Jember Kota Santri Darurat Miras

images (3)Foto : ilustrasi

Oleh:

Ulfiatul Khomariah

Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UNEJ

Tim Penulis The Voice Of Muslimah

Miris! Jember yang terkenal dengan kota seribu pesantren ternyata darurat Miras. Akhir-akhir ini seringkali ditemukan perdagangan Miras di kota Jember.

Sebagaimana yang dilansir dalam (prosalinaradio.com), diduga menjual minuman keras tanpa izin, toko milik warga Desa Glagahwero-Kalisat berinisial EF, Jumat (8/9/2017) malam, digerebek polisi.

Penggerebekan ini merupakan pengembangan dari penangkapan tersangka YS yang ditangkap karena mabuk berat di jalan desa candijati Kecamatan Arjasa.

Mari kita telusuri fakta korban kasus miras yang terjadi di Jember pada bulan-bulan sebelumnya. Akibat pesta miras oplosan, Kiki Fatma (14), warga Dusun Kebonsari, Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, tewas, Minggu (5/3/2017)(suarajatimpost.com)

Pencabulan terhadap ABG (Anak Baru Gede) putri 18 tahun menimpa salah seorang warga Dusun Mandaran, Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, Jember.

Korban yang berinisial PRS diduga disetubuhi 7 remaja lelaki yang juga temannya sendiri. Berdasarkan pengakuan korban, pencabulan yang menimpa dirinya terjadi Selasa (2/5/2017).

Korban mengaku bahwa sebelum pencabulan itu terjadi, ia melakukan pesta miras bersama teman-temannya. (jember.memo-x.com)
Selanjutnya di bulan yang sama petugas patroli operasi pekat semeru berhasil meringkus 14 orang muda mudi Jumat sore (26/05/2017).

Saat menggelar pesta miras di rest area Jubung. Untuk memberikan efek jera, para pelaku diamankan di Mapolres Jember sampai di jemput oleh orang tuanya. (kissfmjember.com)

Fakta tersebut merupakan segelintir kejadian dari banyaknya kasus miras yang terjadi di Jember. Namun anehnya, kejadian semacam ini terus terjadi berulang-ulang setiap tahunnya.

Meski sudah banyak kejadian tewasnya seseorang yang diakibatkan oleh miras, tapi tidak menyurutkan sekelompok pemuda untuk melakukan pesta yang merenggut nyawa tersebut.

Sebagai kota yang terkenal dengan julukan kota santri, sungguh miris bahwa ternyata miras atau khamr tidak diharamkan secara mutlak untuk warganya. Islam secara tegas dan jelas telah mengharamkan khamr, sehingga pembolehan miras jelas pembangkangkangan terhadap hukum Islam.

Negara yang katanya ingin membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa tentunya tidak akan membolehkan sesuatu yang jelas diharamkan oleh agama.

Islam dengan jelas melarang minuman keras dan ini telah disebutkan dalam Alqur’an dan hadits secara nyata. Minuman keras yang juga disebut dengan istilah khamr, beberapa kali disebutkan dalam islam dan semua ayat tersebut melarang umat muslim untuk meminum minuman keras.

Dalam surat Al Maidah disebutkan bahwa perbuatan meminum minuman keras atau khamr adalah perbuatan syetan yang harus dihindari oleh umat muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs Al Maidah : 90).

Tentu sudah kita ketahui berbagai macam cara dalam menangani kasus miras sudah dilakukan oleh pemerintah dan polri. Mulai dari membuat perda tentang pengelolaan miras, melakukan razia terhadap peredaran miras ilegal, melakukan penertiban terhadap penjual miras yang tidak sesuai dengan aturan.

Serta menggalakkan sambang kepada masyarakat untuk menyampaikan himbauan agar menghindari miras. Namun hal tersebut tidak cukup dalam menangani kasus miras yang terjadi di negeri ini, buktinya penjual dan pengguna miras masih terjadi setiap tahunnya. Mengapa?

Perlu kita sadari bahwasanya di negeri yang menganut sistem kapitalis ini justru miras sangat mudah ditemukan di gedung-gedung mewah, hotel, losmen, pub, diskotik hingga warung-warung kecil.

Pemerintah bisa saja berjuta-juta kali berkampanye memberantas miras, namun tetap saja upaya itu belum menuai hasil. Karena upaya pemberantasan hanya ditujukan kepada penjual, pengedar dan pemakainya saja, bukan ditujukan kepada pembuat dan pemberi ijin (yang melegalkan).

Jika pemerintah secara sungguh-sungguh memberantas miras, maka langkah pertama dan utama yang harus dilakukan adalah menutup pembuatnya (pabrik yang mempoduksinya) dan melarang miras secara mutlak, serta memberikan sanksi yang tegas bagi para pelaku miras.

Wallahu a’lam bish shawwab…

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa