HTI dan Islam Liberal, Waspadai Pluralisme

images-45
Foto : ilustrasi/net

Klikaktifis.com –  Ustadz Ismail Yusanto boleh di katakan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (Jubir HTI) sepanjang masa. Posisinya sebagai Jubir HTI seolah tak tergantikan.

Pembawaannya yang tenang, pemikirannya yang cerdas, wawasannya yang luas menjadi modal dirinya tampil dalam diskusi-diskusi dan perdebatan.

Berikut wawancara dengan Uztadz Ismail tentang cara pandang HTI soal pluralisme.

Bagaimana pandangan HTI terhadap pluralisme?

Pertama kita harus membedakan antara pluralitas dan pluralisme. Pluralitas adalah sebuah keadaan dimana di tengah masyarakat terdapat banyak ragam ras, suku, bangsa, bahasa dan agama. Ini adalah sebuah kenyataan masyarakat sebagai hasil dari proses-proses sosiologis, biologis dan historis yang telah berjalan selama ini. Secara biologis Allah memang menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dengan warna kulit, bentuk muka dan rambut serta bahasa yang berbeda-beda.

Sedang secara sosiologis Karena manusia bebas memilih maka wajar bila manusia mempunyai keyakinan atau agama yang berbeda-beda. Jadi ragam agama sebagaimana juga ragam ras, suku bangsa dan bahasa adalah kenyataan yang sangat manusiawi karenanya semua harus kita terima sebagai sebuah kenyataan masyarakat. Sementara berbeda dengan pluralitas, pluralisme adalah paham yang menempatkan keragaman sebagai nilai paling tinggi dalam masyarakat.

Puralisme agama adalah sebuah paham yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Agama apapun dalam pandangan paham ini hanyalah merupakan jalan yang berbeda untuk menuju titik kebenaran yang sama (other way to the same truth).

Karena itu tidak boleh ada selain kebenaran atau truth claim dari agama manapun bahwa agama itulah yang paling benar dan juga tidak boleh ada selain keselamatan (truth salvation) bahwa hanya bila memeluk agama itu saja umat manusia akan selamat dari siksa neraka menurut paham ini karena agama yang ada hanya jalan yang berbeda menuju titik kebenaran yang sama maka semua agama pasti akan menghantarkan pemeluknya menuju surga.

HTI memandang pluralitas dalam arti keragaman ras, suku, agama, bangsa, bahasa dan agama harus kita terima. Sedang puralisme apalagi pluralisme agama harus kita tolak karena bertentangan dengan prinsip-prinsip Akidah Islam.

Apakah bahaya puralisme? Apakah bahaya itu hanya menyangkut pluralisme teologi sedang pluralisme sosiologi tidak?

Pluralisme apalagi pluralisme agama tentu sangat berbahaya. Pertama secara i’tiqadi paham ini merusak Aqidah Islam. Pluralisme agama adalah sejenis sinkretisme, yakni paham yang menyamadudukan agama. Artinya semua agama menurut paham ini hakekatnya sama.

Yang berbeda hanyalah bentuk luarnya atau aspek eksoteris nya saja sedang aspek esoteris nya atau inti ajaran agama, semuanya sama, yakni menuju kepada Tuhan yang sama. Paham semacam ini jelas bertentangan dengan Akidah Islam di mana menurut Aqidah Islam hanya Islam agama yang benar, yang diridhoi Allah, dan barangsiapa mencari agama selain Islam pasti tertolak dan di negeri akhirat termasuk orang yang merugi karena pasti akan masuk neraka selama-lamanya.

Sementara secara empiris, paham ini membuat orang tidak lagi kokoh memegang akidah dan Syariah Islam bahkan akan cenderung memusuhi karena menganggap ide penerapan syariah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, misalnya, berarti hanya mengunggulkan agama Islam dari agama lain yang ada. Inilah salah satu faktor yang membuat mengapa upaya penerapan Syariah di negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini terasa begitu sulit karena tak henti ditentang oleh umat Islam termasuk tokoh-tokohnya yang berpandangan pluralisme tadi.

Karena itu fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme agama sudah sangat tepat dan bila ada upaya yang ingin menghapus fatwa itu harus tegas ditolak.

Apakah berarti HTI tidak mengakui keragaman agama, suku dan bangsa?

HTI sangat mengakui keragaman agama, suku, ras, bangsa dan bahasa. Sekali lagi itu semua adalah realitas dari pluralitas masyarakat, dan ingat Islam tidak pernah merasa asing dengan pluralitas masyarakat dalam sejarahnya. Semua masyarakat yang dibentuk Islam di masa lalu termasuk masyarakat Islam pertama yang dibentuk Nabi di Madinah selalu adalah masyarakat plural.

Ketika risalah Islam diturunkan untuk membawa rahmat kepada seluruh alam itu artinya rahmat kepada pluralitas masyarakat, maksudnya sebuah masyarakat plural yang terdiri dari ragam ras, suku, bangsa, bahasa dan agama, itu benar-benar akan mendapatkan kebaikan bila diatur dengan syariah Islam.

Bagaimana Syariah memposisikan non-muslim berkaitan dengan agama dan hak-hak pokok mereka?

Islam memposisikan non muslim dengan sangat baik. Mereka akan dianggap sebagai bagian integral dari masyarakat Islam meski mereka warga non muslim, harus tetap dihormati dan tidak boleh dizalimi, harta dan kehormatan mereka tidak boleh dicederai. Mereka juga tidak boleh dipaksa masuk Islam. Sebagai ahli dzimmah mereka berhak mendapatkan perlindungan agama, harta, jiwa dan kehormatan.

Itulah mengapa dalam sejarah peradaban Islam warga negara non muslim bisa hidup aman, damai dan sejahtera di tengah-tengah mayoritas warga muslim. Tidak sekalipun pernah tercatat pemberontakan warga non muslim dalam masyarakat Islam.

Bagaimana menyikapi pro kontra terhadap pemikiran kebijakan Gus Dur?

Menanggapi pemikiran dan kebijakan Gus Dur semua harus dikembalikan kepada ketentuan Islam. Apa saja pemikiran dan kebijakan Gus Dur yang bertentangan dengan akidah dan Syariah Islam, misalnya tentang pluralisme agama, tentang upaya untuk mencabut larangan PKI

Atau sikap dia yang membela Ahmadiyah dan lainnya semua itu harus ditolak. Sementara apa saja pemikiran dan kebijakannya yang baik yang sesuai dengan akidah dan Syariah boleh kita dukung. Kini beliau sudah meninggal, semoga semua kesalahannya diampuni dan amal baiknya diterima Allah. Amin

(Buku Amunisi Kata, wawancara Ustadz Ismail Yusanto, cetakan pertama 2016)

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa