Jenderal MTK : Prinsip Toleransi & Egaliter Warisan Pendiri Bangsa Harus Terus Di Rawat

IMG-20170814-WA0006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klikaktifis.com – Kapolri Jenderal Pol. Drs. Muhammad Tito Karnavian, MA, Phd (MTK) menyampaikan rasa kagum dan bangsa terhadap gerakan pemuda dan mahasiswa di masa penjajahan kolonial yang mempelopori terbentuknya kebangsaan (nationhood) Indonesia, dan menjadi cikal bakal negara bangsa (nation state) Indonesia.

Terbentuknya nationhoodIndonesia didasari prinsip toleransi dan egaliter gerakan mahasiswa dan pemuda. Itu terlihat dari beragamnya perwakilan pemuda dari seluruh Nusantara yang hadir dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

“Meski berbeda agama, suku, budaya, dan bahasa, para pemuda itu menyatakan ikrar satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, yakni Indonesia,” kata Tito Karnavian dalam simposium nasional yang diselenggarakan organisasi sayap PDI Perjuangan, Taruna Merah Putih, di Balai Kartini, Jakarta, Senin (14/8).

Simposium bertema ‘Bangkit Bergerak, Pemuda Indonesia Majukan Bangsa’ ini dibagi dalam 3 sesi.

IMG-20170814-WA0011

Sesi pertama dengan topik “Intoleransi, Ancaman bagi Kebhinnekaan dan Persatuan Bangsa”, menampilkan narasumber Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid, dan Ketua UKP-PIP Yudi Latif.

Bersatu Dalam Keberagaman

Kapolri mengatakan, kebangsaan Indonesia bisa terbentuk karena para tokoh pemuda di masa-masa awal perjuangan sepakat untuk bersatu dalam keberagaman (unity in diversity).

Mereka tidak mau menonjolkan perbedaan yang ada, dan sebaliknya mengedepankan kepentingan bersama (common interest) yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, damai, adil, dan makmur.

Dengan spirit itulah Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

“Kita harus terus merawat prinsip toleransi dan egaliter yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.

Nikmat paling indah dalam memperingati Kemerdekaan RI ke-72 adalah kita masih bisa merawat bhinneka tungal ika, atau kesatuan dalam keberagaman sebagai bangsa Indonesia,” kata Tito Karnavian.

Dalam kesempatan tersebut, Tito juga memaparkan berbagai dinamika dalam percaturan politik internasional, seperti gelombang demokrasi liberal yang melanda dunia pasca berakhirnya era perang dingin, fenomena non-state actor, serta posisi Indonesia di tengah persaingan hegemoni negara-negara superpower di Kawasan Asia-Pasifik.

Menurut Tito, non-state actoradalah pelaku-pelaku bukan negara namun punya jaringan internasional yang kuat sehingga kegiatannya punya pengaruh besar terhadap suatu negara.

Contohnya antara lain Palang Merah Internasional (Red Cross), FIFA yang mengendalikan olahraga sepakbola di dunia, lembaga-lembaga keuangan tingkat dunia.

Dan ILO yang mengorganisir buruh sedunia. Organisasi yang mengendalikan aksi-aksi terorisme di dunia, seperti Al Qaida dan ISIS, juga termasuk dalam kelompok non-state actor yang pergerakannya bersifat tertutup.

Tito mengingatkan, Indonesia yang kaya sumber daya alam, saat ini menjadi incaran kelompok non-state actor untuk menanamkan pengaruhnya. Negara-negara besar seperti AS dan China yang saat ini bersaing di kawasan Pasifik juga berebut untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia.

“Pergulatan politik internasional tentu akan memberikan pengaruh terhadap stabilitas nasional Indonesia. Tidak mustahil, kekuatan-kekuatan dari luar itu akan menggunakan kekuatan yang ada di dalam negeri untuk menjadi alat kepentingan mereka,” kata Tito.

Dalam konteks itu, Tito menegaskan perlunya bangsa Indonesia untuk terus memperkuat persatuan dan ketahanan bangsa.

Jika tidak, Indonesia akan mudah dimasuki oleh paham-paham asing yang radikal dan tidak sesuai dengan falsafah Pancasila. Pada akhirnya, pengaruh asing itu bisa memecah belah bangsa Indonesia.****

Source : sayangi

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa