Kemanusian & Cinta

IMG-20160721-WA0035Oleh : Saifuddin Al Mughniy

mungkin saat ini kita sedang menikmati suatu masa dimana kemanusiaan kita teruji oleh waktu. Terlelap dalam keheningan sepi, berjauhan dari rasa menanti yang panjang. Bahkan peperangan tak kala hadir untuk membunuh hasrat tapi bukan menanti kematian kemanusiaan, sebab perang hanya ada karena ketimpangan.

Disparitas ekonomi, sosial, budaya, perlakuan hukum yang tak adil, kegaduhan dilingkar kepentingan yang kesemuanya mengusik “kemanusiaan”. Ini tenuu bukan sebuah catatan legenda, prosa atau syair yang dibaca disetiap panggung konser. Perkara kemanusiaan bukanlah perkara “sepele” sebab didalamnya ada ajaran humanisme, egaliterianisme, yang mempersonifikasikan manusia dihadapan manusia lainnya.

Tetapi dalam rentan waktu perjalanannya bukan hanya perang yang kemudian mengubur kemanusiaan dan budaya, tetapi senggama politik turut andil dalam frame “kemunduran manusia” karena, kejatuhan moralitas secara struktural dan kultural begitu sangat mempengaruhi perjalanan kemanusiaan.

Bagaimana kemudian media mempertontonkan adegan kejahatan seksualitas dibawa umur, debat tanpa etika, seronok film tanpa sensor, serta fenomena guru yang dipenjara akibat hanya “mencubit” muridnya.

Fenomena ini sesungguhnya, bukanlah hanya kejatuhan moralitas tetapi lebih pada kehancuran sendi-sendi kemanusiaan, terperosoknya etika dalam kubangan globalisasi. Fenetrasi ideologi praktis tak efektif lagi untuk membendung arus kencang kapitalisme, sejatinya ideologi itu harus mampu menjadi benteng suatu negara.

Mungkin kita pernah menyaksikan kisah EmpresKI yang berkisah tentang kerajaan Korea yang jatuh karena imprialisme serta invasi militer yang dilakukan sebuah kerajaan. Sang Jenderal pun terpisah dengan Selir Ki yang memiliki keahlian bela diri.

Bahkan sang selir ditawan dan dijadikan pembantu.di istana kerajaan hingga pada akhirnya sang raja menaruh hati kepada sang selir hingga ia harus menikahinya.

Suatu waktu mantan penguasa di kerajaan Koreo jenderal Yuan bertemu dengan Su Nyan (selIr KI) di istana, dari situ mulailah di rancang sebuah pertalian hubungan atas nama kemanusisan, bagaimana seharusnya perang tanpa senjata di mulai. Kehancuran kerajaan Koreo bukan jalan satu-satunya peperangan, tapi bagaimana menghadirkan cinta ditengah gejolak politik.

Olehnya itu, kalau sekiranya kita ingin belajar tentang makna kemanusiaan dan cinta, maka sejatinya kekuadaan itu dibangun dari kasih sayang, bukan permusuhan, perpecahan, saling menyindir, menghina, memotong satu sama lain, pingah, kesombongan, status sosial yang berlebihan. Tentu kesemuanya itu hanya akan menjadikan demarkasi atau menjadi dinding pemisah antara kekuasaan dengan rakyat jelata.

Bukankah sebuah peradaban dilahirkan dari rasa kemanusiaan dan cinta ? tegaknya fathul Makkah oleh Rasulullah karena menempatkan kemanusiaan dan cinta  (mahabbah) dalam setiap proses sejarahnya. Sejarah, humanisme dan cinta adalah bagian yang tak terpisah dalam bangunan peradaban.

Dan politik tanpa itu maka akan kehilangan esensinya, sebab politik hari ini telah membangun kekuasaan bukan membangun peradaban. Dan sebuah bangsa yang besar bukan karena semata kekuasaan politiknya, namun dilihat dari kultur dan nilai peradabannya. ** wassalam.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa