Indonesia Bergerak Sayangkan Pro Ahok Tak Hadir Dalam Diskusi Soal Jakarta

img-20160915-wa0073

klikaktifis.com – Indonesia Bergerak adalah kumpulan kaum menengah ibukota, masyarakat urban yang gerah melihat pola kepemimpinan Jakarta yang gaduh di tangan Ahok.

Memandang buruk nya managemen pemerintahan Ahok dari perspektif ekonomi, politik, sosial budaya dan etika kepemimpinan.

Maka tergerak dari kami untuk mengelar diskusi ini tutur ketua panitia pelaksana Erwin H. Al Jakartaty di gedung juang Jakarta, Kamis (15/9)

Diskusi yang bertema ‘Jakarta tanpa Ahok’ lahir dari ide-ide brilian teman-teman Indonesia Bergerak.

Kelompok ini miris melihat kondisi Jakarta saat ini, sehingga mereka berkeinginan mengadakan diskusi tersebut dengan melibatkan semua kalangan baik yang pro dan kontra  terhadap Ahok, biar terlihat netral dan tidak memihak, tegasnya.

Pantauan redaksi, dalam undangan yang diedarkan melaui pesan singkat diskusi tersebut menghadirkan Rachmat Hs dari forum betawi, Ridwan saidi Budayawan betawi,  Adhie Massardi (GIB), Ubaydillah, Kusfiardy dan Amalia Ayuningtyas (Teman Ahok).

Menurut Erwin, perkembangan Jakarta selama di bawah kepemimpinan Ahok sebagai gubernur, kebijakannya membuat rakyat merasa resah, akibat kebijakan kontroversial dengan budaya masyarakat Jakarta.

Di kesempatan yang sama Adhie Massardi mengatakan, munculnya sikap anti cina karena kebodohan Ahok yang menodong pengembang untuk membangun rusun dan Ahok mencoba untuk memasukkan kembali TNI Polri untuk berpolitik kembali dengan dilibatkannya untuk melawan rakyat kecil, padahal TNI/Polri merupakan aparatur Merah Putih bukan militer merah, cetusnya.

“Ahok itu menolak demokrasi dan tidak mau menerima kritik dari rakyat. Ini merupakan bukti bahwa sosok Ahok tidak ideal menjadi sosok pemimpin”, serunya.

Kata Ardhi perkataan Ahok yang di sampaikan sebagai kebijakan apabila tidak tertuang dalam APBD itu omong kosong, hanya retorika saja. Seorang kepala daerah harus mampu mengelola anggaran dengan baik.

Gubernur DKI telah di berikan masukan oleh BPK dalam anggaran APBD tahun 2015. Namun hal itu masih saja tidak di gubris oleh gubernur.

Penyerapan anggaran tahun 2016 berkisar 38%,  gubernur DKI tidak bisa menjalankan pemerintahan nya dengan maksimal, jangan jangan gubernur sekarang tidak paham sistem, bebernya.

Sementara itu budayawan Betawi Ridwan saidi mengatakan, untuk Pilkada yang akan datang, Ahok itu jangan di pilih, cuma itu solusi untuk melawan dia.

Lanjutnya, penggusuran mesjid di Taman Ismail Marzuki yang konon katanya mau di bangun ulang sampai detik ini tidak pernah di bangun lagi.

“Pembongkaran mesjid di TIM itu ada kepentingan cukong. Sehingga mesjid yang TIM tidak kunjung di bangun kembali. Begitu pula dengan kasus reklamasi yang terjadi sekarang adalah kepentingan dari pengembang”, tandasnya.

Kata babeh Ridwan, penggusuran warga di pinggir kali dan di pinggir rel yang tidak mempunyai batas. Ini merupakan sikap kesewenang wenangan Pemerintah DKI.

Pemerintah DKI Jakarta tidak mempunyai aset yang tertulis termasuk tanah luar batang, rawajati, namun kesemuanya itu di klaim sebagai milik Pemda.

“Kita sayangkan pihak bersenjata di manfaatkan dalam hal ini, ungkapnya.

Dia menambahkan, pembangunan apartemen dan hotel yang menyebabkan warga Jakarta terusir dari tanah nya sendiri.

Penggusuran masjid di Taman Ismail Marzuki (TIM) tidak ada satu media online pun yang meliput, ini bukti keprihatinan kami terhadap warga DKI Jakarta yang di jajah.

“Negara Indonesia sekarang sudah mulai di kuasai oleh cina berawal dari kasus sengketa laut cina selatan, kita tunggu keputusan PBB nanti. Perang laut cina selatan akan mengubah wajah Asia”, jelasnya.

Lanjut babeh, sembilan naga menurut saya (sembilan barongsai) ini sekarang yang menguasi Republik Indonesia. Revolusi apabila ini suatu pilihan untuk melengserkan dia, apa boleh buat. Mungkin pemerintah sekarang sudah memilih untuk di revolusi.

Dalam diskusi ini panitia menyangkan tidak hadirnya perwakilan dari teman Ahok atau yang pro Ahok.

Sampai diskusi mau berakhir panitia belum bisa menghubungi team Ahok yang di wakili Amelia untuk hadir di forum diskusi.

Di akhir pertemuan ketua panitia pelaksana Erwin Aljakartaty menyampaikan, kami tidak ingin subyektif memberikan penilaian.

Dengan menggelar diskusi ini kami berharap dapat mendengar langsung aspirasi berupa kegelisahan yg diwakili oleh para pembicara.

Sayang nya pihak Pro Ahok yg kami undang tidak hadir. Jadi obyektifitas yang kami harapkan tidak tercapai.

“Seharusnya kalau mereka peduli dengan kemajuan Jakarta, turut hadir agar ada perimbangan pendapat. Toh sifat utama dari diskusi ini kan silahturahmi, tutupnya.(zkr)

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa