‘Law Dimising Of Return’ Terhadap Jokowi Butuhkan Habib Rizieq Untuk Recovery

imagesFoto : Ist/net

Oleh :

Habil Marati

Anggota DPR RI 1999 – 2009

Dalam hukum ekonomi yang di maksud dengan law diminising of return adalah tingkat kepuasan konsumen terhadap suatu produk/ barang yang semakin menurun. Saya mencoba untuk memberikan analisis teks Ekonomi terhadap korelasinya dengan President Jokowi.

Kita semua tau dan paham bahwa isu mobil Asemka menjadi feeding utama naiknya popularitas Jokowi di Pentas Nasional. Isu mobil Asemka mengelinding bagaikan Arus tsunami yang menghancurkan agenda politik Jakarta.

Di tahun 2010 semua mata politik dan semua mata media tertuju pada Jokowi, Jokowi menjadi pusat pusaran pemberitaan media termasuk munculnya relawan relawan Jokowi yang tumbuh bak Jamur di musim hujan.

Dahaga masyarakat Indonesia terhadap Jokowi semakin hari semakin membuat orang orang khususnya masyarakat Komunitas politik, aktivis, corporasi serta kaum sekuler, liberal merasa haus melihat penampilan sederhana Jokowi dan segudang prestasi yang diblow up oleh media media mainstream secara massive.

DKI sebagai barometer Nasional dijadikan sebagai trigger pertama untuk memenuhi rasa haus masyarakat. Setting Politik opini terhadap tingkat kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kepemimpinan Fauzi Bowo didegradasi oleh media dan para Politisi. Jokowi mulai dihembuskan sebagai salah satu figur kuat untuk menjadi Gub DKI.

Terpilihnya Jokowi sebagai Gub DKI 2012 mengalahkan incumbent adalah sebuah Fenomena langka dalam pemilihan Gub DKI disebabkan oleh efek mobil asemka, maupun elastisitas dan prefrensial kepuasan masyarakat DKI bahkan Nasional terhadap sosok Jokowi adalah sebagai masa depan Indonesia.

Popularitas Jokowi mengalahkan popularitas partai politik bahkan mengalahkan popularitas Ketua ketua partai politik yang sudah terlebih dahulu eksis pada pentas politik Nasional.

Jokowi terpilih sebagai Gub DKI ternyata tidak menurunkan elastisitas pasar Politiknya, Justru elastisitas Politik Jokowi mengalahkan elastisitas politik Megawati, Prabowo, Jusup Kalla, Aburizal Bakri dan SBY.

Mata media media, mata para Politisi dan pelaku Ekonomi menunjuk ke arah Jokowi sebagai Calon President RI untuk mengantikan SBY. Bahkan Megawati sendiri pun merelakan PDIP untuk mencalonkan Jokowi sebagai Calon President RI 2014-2019.

Mengapa Megawati mengalah dan PDIP mencalonkan Jokowi ?, pada hal dalam rakernas PDIP di Bali telah memutuskan Megawati sebagai calon tunggal President RI.

Pertama, Popularitas Jokowi maupun elastisitas preferensi kepuasaan masyarakat terhadap Jokowi lebih besar dibanding Megawati, Kedua, harapan tingkat kepuasaan masyarakat terhadap Jokowi sangat besar.

Popularitas serta elastisitas kepuasaan masyarakat terhadap figur Jokowi semakin meningkatkan paska Jokowi terpilih Jadi Gubernur DKI.

Kemudian setelah Jokowi terpilih menjadi President RI, Basuki Tjahja Purnama naik mengantikan Jokowi sebagai Gub DKI. Naiknya Ahok sebagai Gub DKI, ternyata menjadi bom waktu bagi Jokowi.

Ahok benar benar menguras tingkat elastisitas serta preferensi kepuasaan masyarakat baik DKI maupun secara Nasional khususnya di kalangan Umat Islam.

Selain itu, kasus kasus yang melibatkan Ahok menjadi pedal rem berhentinya elastisitas politik Jokowi maupun turunnya kepuasan masyarakat secara Nasional.

Ahok benar bnar menjadi stigma negatif terhadap penurunan tingkat kepuasaan masyarakat terhadap Jokowi. Pada sisi lain law diminising of return atau turunnya kepuasaan masyarakat terhadap Jokowi juga disebabkan gaya kepemimpinan Jokowi yang cenderung melawan Arus kepentingan Nasional.

Gaya kepemimpinan Jokowi seperti memberikan pembebasan visa pada 174 Negara tanpa memikirkan kepentingan Nasional adalah salah satu penyebab turunnya kepuasan masyarakat terhada Jokowi.

Pada sisi pembangunan ekonomi, Jokowi memperbolehkan arus masuknya tenaga kerja Orang Orang China bekerja pada proyek proyek yang di biayai China di Indonesia adalah juga menjadi penyebab turunnya kepuasan masyarakat terhadap Jokowi.

Demikian juga pembangunan infrastruktur yang mengandalkan pinjaman dari Negara China seperti Kereta Cepat Jakarta- Bandung, MRT dan LRT jelas jelas menyalahi Pasal 33 UUD45/2002 Justru mempercepat turunnya rasa kepuasan terhadap kepemimpinan Jokowi.

Jokowi di anggap telah memberikan fasilitas monopolistik kepada Pemerintah China serta investor swasta China pada sektor infrastruktur, Industri, dan industri pertambangan.

Pembangunan Infrastruktur yang dibiayai dari pinjaman China sangat menghawatirkan kondisi sosial, idiologi serta Ekonomi masyarakat secara Nasional, adalah juga menjadi penyebab turunnya elastisitas serta hukum law diminishing of return Arus hukum semakin menurunnya kepuasan masyarakat Indonesia terhadap kemampuan Jokowi.

Masyarakat Indonesia mulai panik melihat gonjang tanjung Politik, hukum dan ekonomi terhadap Kepemimpinan Jokowi.

Law diminising of return atau hukum penurunan kepuasan masyarakat terhadap Jokowi yang disebabkan dari gaya kepemimpinan Jokowi seperti sering nya gonta ganti kabinet, penerbitan Perpu pembubaran Ormas yang tidak sesuai dengan UU.

Disamping itu, program program Jokowi dalam pembangunan ekonomi untuk pertumbuhan Ekonomi yang berasal dari pinjaman dari Pemerintah China, serta investasi swasta China di Indonesia ternyata Justru malah memperlebar defisit APBN serta memicu resiko fiskal baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Hal hal tersebut di atas menjadi penyebab law diminising of return atau tingkat kepuasan masyarakat Indonesia terhadap Jokowi terus menerus menurun. Gaya kepemimpinan Jokowi Justru menjadi penyebab Law diminising return.

Habib Riziq lah menjadi faktor menentukan untuk menaikan kepuasan masyarakat khususnya pemilih muslim terhadap Jokowi. Mengapa Habib Riziq Shihab?, ya pertama, HRS telah membuktikan pada pilkada DKI.

Ahok didukung oleh partai politik besar, Corporasi besar dan pihak Penguasa Justru dikalahkan oleh penolakan HRS terhadap Ahok, Kedua, Secara Politik HRS memiliki saluran efektif pesan pesan Sosial, idiologi, Islam, Politik dan Ekonomi ke akar rumput melalui FPI, melalui Ormas Islam, melalui Para Habib, melalui para Ustat, dan melalui para tokoh tokoh Islam maupun lewat media Sosial.

Disamping itu, Habib Riziq Shihab tidak memiliki beban politik, beban sosial maupun beban Ekonomi terhadap Umat Islam, Justru semakin Habib Riziq Shihab di tekan, dizolimi, di fitnah serta di bully Justru semakin memperkuat karakter perlawanan Habib Riziq Shihab akan ketidak adilan serta kebangkitan Komunisme, dan Sekularisme.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa