Indonesia Miliki Komparatif Advantage Tenaga Kerja Murah (Haruskah dimanfaatkan?)

images
Ilustrasi/net

Oleh

Andrew Parengkuan

Ketua Departemen Bank & Lembaga Keuangan

Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Rumah Gerakan 98

Indonesia memiliki Komparatif Advantage, yaitu besarnya tenaga kerja, dan demografik angkatan kerja yang besar.

Kaum Kapitalis akan melihat hal ini sebagai Peluang; yaitu yaitu tenaga kerja yang murah.

Sehingga berbondong mereka membuka usaha yg padat karya di Indonesia; seperti Pabrik-Pabrik.

Rakyat diberi pekerjaan di pabrik-pabrik dan tempat-tempat kerja lainnya, tetapi dengan upah yang sangat rendah.

Penguasa akan berkata, kami telah berhasil menyediakan lapangan kerja bagi rakyat. (dengan upah murah, tentunya).

Investasi sektor riil berkembang, sehingga roda perekonomian berputar dan rakyat menikmati perputaran ekonominya.

Iya tapi kekayaan dan keuntungan terbesar lari kepada para Kapitalis yang jadi makin kaya dan para Koruptor yang kecipratan, sedangkan rakyat terbesar masih tetap tidak dapat hidup layak.

Walaupun terlihat terjadi pertumbuhan ekonomi, tetapi kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar.

Para aktivis mengatakan bahwa ini adalah eksploitasi manusia dengan upah rendah.
Maka mulailah diorganisir para buruh untuk

menuntut kenaikan upah yang tidak akan pernah ada habisnya, karena ada kepentingan juga (politik dan uang) di dalam pemberdayaan basis massa tersebut; dan pada kenyataannya memang upah para buruh sangat jauh dari disebut layak.

Hal itu terjadi karena suplai tenaga kerja padat karya begitu melimpah, sehingga seperti hukum demand dan supply, jika supply melimpah akan menyebabkan harga (upah) turun.

Dan jika tuntutan menaikkan upah makin gencar, para pengusaha akan mulai berhitung, apakah akan melanjutkan usaha dengan membayar upah tinggi, atau memindahkan ke negara lain.

Atau menutup usahanya dan mengalihkan investasinya kepada Instrumen Keuangan, dimana mereka tidak perlu membayar tenaga kerja jika Invest disitu.

(Dalam hal ini ada perusahaan yang membayar pesangon dengan layak, ada perusahaan yang memilih pailit, tentunya dengan berbagai modus)

Di satu sisi, kebutuhan tenaga kerja dengan tingkat kompetensi tinggi (yang upahnya memadai) masih sangat sulit dipenuhi.

Sudah saatnya kita memikirkan bagaimana menghasilkan Tenaga Kerja yang memiliki Kompetensi Tinggi yang siap berkompetisi bahkan dengan tenaga-tenaga kerja asing, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri.

Dengan demikian mereka akan dibayar dengan upah tinggi.

Sudah saatnya kita tidak lagi menggunakan ajaran Kapitalis, yang mengatakan Indonesia memiliki Komparatif Tinggi di bidang Tenaga Kerja yang berlimpah dengan harga murah, sehingga Industri padat karya sangat tepat di Indonesia; tetapi mulai memikirkan bagaimana Industri yang ada akan membayar upah yang tinggi.

Jangan lagi menggunakan ajaran penjajah, yang ingin rakyat tetap bodoh, sehingga selalu bisa dieksploitasi dengan upah yang murah.

Sudah saatnya kita mulai mengajarkan mental wirausaha kepada rakyat Indonesia, sehingga tidak perlu lagi menjadi jongos kepada para kapitalis yang akan membayar dengan upah murah.

Dan jangan lagi berkata bahwa ketidakmampuan untuk berwirausaha, adalah karena ketiadaan akses modal; hal ini hanya diungkapkan oleh mereka yang tidak pernah memulai usaha.

Para pengusaha yang mulai dari nol dan berhasil, berkata bahwa Faktor Utama bagi mereka untuk memulai usaha adalah Kepercayaan dari orang & Networking, bukan modal yang besar.

Oleh karena itu, ajarlah rakyat menjadi orang yang dapat dipercaya dengan memiliki Integritas tinggi, serta ajarlah mereka untuk membangun jaringan sehingga mudah untuk membangun usaha.

Dan bagi para aktivis, sudah saatnya kita berhenti mengeksploitasi para buruh jika hanya demi kepentingan politik dan uang saja; akan lebih bermanfaat jika kita mengajarkan para buruh untuk keluar dari kehidupan yang hanya sebagai buruh saja.

Dengan meningkatkan skill dan kompetensi mereka, sehingga mereka akan memperoleh pekerjaan dengan upah yang tinggi atau siap untuk berwirausaha.

Kepada Rezim Penguasa, kehidupan makin sulit tuan; harga-harga naik terus, tetapi penghasilan tidak naik, sehingga daya beli sangat rendah.

Turunlah kemari, dan perhatikan kehidupan kami; jangan hanya berpikir demi pemenangan Pemilu nanti, tapi berpihaklah kepada rakyat, walaupun beresiko kerja-kerja pemenangan pemilu jadi tidak terurus, karena lebih fokus mengurus rakyat dibandingkan pemenangan pemilu.

Percayalah, Hati Rakyat ada dalam Tangan TUHAN, DIA-lah yang akan mendudukkan atau menurunkan seseorang, melalui pilihan rakyat.

Jika TUHAN akan mendudukkan kalian sebagai penguasa atau sebagai wakil rakyat, tidak akan ada yang bisa menghalangi, walaupun terdapat berbagai Ikhtiar manusia untuk menghentikannya.

Dengan demikan kalian ada menjadi penguasa dan wakil rakyat yang Amanah serta takut akan TUHAN.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa