Kemana Uang Hasil Tembakau

images (13)
ist/net

Oleh :

Salamuddin Daeng (AEPI)

Tembakau dan rokok merupakan penyumbang terbesar dalam ekonomi nasional pada masa pemerintahan Jokowi JK. Namun masyarakat tembakau tidak mengetahui kemana uang itu pergi dan digunakan untuk apa?

Pertanyaan itu merupakan gugatan terhadap sistem fiskal dan sistem keuangan nasional indonesia yang kurang memiliki keterkaitan dengan kehidupan mayoritas masyarakat, khusunya petani.

Bayangkan cukai rokok menyumbang Rp 140 triliun lebih ke dalam APBN 2016 belum termasuk pajak. Sumbangan itu telah melebihi akumulasi pendapatan negara sektor migas, mineral dan batubra. Sumbangan sektor tembakau mencapai 4 kali pemdapatan negara dari bagi hasil minyak.

Namun sistem fiskal kita memang tidak adil. Apa yang dihasilkan oleh petani dan kalangan industri tidak dikembalikan untuk membangun pertanian dan industri itu sendiri. Uang uang itu habis untuk membiayai hal hal yang tidak ada kaitannya dengan kemajuan produksi dan produktifitas nasional.

Ini jelas sistem fiskal yang tidak adil..padahal jika pendapatan negara dari pertanian tembakau dan industri rokok dikembalikan kepada petani dan pembangunan infrastruktur industri, maka dapat dipastikan pertanian yang merupakan fondasi dari ekonomi dan industri yang merupakan tulang punggung ekonomi akan menjadi kekuatan yang mandiri.

Demikian pula dengan sumbangan tembakau terhadap keuangan nasional juga sangat besar. Keuntungan bersih dari hasil industri rokok sepenuhnya dinikmati pemilik usaha terutama asing yang merupakan pemain utama dalam industri ini.

Ketidakmampuan pemerintah menerapkan regulasi keuangan yang efektif membuat uang hasil tembakau terakumulasi di bank bank swasta nasional dan asing. Mestinya pemerintah mampu mengtur agar keuntungan tersebut diwajibkan untuk reinvestasi dalam membangun industri.

Selain itu terhadap perusahaan asing diberlakukan pembatasan repatriasi keuantungan mereka..Dengan demikian akan menjadi kekuatan dalam pembentukan modal nasional. Kewajiban melakukan reinvestasi pada sektor sektor yang mampu mendukung ekonomi nasional.

Mengapa semua ini tidak terjadi..semua dikarenakan arsitel fiskal dan keuangan nasional indonesia yang fakir gagasan.

Orang orang ini terbiasa hidup enak dengan memakan pajak dan cukai tanpa ada gagasan terobosan agar pajak dan cukai menjadi fundamen bagi ekonomi.

Sifat paling manja dari arsitek keuangan indonesia adalah kebiasaannya disuap dengan utang. Akibatnya kepalanya tidak dapat bekerja dengan baik untuk bisa lepas dari ketergantungan utang.

Oleh karena itu presiden jokowi harus mengajak para pembantunya tetsebut untuk metancang alokasi cukai, pajak dan keuntungan hasil tembakau dan rokok bagi penguatan pertanian, struktur industri, kemandirian fiskal dan keuangan nasional. Kecuali kalau fikiran tidak nyambung apa boleh buat…

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa