Mari Menjadi Indonesia

IMG-20160801-WA0001

Tulisan ini sudah pernah di publis.

Kali ini tulisan ini saya tambahi prolog, memang jadinya agak panjang tapi biarlah.

Saya ingin melihat kembali kejatuhan Negara Federasi Uni Soviet atau dulu dikenal dengan USSR. USSR itu negara besar dan kuat pada masanya. Geografi dan Demographynya mirip-miriplah dengan Indonesia. Daerahnya sangat luas dengan kultur budaya dan agama yang sangat beragam.

Menghancurkan USSR dengan mengajaknya berperang tentu akan banyak memakan korban. Lantas bagaimana meruntuhkan negara besar ini, jawabnya biarkan mereka meruntuhkan dirinya sendiri, buat suku-suku dan agama-agama yang berada di negara itu terpecah belah, benturkan budaya mereka dan tunggu………., mereka akan hancur dengan sendirinya, akhirnya.

Dimulai dengan Perestroika kekuatan besar inipun rubuh dengan sendirinya, untungnya Rusia sebagai kelompok terbesar masih memiliki kekuatan militer dan teknologi yang masih mumpuni.

Apakah persoalan besarnya agama ? atau karena mereka dianggap komunis dan menjadi ancaman ? Tidak kawan !!! saya bisa katakan This is just a Bussinees, “Ratusan tahun penduduk Rusia yang berlatar keragaman suku bangsa aman-aman saja” ini menurut sahabat saya yang tinggal di sana .

Persoalan terbesarnya adalah perebutan sumber daya alam. Rusia tidak bisa dikalahkan dengan korban kecil jika dihancurkan dengan perang…

Nah bagaimana dengan Indonesia ? Sama saja !!! Bangsa kita ini sangat kuat jika solid. Jika melawan Indonesia sebagai suatu bangsa, akan sangat sulit untuk dikuasi tanpa korban yang banyak serta tentunya dengan biaya yang sangat besar.

Bangsa ini membuktikannya saat merebut kemerdekaan dari dua kekuatan besar satu Belanda dan sekutunya serta satu lagi kekuatan yang di sebut Macan dari Timur (Nippon/Jepang) dan ini tentu difahami oleh kaum imperialis dan kapitalis.

Maka?… sebagaimana dengan Rusia, bangsa ini harus di taklukkan dengan strategy, karena bangsa ini terdiri dari banyak suku, budaya dan agama. Strategy yang paling tepat adalah, benturkan mereka, pecahbelah dengan membawa sentimen Agama, Suku dan Budaya. Cukup kirim puluhan ahli propaganda (sekarang dilakukan dengan Media).

Maka mereka akan membuat ribuan penghianat yang akan dengan senang hati menghancurleburkan tanah tumpah darah tempat mereka dilahirkan. Apakah agama-agama besar berperan dalam hal ini? Saya meragukannya, bagi saya semua ini adalah USAHA perebutan sumber daya alam.

Sejarah sebenarnya sudah mengajarkan, namun kita bebal, tidak mau belajar, tidak mau membaca sejarah, kalau bangsa ini terus begini, mungkin beberapa tahun lagi nama Indonesia akan tinggal kenangan sebagaimana Yugoslavia dan USSR dulu.

Saudara-saudaraku setanah air mari kita menyadari ini, mari berhenti saling menyoroti masalah agama juga suku dan budaya orang lain, karena hal ini adalah urusan kita masing-masing. Mari berhenti membahas agama orang lain, mari fahami agama kita sendiri, mari berhenti mengulas kitab suci orang lain, lebih baik mendalami kitab suci agama sendiri.

Menjadi Indonesia adalah menghargai adanya perbedaan, menjadi Indonesia adalah menerima persatuan dalam keberagaman, inilah pedoman kehidupan kebangsaan kita yang disebut “Bhineka Tunggal Ika”.

Salam dan semangat menjadi Indonesia!

Abdullah Rasyid

Seknas Boemi. Poetera‎

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa