Jokowi & PDIP Panik Dengan Isu Ganyang PKI

images (11)
Foto/ist : setkab

Klikaktifis.com – Rezim komunis Jokowi begitu panik sekutunya Ahok yang telah dibelanya mati-matian namun upaya itu tetap kandas dengan kekalahan Pilkada DKI.

Dan nasib Ahok pun berakhir tragis di vonis penjara 2 tahun segera masuk oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Intervensi dan tekanan rezim komunis Jokowi tidak mempan dan tidak digubris masyarakat maupun majelis hakim yang masih memiliki nurani”, ujar Rahmat Kardi jubir Qomando Masyarakat Tertindas (Qomat) dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/05).

Menurut Rahmat, kepanikan dan kejatuhan rezim komunis diambang mata, bisa dilihat juga dari sejumlah indikator berikut ini.

Pertama kata Rahmat, Bambang Tri penulis buku ‘Jokowi Under Cover’ diciduk di tempat tinggalnya di daerah Jateng kemudian ditahan Mabes Polri dan di sidangkan dipengadilan secara tertutup tanpa didampingi pengacara.

Kedua, Habib Rizieq Shihab (HRS) dibidik oleh kepolisian atas stetmennya ada logo mirip palu arit dalam lembaran kertas uang RI terbaru.

Ketiga, Jokowi bersikap sangat reaksioner ketika para tokoh masyarakat menuntut tes DNA Jokowi dan komnas HAM berjanji menindaklanjuti. Akibatnya Natalius Pigai komisioner Komnas HAM kini dalam tekanan internal dan eksternal.

Keempat, Menanggap sebagai keturunan PKI tersebut, dalam pidatonya Jokowi begitu emosional dan memerintahkan institusi kepolisian melakukan operasi gebuk.

Kelima, Kapolri Tito Karnavian dalam jumpa persnya membantah bahwa Jokowi telah meminta polisi menggebuk PKI.

Hal ini mengingatkan kita kembali pada stetmen Jokowi yang pernah menelpon dan meminta Panglima TNI dan Kapolri untuk tidak mensweping  hal-hal yang identik dan berbau komunis.

Keenam, Ust. Alfian Tandjung penggiat anti PKI dan berapa pengurus masjid dipanggil polisi terkait  atas ceramah ‘PDIP sarang PKI’, sebut Rahmat

Dia menambahkan, dari kesemua fakta ini dapat ditebak, keturunan PKI yang lagi memimpin negeri ini termasuk elit PDIP sebagai partai tempat berhimpun dan sarang PKI dilanda kepanikan.

Untuk mempertahankan kekuasaannya yang sudah goyah, maka mereka menggunakan kepolisian sebagai alat menghentikan gerakan anti komunisme yang semakin hari semakin tidak terbendungi.

Salah satunya adalah mengkriminalisasi ulama dan aktifis Islam yang notabene sangat mencintai dan selalu menjadi garda terdepan pengawal NKRI dari rongrongan bahaya komprador komunis yang ingin memecah belah negeri ini.

Disisi lain polisi tambah Rahmat, malah membiarkan ahoker (komprador komunis dan penista/ anti agama) bertindak brutal membuat kerusuhan dan makar dimana-mana.

Menuntut kemerdekaan lepas dari NKRI dan membiarkan keturunan Aidit dan Po Antui ini melakukan penghinaan dan fitnah terhadap ulama.

“Jangan biarkan komunisme memecah belah bangsa dan negara Indonesia. Ganyang  PKI”, pungkas mantan Ketua Umum GPI ini.****

 

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa