Membincang Jejak ‘Politisi’ Atau Intelektual & Ulama

bang-saiduddin-20160925_010640Oleh

Saifuddin Almughniy

Dialog akan menjadi penting,
Bila yang di dialogkan itu hal yang penting,
Bukan penting tanpa dialog, namun segala
Yang di dialogkan itu pasti penting.

Suatu ketika Ziaul Haq (alm) Presiden Pakistan di tahun 1978-1989 mengumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu, Ziaul Haq bertanya kepada Nizamai pimpinan redaksi koran the nation, Nizami, menurut anda siapa yang membangun dan mendirikan negara ? tanya sang presiden. Nizami agak lama berfikir untuk memahami logika Ziaul Haq, dan lalu menjawab, “ Politisi “

Sang presiden pun tersenyum mendengar jawaban Nizami, lalu ia berkata, “ternyata wartawan sekelas anda masih berfikir sependek itu “ dan orang akan mengira akan membaggakan dirinya. Lalu sang presiden membuka persepsinya, sebenarnya kalian harus pahami bahwa yang membangun dan mendirikan negara itu bukanlah politisi tetapi para kaum intelektual. Demikian seterusnya sang presiden melanjutkan wacananya seputar itu.

Ziaul Haq berfikir induktif, di negerinya inspirator kemerdekaan bukan politisi. Pakistan merdeka dari India berkat inspirasi dari tokoh Mohammad Iqbal, dan selain itu terdapat nama seperti Abul Ala Al Maududdi, Amir Ali, Sir Syed Ahmad Khan.

Mereka iu adalah tokoh inspirator dari kalangan intelektual. Bahkan India merdeka dari Inggris karena inspiratornya sekelas Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawahallal Nehru, dan sang presiden begitu terkagum dengan sosok pendiri negara yang berasal dari kaum sederhana tapi intelektual.

Bagaimana dengan konteks Indonesia, ? dialog itu telah berlangsung sekian puluh tahun lamanya, dan para founding fathers membangun negara ini tanpa dendam, tanpa sentimen, tanpa penghinaan, namun penuh penghormatan tanpa dendam telah di buktikan anatara Soekarno dengan Buya Hamka.

Walau keduanya memiliki visi politik dan kenegaraan, dan lebih ironis lagi ketika Buya Hamka di jebloskan di penjara oleh Soekarno, tetapi disaat yang lain Soekarno meminta kepada Buya Hamka kalau suatu saat nanti aku (Soekarno) meninggal dunia maka engkau (Buya Hamka) menjadi imam sholat jenzahku.

Dan itu dipenuhi oleh Buya Hamka. Bagaimana Muh. Natsir mantan perdana menteri Indonesia, hanya memiliki sepeda untuk mengabdikan dirinya dalam sebuah negara, bahkan suatu ketika pimpinan partai katholik ingin membelikan rumah buatnya namun tetap menolak.

Konsep kesederhanaan yang dibangun karena mereka ulama sekaligus intelektual, tidak menjarah, memfitnah, saling menyiku seperti saat ini.

Dan kita bisa sepakat bahwa HOS Cokroaminoto sebagai inspiratif Soekarno dan pemimpin gerakan kebangsaan yang berlandaskan Islam, Dr. Wahidin Sudiro Husodo pencetus gerakan Budi Utomo, Agus Salim yang digelari Soekarno Ulama –intelek.

Dan aktor intelektual bagi gerakan kemerdekaan KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Ki Hajar Dewantoro, Muh. Natsir dan beberapa tokoh lainnya. Mereka itu adalah intelektual yang politisi sekaligus politisi yang intelektual, bahkan Soekarno Hatta pun sebenarnya adalah intelektual.

Dan berkaca dari itu maka kita bisa saja bersepakat dengan sang presiden ( Ziaul Haq ), bahwa Indonesia juga tidak didirikan oleh kaum politisi tetapi kaum intelektual yang bervisi politik.

Gordon S. Mood misalnya dalam bukunya, the public intelectual menganggap the founding fathers sebagai “men of ideas and thought, leading intelectual” sekaligus political leaders. Tetapi sejatinya mereka itu secara revolusioner bukan politisi an sich atau intelektual murni seperti pengertian dalam kerangka modern yang parsial.

Mereka itu adalah pemimpin politik yang tidak terobsesi oleh sebuah pemilu, karena baginya pemilu tak lebih hanya sebuah proses bukan pilihan. Mereka hidup dalam dunia ide dan realitas dimana dunia politik tidak menghadirkannya untuk bertindak utopis dan pragmatis.

Buktinya sekarang justru berbanding terbalik, politisi di puja, disanjung, dihormati, bak putera sang raja yang baru saja naik tahta, mereka memuji tapi tidak bisa mengikuti, bahkan petuah mereka di guguh namun integritas mereka tak dapat di tiru.

Bahkan secara tegas Gordon mengkritik situasi demikian, bahwa saat ini kita lebih banyak memuji ketimbang memahami, mengapa generasi lama revolusi begitu care terhadap perubahan sementara hari ini tidak, mengapa idealisme dan politik tidak dapat bersatu.

Mengapa politis dianggap sebagai amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika, mengapa politik membangun kekuasaan, bukan perdaban, padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tidak berarti tanpa ilmu.

Bahkan Samuel Elliot Morrison dan Harold Laski yang keduanya sejarawan Amerika, percaya bahwa dalam sejarah modern , tidak ada yang kaya dengan ide-ide politik yang memberi kontribusi pemikiran terhadap kehidupan politik dan sosial.

Termasuk di dunia barat sekalipun. Karena di lain sisi Gordon melihat bahwa saat ini kualitas intelektual para politisi menurun secara drastis. Ide telah telah di pisahkan dari kekuasaan, dan itu harus dibayar mahal oleh sistem demokrasi.

Kalau Gordon beragama maka ia akan mengatakan demikian bahwa itu harus dibayar mahal sekulerisme. Agama “mesti tidak bisa” menjadi bekal berpolitik. Dengan satu prinsip bahwa jangan bawa agama dalam ranah politik.

Sekalipun hampir semua anggota parlemen memiliki agama sekalipun ia berbeda tetapi sangat jarang kita temukan konsep agama menjadi pencair dari sebuah proses politik, ya itu tadi karena agama telah terseret jauh dari jantung kekuasaan.

Kekuasaan yang terlanjur tanpa ilmu akan berujung kepada kegaduhan yang terus menerus sebab sebagian mereka telah di perbudak oleh harta dan kekuasaan itu sendiri tanpa harus membangun sebuah peradaban kebangsaan yang bermartabat.

Persoalannya sekarang adalah, bahwa dialog serta pelajaran yang bisa kita petik dari setiap sesi perbincangan sang presiden kita justru menjadi cemooh oleh lawan politiknya sehingga menurut saya memang sangat sulit untuk membangun sebuah peradaban karena mitologi kekuasaan itu seperti sudah harga mati.

Bahkan dalam sejarah peradaban Islam kita kenal Khalifah Umar Bin Abdul Aziz seorang amirul mukminin yang oleh Ad-Dhahabi menyebutnya sebagai amir yang berilmu, yang mampu membangun kekuatan ekonomi Islam, tetapi bukan hanya itu beliau juga mampu membangun politik dan peradaban.

Sehingga kita memang perlu banyak belajar untuk mengilhamkan diri pada karakter dan kepemimpinan politik di masa lalu.

Sebab politik adalah nilai, etika, acountability, bahkan lebih dari itu politik adalah cita-cita kemanusiaan yang bermartabat. semoga.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa