Kekuasaan Ku dari Gambar untuk Gambar

IMG-20160712-WA0006Oleh: Muslim Arbi

Alkisah, di sebuah Negeri antah berantah. Ada seorang Raja yang rajin sekali Blusukan. Tapi kemana mana harus bawa kamera, karena kamera itu di gunakan untuk memotret diri nya, agar disiarkan ke khalayak ramai. Karena Sang Raja paling senang kalau melihat foto nya selalu di lihat Rakyat nya. Jika foto nya buram, Sang Raja pasti Gelisah dan tidak bisa tidur. Sehingga Sang Raja pasti mencari cara agar kameranya selalu aktif setiap saat, memotret Diri nya Kapan dan di mana pun berada.

Tap, tidak semua Rakyat di Negeri di Negeri antah berantah itu senang dengan kelakuan Rajanya. Ada saja yang ngedumel, Bapak Raja ini kerja nya Blusukan melulu, bawa kamera ke mana2, tapi hasil nya apa ya? Guwe bingung, Blusukan melulu Raja satu ini, tapi ga mau tanggung jawab kalau ada Rakyat mati. Padahal Rakyat mati karena si Rakyat itu nuruti titah si Raja.

Suatu saat, Rakyat di Kota berduyun duyun Pulang Kampung karena ada Hajatan Besar, mau ketemu sanak famili. Mereka pun beramai ramai menelusuri jalan yang di tunjukin oleh si Raja, katanya: Wahai Rakyat kalau, kalian mau aman, selamat dan cepat sampai di Kampung Halaman, monggo lewati jalan yang Ku tunjuki ini. Kalian akan selamat.

Lalu ber duyun duyun Para Pemukim Kota itu pulang Kampung, menelusuri jalanan yang di tunjuki oleh Sang Raja. Karena senang, Pemukim Kota mau mendengar ajakan dan seruan Raja, dengan harapan segera sampai dan cepat bersua sanak famili biar tidak terlambat ikuti Hajatan di Kampung masing2.

Mujur tak bisa di raih, malang tak dapat di tolak, karena saking semangat dan saking ber bondong bondong, Pemukim Kota yang taat Raja itu menempuh Jalanan Raja lalu Datang lah bencana. Sebagian Penghuni Kota itu jatuh Korban dan Mati karena berdesakan.

Berita Kematian itu pun tersiar ke mana2, sampai menyebar ke Berbagai. Negeri Lain. Terjadi kehebooan dan jadi pembicaraan ramai di pelosok Negeri. Tapi Raja tidak ber geming, se akan tidak terjadi apa2. Meski beberapa punggawa kerjaan karena kasihan atau apa, lalu mencoba minta maaf atas nama Kerajaan. Tapi Sang Raja tetap tidak perlihatkan rada penyesalan nya, meski Rakyat nya Mati itu, akibat menurut titah dan anjuran nya.

Kasihan benar, nasib Rakyat di Negeri Antah berantah ini, di bawah kekuasaan Sang Raja yang hanya mementingkan Gambar nya, tanpa memikirkan Derita dan Nasib Rakyat. Itu lah sekilas Riwayat Sang Raja Yang Lebih Membesar kan Potret dan Gambar Diri nya Sendiri, di tengah Masa Berkabung Rakyat yang Mati Sanak Famili nya ketika Pulang dari Kota.

Tepian Kali Brantas,

12 Juli 2016

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa