Hilangnya Kesadaran Rasionalitas Wanita Abad 21

img-20160914-wa0081

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mujtabah Fatururrahman

Mahasiswa Pasca Sarjana STIMA IMMI Jakarta

Kemajuan zaman yang ditandai dengan semakin kompleksnya perangkat yang dibutuhkan untuk pemuasaan kebutuhan manusia merupakan bentuk keberhasilan manusia dalam membangun peradabannya.

Keberhasilan dibidang IPTEK merupakan bukti dari serangkaian pemikiran manusia yang konstruktif dan dinamis, kemudian refleksi dari serangkaian pemikiran itu tentu memiliki effek langsung terhadap perubahan tatanan hidup manusia, baik perubahan sosial, ekonomi, politik, budaya maupun Life Style.

Perubahan-perubahan tersebut tentu memiliki dampak yang bersifat langsung maupun tidak langsung, jangka pendek maupun jangka panjang, entah itu perubahan berdampak positif maupun berdampak negatif.
Namun, yang menjadi titik berat dalam pembahasan ini adalah perubahan gaya hidup, pola pikir serta eksistensi wanita modern di abad twenty one.

Realita Twenty one menunjukan pada wanita bahwa wanita bukan lagi orang-orang yang selalu berkiprah pada wilayah Domestik (Dapur, sumur dan kasur). Namun, wanita 21 (Wanita abad twenty one) telah banyak memainkan peranannya disegala lini kehidupan. Wanita 21 ada dimana-mana, wanita 21 terus berupaya memainkan peranan mereka, baik itu yang bersifat teknis maupun yang strategis, mulai dari kuli pasar/bangunan sampai pada level kepemerintahan.

Bahkan banyak wanita 21 mengatakan wilayah Domestik (Dapur, sumur dan kasur) tidak relevan lagi dengan wanita-wanita 21. Wanita 21 merupakan sosok yang sangat penting disegala sektor, wanita tidak bisa lagi dianggap lemah.

Awal mula sosok ini muncul dengan konsep Emansipasi Wanita (kesetaran gender) oleh tokoh-tokoh ternama yaitu Susan B. Anthony, Elizabeth Cady Stanton, Marry Wollstonecraft, dan RA Kartini. Kemudian gerakan-gerakan feminisme yang terus disuarakan untuk terus melaju mendapatkan cita-cita yaitu Keterbukaan.

Semangat keterbukaan itulah menjadi acuan mereka untuk terus berupaya melakukan gerakan-gerakan Emansipasi wanita. Semangat keterbukaan di Indonesia ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan Kartinisme yang terus dipropagandakan setiap tahunnya.

Zaman keterbukaan merupakan suatu hal yang dicita-citakan oleh umat manusia manapun, karena dengan semangat keterbukaan ini manusia merasa bebas, merdeka, dan mendapatkan otonominya dalam menafsirkan, menjalani, serta mengevaluasi kehidupannya yang tentunya bersesuaian dengan jaman dan konteks sosial dimana mereka berada.

Semangat keterbukaan merupakan suatu jaman yang menandakan bahwa kesadaran umat manusia dalam kesejatiannya akan mendapatkan tempat dalam kehidupan (Pramudya Ananta). Zaman keterbukaan ini merupakan sarana bagi wanita 21 untuk menunjukan eksistensi dirinya sesuai yang dicita-citakan yaitu berada pada ruang lingkup Publik bukan hanya wilayah Domestik saja.

Semangat keterbukaan tersebut merupakan Kesadaran Rasionalitas wanita untuk mendapat tempat yaitu wanita mempunyai hak yang sama atas pengetahuan, mempunyai hak yang sama berada pada dipublik.

Kesadaran Rasionalitas wanita berhasil tereksekusi dengan baik ditandai dengan eksistensi wanita 21 mendapatkan tempat dipublik dan terbukti bahwa wanita mampu mengeksekusi hal-hal yang bersifat strategis.

Seperti yang kita lihat sekarang banyak Pemimpin-pemimpin Daerah maupun Pusat yang dipimpin langsung oleh wanita dan kelayakan mereka tidak diragukan lagi oleh dunia.

Namun, realita kekinian mencoba menganalisa apakah kesadaran rasionalitas wanita sesuai dengan yang dicita-citakan atau malah melenceng dari substansi.

Beberapa fakta menarik telah menguraikan bahwa semangat keterbukaan wanita tidak lagi substansif namun semangat keterbukaan wanita 21 lebih di identik dengan fisik (Semangat keterbukaan Aurat).

Semangat keterbukaan Aurat wanita 21 tidak terjadi secara alamiah, namun dibalik semangat keterbukaan wanita 21 dibentuk oleh kekuasaan. Menurut Yasraf Amir Piliang ada tiga logika kekusaan yang saling bertautan mendukung wacana keterbukaan ini menjadi dominan dalam masyarakat, kekuasaan itu adalah kekuasaan produsen, kekuasaan modal, Dan kekuasaan media massa.

Tiga kekuasaan ini telah mengikis dan menghilangkan kesadaran rasionalitas wanita 21 sehingga membuka Aurat bukan lagi sesuatu yang sifatnya sakral, namun membuka aurat adalah sesuatu yang wajar.

Kewajaran membuka Aurat ini terus tertanam dalam diri wanita 21 dan mereka tidak sama sekali menyadarinya bahwa mereka tengah di Eksploitasi. Dan bahkan kewajaran membuka aurat ini merubah mind sett wanita 21, memakai jilbab itu kolot dan sulit diterima di dunia kerja.

Tiga kekuasaan tadi terus berupaya mengekang wanita 21 sehingga mereka mau tidak mau harus mengikuti pola yang diciptakan oleh kekuasaan tersebut.
Wanita 21 tidak harus pintar dan memiliki pemikiran yang cemerlang untuk diterima di dunia kerja, namun yang terpenting wanita 21 berani untuk memakai pakaian mini baju ketat dan lain sebagainya.

Zaman wanita 21 ini, kerja tidak ditandai lagi dengan kerja fisik, tapi kerja ditandai dengan kerja image, dan wanita dengan buah dada, pusar, dan paha putihlah sebagai imagenya (Fukuyama).

Begitu miris mendengar dari salah seorang yang kerja disuatu mall “Pagi-pagi wanita datang ketempat kerjanya (Mall) dengan memakai pakaian dengan adat ketimuran, namun sampai di Mall pakaiannya diganti dengan pakaian yang serba mini”.

Di perusahaan mobil, motor, rokok, pabrik-pabrik, Mall-mall, dan lain sebagainya memberikan ruang yang sebesar-besarnya kepada wanita 21 yang cenderung keterbukaan fisik daripada keterbukaan ilmu pengetahuan.

Dizaman modern ini kita sangat meyakini bahwa kita berada pada zaman tercerah, zaman wanita 21 mengedepan kesadaran rasionalitasnya diatas segalanya padahal sesungguhnya kita kembali ke zaman Jahiliyah.

Dan wanita 21 telah kehilangan kesadaran Rasionalitasnya serta fitrahnya sebagai wanita. Wallahu alam…

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa