Hari Anak Nasional 2017 : Saya Anak Indonesia, Saya Gembira (Antara Fakta & Fiksi)

download (4)
Ist/net

Oleh:

Nida Husnia Ramadhani

Mahasiswi Pendidikan bahasa Arab

Pada 23 Juli 2017 Riau menjadi provinsi terpilih dalam penyelenggaraan Hari Anak Nasional yang digelar oleh kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Acara ini dimeriahkan oleh beberapa penampilan sulap kecil persembahan Presiden RI Joko Widodo bersama ibu negara Irina Joko Widodo.

Dalam salah satu aksinya, presiden Jokowi memegang sebuah tongkat dan pot kecil, lalu memperlihatkan pot kecil yang kosong kehadapan anak-anak sambil berkata “ini kosong ya?? Kosong ya..”.

Selanjutnya Jokowi memasukkan tongkat tersebut kedalam pot dan menariknya keluar, maka muncullah tanaman kecil dari dalam pot. Aksi tersebut sontak membuat anak-anak yang hadir tertawa lepas dan mencoba menebak trik sulap mini ala pak Jokowi.

Tak hanya anak-anak, bahkan crew yang bertugas pun ikut tertawa. Perayaan hari spesial ini diberi slogan “Saya Anak Indonesia, Saya Gembira”.

Namun, benarkah saat ini anak Indonesia merasakan kegembiraan? Coba kita amati, angka gizi buruk, pelecehan seksual dan beberapa kasus yang menimpa anak-anak tak kunjung mereda.

Gizi buruk anak Indonesia mencapai 29%, hal ini diakui menteri kesehatan yang juga mengatakan gizi balita di Indonesia masih dibawah 10% dan tidak memenuhi standart ketetapan WHO.

Berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang dirilis di Jakarta menyebutkan enam kabupaten di Jawa Timur dinilai kronis masalah gizi yakni Kabupaten Probolinggo, Sampang, Bangkalan, Jember, Sumenep dan Lamongan.

Kabupaten Bangkalan sebanyak 3.247 balita, Kabupaten Probolinggo sebanyak 4.657 balita, Lamongan 4.403 balita, Sumenep sebanyak 3.319 balita, Sampang sebanyak 3.537 balita, dan Jember sebanyak 8.035 balita.

Di Sumatera Utara pada 2016 lalu tercatat 52% kasus kekerasan terhadap anak yang kebanyakan menimpa anak perempuan. Di Bogor juga terjadi pencabulan yang dilakukan 3 pemuda terhadap bocah berusia 13 tahun.

Mirisnya sejumlah kasus yang menimpa anak-anak membuat slogan “Saya Anak Indonesia, Saya Gembira” seolah bualan belaka. Pada kenyataannya, tawa dan senyum anak Indonesia telah tergadaikan oleh kejahatan yang menimpa mereka.

Pemerintah memang tak tinggal diam dengan memberikan solusi penyelesaian masalah dengan mengangkat tema “Perlindungan Anak dimulai dari Keluarga” dengan parenting atau sejenisnya, namun bila ditelaah lebih dalam, akan muncul beberapa pertanyaan serupa yakni “Bagaimana jika si anak tak mempunyai sanak keluarga?”

atau “Bagaimana jika pihak keluarga berlepas tangan dari pengasuhan anak?” Keluarga saja tidak cukup untuk menjadi tameng perlindungan generasi, sebab bila yang terjadi sebagaimana pertanyaan diatas, nasib anak selanjutnya akan menjadi tanda tanya besar.

Sejatinya, negara lah yang memiliki pokok peran dalam pembentukan kualitas dan jaminan keselamatan generasi anak bangsa. Sebagaimana yang telah tercantum dalam bukti historis beberapa abad silam, saat Islam memimpin dunia, ia melahirkan generasi bangsa yang beradab dan cerdas.

Pada kala itu, negara benar-benar menyadari akan besarnya tanggung jawab dalam memimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah karena menggunakan sistem terbaik dan relevan sepanjang masa.

Sistem yang dapat mencegah terjadinya kasus kekerasan, pelecehan, kemiskinan, pengangguran, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Sistem itu dinamakan Islam. Islam mengatur seluruh dinamika kehidupan, tak hanya berlaku bagi muslim, bahkan non muslim pun dapat merasakan bias kenyamanan dalam syariat Islam.

Kala itu, pemerintah tak hanya membuat perubahan bagi generasi melalui orangtua atau pihak keluarga, namun pemerintah juga melakukan upaya besar dengan menyediakan fasilitas sekolah yang baik dan menjamin mutu pendidikan melalui guru-gutu terbaik.

Para guru pun dijamin kesejahteraannya dengan memberi gaji tinggi, yang mana tak akan ditemui pada masa sekarang. Tak berhenti disitu saja, pendidikan masyarakatpun menjadi penting, oleh karenanya negara yang menganut sistem Islam akan memiliki peraturan dalam pergaulan sehari-hari.

Yang tak serta merta membiarkan interaksi laki-laki dan perempuan bebas terjadi tanpa mengenal batas. Sehingga, keshalihan sistem negara yang dianut akan mengindahkan kehidupan masyarakatnya.

Tanpa repot membuat beragam tawaran solusi namun tak juga mengurangi kesuraman dalam negri. Perlulah kita mencermati agenda negara Hari Anak Nasional, karena bila dipikir-pikir slogan “Saya Anak Indonesia, Saya Gembira” terpental jauh dari fakta yang ada.

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa