaimana benda itu dapat diangkat dengan tenaga yang mumpuni, akan tetapi pekerjaan itu ada pada “rasa takut” untuk memulai sesuatu. Berfikir dan meletupkan dengan lisan tentu sesuatu yang mudah.

Tapi menuliskan ide serta gagasan tidaklah mudah, sebab rasa takut itu terkadang dipengaruhi beban psikologis “benar salah” bagi sipenulis untuk menuangkan idenya dalam ruas pikiran.

Mungkin ini adalah sekian banyak alasan bagi setiap orang bahwa melukiskan wajah sang puteri tidaklah secantik aslinya. Ranum, buram terkadang menjadi irisan kuas diruang kanvas, betapa tidak penglihatan atas tanda atau picture seringkali hanya menjadi terpaan dari rasa bukan karena gagasan. Pablo Picasso, abstrakisme kadang meletupkan idenya pada ruang gelap, namun penuh arti.

Dan sangat berbeda dengan Michel Angelou, yang getol meletupkan gagasan kemanusiaannya lewat pengabdian, bagaimana Hamzah Fansury dan Jalaluddin Rumi yang menguraikan filosofi.cintanya yang melewati angannya, dan Khalil Gibran yang menerima kenyataan atas kisah hidupnya.

Semua ini, tentu bukanlah prahara, tetapi satu legenda yang tak mungkin hilang dari altar sejarah panjang kemanusiaan, mereka membumi karena pikirannya ditulis dalam ruang dan dinding bumi. Sehingga terbaca oleh manusia bumi.

Sebuah kisah herois ditahun 1974 Imagining Argentina, bagaimana juntah militer terjadi dan sekitar 30.000 warga Boaines Aires di bantai oleh pasukan Decaparidos yang menentang rezim militer. Tapi keadaan itu tidak membuat gerakan surut.

Perlawanan itu dimulai dari budaya literasi dengan banyak menulis, kampanye “hight politik” diciptakan untuk menentang rezim Juan Peron, walau para tokoh penulus ditangkap dan disiksa.

Lalu, bagaimana dengan Farouk Fouda, setelah karyanya terbit lalu ia terbunuh. Dan tidak sedikit para pecinta literasi “terkungkung” karena rezim, otoriterianisme, kekuasaan yang anti kritik, Maka, bagi kita tentu harus menjadi pejuang knowledge, karenanya manusia akan tercerahkan lewat membaca, menulis, ibadah, serta saling memberi.

Dan bahkan Imam Syafii mengurangi waktu tidur malamnya untuk menulis, beliau menginspirasi beberapa tokoh setelahnys untuk lebih mengkaji dan menulis, sehingga tidak heran kurang lebih 700.000 karya terbaik ilmuwan muslim pernah afa di syandi syafoor dan Cordoba. Tulisan meteka telah merubah wajah dunia penuh keadaban.

Bahkan beberapa perang yang terjadi bukan semata membunuh satu sama lain, tetapi bagaimana mereka merebut pusat ilmu pengetahuan seperti perpustakaan dan itu ditulis dengan apik Nehde Nekosten dalam bukunya “kontribusi intelektual islam terhadap dunia barat” dan Max Diamond sang liberal membenarkan itu sehingga muncullah istilah “narcisme” barat terhafap dunia lain.

oleh karena itu “membunuh” ketakutan untuk melahirkan karya haruslah dimulai dari pembiasaan dan pembudayaan. Karena hanya dengan menulis kita dapat menembus sesuatu dibalik realitas.

Menulis dengan mudah menjumpai realitas walau sebuah tulisan tak sepenuhnya mewakili “kebenaran” namun yang pasti dengan menulis seseorang akan mampu memahami realitas disekitarnya.

Sebab tanpa menulis ruas-ruas bukupun akan semakin sunyi. “””

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa