Hati-Hati, Bahaya Obat PCC Targetkan Anak Sekolah

images (9)Oleh

Ulfiatul Khomariah

(Mahasiswi Sastra Indonesia FIB UNEJ

Tim Penulis “The Voice of Muslimah”

Semakin pelik saja permasalahan di Indonesia saat ini. Korban berjatuhan akibat obat PCC mengundang perhatian masyarakat. Sebuah obat yang membuat para peminumnya hilang kesadaran hingga membuat nyawa melayang.

Baru dua hari kemarin Badan Narkotika Nasional (BNN) mengamankan tersangka yang menyebarkan obat PCC kepada anak sekolah di Kendari, Sulawesi Tenggara. Obat tersebut diedarkan dengan cara dijual seharga Rp 25 ribu per 20 butir.

“Dijual kepada anak-anak sekolah dengan harga 20 butir Rp 25 ribu. Nah, ini yang sedang kita kembangkan,” tutur Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari di Gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (14/9/2017). (liputan6.com)

Sebelumnya, 50 pelajar dan pegawai menjadi korban akibat mengonsumsi obat berbahaya, yakni PCC. Seorang ibu rumah tangga (IRT) dengan inisial ST (39), yang diduga menjadi pengedar, ditangkap polisi sekitar pukul 02.00 Wita, Kamis (14/9/2017) dini hari, di kediamannya, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (detik.com)

Sungguh ironi masalah negeri ini. Kejahatan dalam berbagai modus selalu mengintai penduduknya. Sasarannya sudah mencakup semua penjuru, baik orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak.

Sebagaimana data BNNK Kendari mencatat sebanyak 61 pasien telah dirawat di sejumlah rumah sakit di Kendari akibat dari mengonsumsi obat PCC ini.

Harus kita ketahui bahwasanya obat PCC merupakan pil berwana putih, dengan merek dagangnya Somadril Compound. Obat tersebut harus dikonsumsi sesuai resep dokter untuk mengatasi sakit pinggang, kejang otot, hingga penghilang rasa nyeri.

Spesialis Saraf dr Frandy Susatia SpS dari Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta menjelaskan, bila obat tersebut dikonsumsi dengan kondisi over dosis, dampaknya dapat merusak fungsi pencernaan. Tak hanya itu, seseorang juga dapat mengalami alergi kulit, hingga mengarah pada Steven Johnson Syndrome.

Secara luas, pil PCC tidak bisa digunakan sembarangan. Bahkan, obat ini dibuat dari bahan oplosan tiga macam obat. Namanya Carisoprodol 200mg, Paracetamol 160 mg, dan kafein 32 mg.

Maka tak heran jika orang yang meminumnya cepat berhalusinasi. Seperti kasus yang menimpa anak di Kendari, hingga mengancam nyawanya.

Merupakan pertanyaan besar bagi kita, mengapa kejahatan dengan berbagai modus selalu terjadi di Indonesia? Mulai dari masalah miras dan narkoba yang terjadi setiap tahunnya hingga menelan banyak korban.

Sekarang disusul kejahatan obat keras PCC yang bahkan cara menyebarkannya sangat keji, seperti memasukkan obat tersebut ke dalam makanan maupun minuman dan mengemasnya dalam bentuk yang unik. Sebenarnya, apa masalah besar yang meliputi negeri ini hingga masalah seperti ini berulang kali terjadi?

Bukankah pemerintah sudah melakukan berbagai macam cara untuk menanggulanginya? Mari kita telisik lebih mendalam, fenomena meningkatnya kasus kejahatan obat-obatan terlarang merupakan suatu hal yang mungkin sudah lumrah di tengah kehidupan liberal yang menggaungkan ide kebebasan atas nama HAM.

Saat ini, demokrasi yang diadopsi oleh Indonesia meniscayakan kebebasan sebagai penegaknya, akibatnya muncul perilaku-perilaku menyimpang yang mengatasnamakan HAM, salah satunya penyalahgunaan obat PCC.

Gaya hedonis menempatkan obat terlarang sebagai barang yang keren, yang apabila memakainya dapat membuat para pemakai lebih berani, keren, percaya diri dan santai. Maka bukan suatu hal yang menakutkan lagi bagi mereka untuk menggunakan obat berbahaya ini, meskipun efek yang ditimbulkan bisa merenggut nyawa.

Apalagi saat ini banyak anak yang kurang perhatian dari orang tuanya dikarenakan orangtua sibuk dengan urusan pekerjaan dll. Hal ini dapat memicu para generasi muda tergiur untuk mencoba dan ikut-ikutan mengonsumsi obat-obat terlarang.

Ditambah lagi berbagai persoalan yang membelit negeri ini, mulai dari mahalnya biaya hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, persaingan di lingkungan kerja yang ketat, perselingkuhan dan perceraian, serta berbagai permasalahan lainnya yang membuat orang menjadi stress.

Akhirnya orang yang sudah banyak dirundung masalah ini berinisiatif ingin bebas dari masalah. Nah, obat-obat terlarang seperti narkoba dan obat PCC pun menjadi alternatif seseorang untuk melupakan masalah dan mengejar kenikmatan dunia.

Alhasil, penyebab penyalahgunaan obat-obatan hingga level darurat ini bukan hanya karena faktor individu saja, tetapi mencakup berbagai aspek dalam skala sistemik.

Bahkan, faktor lingkungan masyarakat dan penerapan aturan dari negaralah yang menjadi faktor terbesar yang memperparah kasus ini. Semua itu tak lepas dari sistem liberal kapitalis yang diadopsi negeri ini.

Sistem yang lahir dari sekulerisme yang menjadikan manusia sebagai pembuat hukum telah membuat banyak orang jauh dari agama dan melanggar berbagai aturan, termasuk aturan agama.

Banyak faktor yang menjadi penyebab negeri ini terus diliputi berbagai persoalan yang sangat serius dalam berbagai aspek, tetapi yang utama adalah karena kehidupan manusia di dunia diatur berdasar sistem (pedoman) hidup buatan manusia (kapitalisme), bukan yang dibuat oleh Allah Al-Mudhabbir.

Ketika kita ingin memberantas tuntas kasus penyalahgunaan obat-obat terlarang baik narkoba maupun PCC, maka solusi dan aksi yang dilakukan harus menyentuh akar permasalahannya, tak cukup hanya dengan melakukan operasi dan razia yang hanya dilakukan pada saat kejadian semata.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa