Jadi Anak Presiden Ternyata Banyak Tak Enaknya?

images (8)
Ist/net

Oleh :

Hersubeno Arief

Konsultan Media dan Politik

Banyak yang menduga menjadi anak, menantu atau bahkan cucu presiden itu rasanya hanya dua : enak dan enak sekali.

Dugaan yang tidak terlalu salah. Namanya juga anak orang nomor satu di suatu negara. Mereka masuk dalam kelompok manusia super penting, ‘very very important person (VVIP)’ Mau apa saja tinggal minta. Kepingin apa saja tinggal kedip mata. Semua segera tersedia.

Namanya dugaan, bisa jadi salah, bisa juga benar. Namun bila melihat apa yang dialami anak, menantu, cucu Presiden Jokowi hari-hari ini, rasanya lagi giliran banyak tidak enaknya.

Lihatlah pemberitaan di media massa yang banyak menyoroti keikutsertaan anak, menantu dan cucu Presiden Jokowi yang tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Turki dan Jerman.

Sejumlah pengamat menilai Presiden tidak peka. Saat masyarakat tengah dicekik berbagai persoalan ekonomi, mulai dari kenaikan listrik yang naik sampai 300 persen, semua harta kekayaan dan penghasilan dipajaki, hutang negara kian menggunung, lha kok Presiden malah ngajak plesiran keluarganya ke luar negeri pakai anggaran negara.

Ada pengamat yang menyoroti karena “plesiran” itu citra atau pencitraan yang Jokowi bangun sebagai figur yang sederhana, ternyata tidak sesuai dengan realita keluarganya.

Jokowi memang tetap sederhana memakai kemeja putih tangan panjang murahan, sesekali pakai sepatu yang rada mahalan. Tapi anak dan istrinya ternyata menggunakan tas bermerek dengan harga puluhan juta. Nah kok malah jadi kemana-mana.

Di sosial media komentarnya jauh lebih pedas dan serem. Mulai hanya sekedar kata-kata, kalimat, tulisan, analisa, meme sampai Vlog. Namanya juga dunia maya, yang komentar juga suka-suka.

Agaknya kalau Presiden atau keluarganya membaca bakal sebel dan sakit kepala. Atau jangan-jangan cuma ‘mesam-mesem’ ketawa dan menganggap semuanya tidak ada. “Ora mikir. Ora urus.”

Bagi yang sedang sebel, kesel atau apapun perasaan Anda kepada Presiden Jokowi dan keluarganya, ada baiknya ingat pada pepatah “rumput di halaman tetangga, lebih hijau dibandingkan dengan rumput di halaman sendiri.

Pepatah itu menggambarkan betapa orang sering merasa iri dengan apa yang.dikira sebagai keberuntungan orang lain. Hal itu penting agar kita bisa mawas diri.

Bagi yang sudah punya anak, merasa kok anak orang lain lebih pinter, lebih berhasil. Bagi yang belum punya anak, sering merasa istri orang, kok lebih cantik dari istri sendiri.

Lha kalau kita membanding-bandingkan dengan presiden, pastilah kita merasa iri di segala bidang. Presiden kan manusia paling berkuasa, jadi ya punya segala-galanya.

Untuk orang-orang yang masuk dalam kelompok ini barangkali pepatah yang berlaku “ Rumput di Istana Merdeka, kok selalu jauh-jauh lebih hijau dibandingkan dengan rumput di halaman sendiri.” Itu kalau kebetulan rumah Anda ada halamannya.

Dalam khasanah pemikiran Jawa ada petuah leluhur yang berbunyi “sawang sinawang.” Saling melihat. Yang melihat, merasa yang dilihat kok lebih enak, lebih beruntung, lebih berbahagia. Begitu sebaliknya.

Lebih lengkapnya pitutur itu berbunyi “Urip iku mung sawang sinawang. Mula aja mung nyawang sing kesawang.”

Hidup itu sesungguhnya urusannya hanya soal saling lihat atau dilihat. Makanya jangan hanya melihat apa yang terlihat.

Makna petuah itu sungguh dalam. Kita diajar selalu berpikir positif, agar jangan gampang iri hati. Ketika melihat orang yang tampaknya sangat berbahagia, tapi sesungguhnya belum tentu dalam hatinya berbahagia. Orang barangkali hanya bisa melihat, enak sekali ya keluarga Presiden Jokowi, sampai cucunya yang baru berusia 1 tahun sudah bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Tapi coba bayangkan, bila Anda berada pada posisi Presiden Jokowi. Apalagi kalau mereka merasa tidak ada yang salah dengan apa yang sedang mereka lakukan. “Apa salahnya Presiden sesekali kumpul dengan keluarga. Presiden kan sangat sibuk. Kalau di Jakarta pasti sulit bertemu?” Coba berempatilah.

Sayangnya petuah tadi tidak berhenti hanya pada empati, mencoba memahami orang lain. Justru yang paling utama adalah mawas diri, instrospeksi. ‘Mula aja mung nyawang sing kesawang’, maka jangan hanya melihat apa yang terlihat.

Maknanya sangat-sangat dalam. Kalimat itu mengandung makna sadar diri, selalu menyadari siapa kita dan apa posisi kita. Jangan hanya melihat maknanya secara harfiah.

Keluarga Presiden juga dituntut untuk peka, sensitif pada nilai-nilai kepatutan dan situasi prihatin yang tengah dialami rakyat.

Dekonstruksi makna

Sebelumnya “hanya” karena mengucapkan “dasar wong ndeso,” Kaesang Pangarep, salah seorang anak Presiden Jokowi sampai harus dilaporkan ke polisi karena dinilai melakukan penghinaan, mengucapkan ujaran kebencian.

Untungnya atau bisa juga celakanya –tergantung dari sudut pandang mana Anda melihatnya– polisi bertindak sigap dengan memutuskan tidak melanjutkan penyelidikan, karena pelapor dianggap mengada-ada.

Hmmm jadi ternyata dalam situasi yang tidak enak, jadi anak Presiden ternyata juga tetap banyak enaknya.

Perdebatan soal keluarga Presiden Jokowi ini menjadi relevan dan signifikan bila kita melihatnya dari sisi etika, marketing maupun komunikasi politik, terutama berkaitan dengan citra atau pencitraan.

Soal (citra) sederhana Presiden Jokowi memang tidak ada duanya. Termasuk bila dibandingkan dengan presiden dan keluarga presiden sebelumnya.

Contohnya Kaesang, anak muda lulusan sebuah perguruan tinggi di Singapura ini menyebut dirinya sebagai “Kolektor Kecebong.”

Bagi Anda yang belum tahu, kecebong itu adalah anak kodok. Kodok –kecuali yang bisa disantap–tidak ada harganya, apalagi anaknya. Nah Kaesang anak Sang Presiden memilih menjadi kolektornya.

Langkah Kaesang ini sangat berbeda jauh dengan kebiasaan anak-anak presiden di Indonesia, bahkan di negara lain.

Biasanya seorang anak presiden koleksinya berkaitan dengan hal-hal yang mahal dan wah. Ada yang menjadi kolektor mobil, pesawat, rumah mewah, perhiasan mahal, perempuan cantik, lelaki tampan bagi yang perempuan, atau yang rada positif menjadi kolektor gelar akademis dari sejumlah perguruan tinggi ternama. Kaesang sekali lagi adalah “kolektor kecebong.”

Bukan hanya anak presiden atau anak orang kaya. Anak-anak kota pasti tidak pernah ada yang terpikir menjadi “kolektor kecebong” kecuali mereka yang tergila-gila dengan pelajaran biologi.

Kecebong selain murahan, juga tidak ada indah-indahnya. Kalau sampai ada yang mau menjadi kolektornya, pasti dia setidaknya adalah anak kampung, “wong ndeso” yang tidak cukup punya uang, atau tidak punya selera.

Karena Kaesang bukanlah ‘wong ndeso’ seperti bapaknya, maka selain makna harfiah, “kolektor kecebong” bisa dilihat dari sisi komunikasi politik adalah sebuah dekonstruksi.

Sebuah cara untuk menurunkan, mengurangi, menolak steoreotipe dalam hal ini seorang anak presiden yang kesannya selalu glamour, wah. Bersamaan dengan itu Kaesang sedang membangun sebuah image, brand, merek.

“Kolektor kecebong” adalah sebuah image, citra yang ingin dilekatkan, sebagai sosok yang sederhana, bersahaja, wong ndeso dalam konotasi positif.

Citra atau pencitraan itu sesungguhnya bertujuan melengkapi, memperkuat citra Presiden Jokowi yang mengaku sering dihina karena memiliki wajah “wong ndeso.”

Sayangnya citra, pencitraan atau brand itu kini mulai tergerus dengan tas ‘branded’ bermerek dengan harga mahal milik istri dan anak perempuan Jokowi, ikut plesiran rame-rame ke luar negeri dengan biaya negara, seperti banyak dituduhkan pengamat. Dengan ucapan Kaesang yang terkesan merendahkan asal-usul bapaknya dengan ucapannya “dasar wong ndeso.”.

Dalam strategi marketing, brand atau merek, merupakan bagian terpenting dari sebuah produk. Namun yang harus diingat, antara produk dengan brand harus nyambung. Bila brand dan produk yang dijual berbeda, maka pembeli bisa kecewa.

Dalam bahasa Miing Bagito, komedian yang pernah menjadi politisi “ibarat orang menjual kecap dalam kemasan Coca Cola.

Bisa dibayangkan bagaimana reaksi pembeli. Kecewa, marah? Yang paling ringan mereka tidak akan membeli kembali produknya. Sementara yang sangat kesal bisa mengadukan ke polisi karena merasa ditipu.

Ngomong-ngomong kalau ada pemilih merasa kecewa atau ditipu, apa bisa melaporkannya kepada polisi? Kalau toh tetap nekat melapor, apakah kasusnya tidak akan dihentikan karena dianggap mengada-ada? end

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa