Erdogan & Geo Politik Turki

Syarif iew 20160719_085223Syarief Rahman Wenno

Wasekjend Hub. Internasional PB Hmi

Pasca kudeta militer gagal di Turky terhadap presiden Recep Tayep Erdogan, respon dunia internasional pun menjadi headline dibeberapa media utama dunia. Obama langsung melakukan pernyataan pers mengutuk kudeta dan mengajak seluruh pihak di Turki untuk bersatu mendukung Erdogan.

Bahkan dua kekuatan regional yang saling berseteru yaitu Israel dan Iran menyampaikan penolakan yang sama pada aksi kudeta kemarin. Termasuk tokoh oposisi Erdogan seperti Fethullah Gulen yang ia tuduh mendalangi kudeta tersebut juga turut mengecam aksi kudeta sporadis itu.

Beberapa spekulasipun mulai muncul mermaikan aksi kudeta gagal dimaksud. Jurnalis senior Turki Selim Caglayan beberapa malam lalu di TV 0ne menyampaikan bahwa reputasi Erdogan di dalam negeri itu redup karena kasus korupsi, isu kemitraan bisnis dengan ISIS, pembredelan pers, sampai isu Ijazah palsu yang menimpanya.

Belum lagi tentang pemulihan hubungan rezimnya dengan Israel dan politik kotornya di Suriah. Saat terpilih sebagai presiden tahun 2014, dalam beberapa bulan saja Erdogan telah melakukan ‘pembersihan’ terhadap para oposisinya, 2000 warga telah ditangkap karena dianggap menghina dirinya baik itu yang sekedar membuat status mengkritiknya di medsos sampai yang membuat meme lucu-lucuan menyamakannya dengan Gollum.

Sungguh miris ketika membaca beberapa informasi di media ‘The Independent’ bahwa para Tentara yang melakukan “kudeta” militer kemarin ternyata tidak menyadari bahwa mereka adalah bagian dari aksi kudeta.

Dari hasil interogasi terungkap keterangan bahwa mereka tidak menahu dengan kudeta, yang mereka tahu bahwa mereka hanya diperintahkan para komandannya untuk melakukan “manuver militer” di perkotaan sebagai bagian dari latihan. Apa yang anda pelajari dari pengakuan ini?

Melihat fakta ini rasanya sangat menyakitkan bahwa keluguan para tentara muda berpangkat rendah yang tidak tahu menahu soal politik ini sedang dimanfaatkan sebagai bidak-bidak catur untuk melakukan “kudeta” sporadis tak terkonsolidasi oleh kalangan elite yang coba menaikkan popularitas seorang Erdogan untuk memberinya alasan untuk melakukan pembersihan terhadap faksi-faksi militer yang tak sejalan dengannya.

Jika USA dulu melakukan false flag demi alasan untuk menginvasi Timur Tengah, maka tidak mustahil Turki hari ini melakukannya sebagai alasan untuk menaikkan reputasi Erdogan yang redup di dalam negerinya sendiri.

Terlepas dari spekulasi dan analisis yang bertebaran diruang publik, penulis melihat ada hidden agenda yang hendak dimainkan erdogan untuk mengamankan kekuasaannya. Kemungkinannya adalah melakukakan upaya rekonsiliasi dengan Rusia. Mungkinkah..??

Apa jadinya kalau kelak Turki melakukan rekonsiliasi dengan Rusia dan Suriah? untuk meniru langkah Iran dalam politik regionalnya ?Kalau ini terjadi maka politik dunia akan memanas dan akan menyeret dunia dalam krisis ekonomi baru yang terburuk setelah tahun 2008. Keliatannya kemungkinan itu besar. Mengapa ? Apa alasannya?

Pertama, dukungan elite politik Turki yang selama ini setia kepada Erdogan nampak melemah dan memilih menjadi oposisi diam karena sikap rezim Erdogan yang terkesan diktator, mengabaikan hak hak demokrasi, terutama terjadi ketegangan antara pemerintah dengan kelompok kurdi.

Kedua,  ketidakstabilan politik dalam negeri ini juga datang di saat ekonomi Turki sedang memburuk. Pertumbuhan ekonomi melambat, korupsi merajalela dan investasi asing mengering. Belum lagi sangsi Rusia telah memukul industri pariwisata dan ancaman di hentikanya pasokan gas ke turki yang merupakan setengah kebutuhan turki ini langsung menohok fondasi ekonomi Turki.

Erdogan butuh perbaikan ekonomi Turki sebagai alat melanggengkan kekuasaanya. Karena kalau ekonomi terus turun maka rakyat yang tadi di belakang dia akan berbalik menjatuhkannya dan di sini Rusia dapat memainkan peran yang sangat penting untuk menyelamatkan Erdogan

Ketiga, Erdogan menyadari bahwa campur tangan Rusia di Syria mendukung rezim Assad  lebih efektif dan rencana Turki menjatuhkan Presiden Bashar al-Assad gagal. Erdogan mungkin juga ingin menemukan cara untuk menenangkan situasi di Syria dan mengurangi risiko ketidakstabilan Suriah mengarah ke Turki. Dan ini perlu campur tangan Rusia membantunya.

Keempat,  Pemilu yang akan datang di USA akan mengakhiri masa jabatan Obama. Erdogan harus menjaga diri dari perubahan kebijakan politik negeri paman sam terhadap Turki yang kemungkinan tidak menyukai kebijakan Erdogan dalam membangun demokrasi. Kalau ini terjadi tidak menguntungkan partai Erdogan. Sikap kepada Rusia adalah posisi tawar yang strategis dengan USA.

Kelima, walaupun upaya untuk rekonsiliasi dengan Moskow telah terjadi selama beberapa waktu, Guncangan tabrakan “Brexit” mungkin sebagai pemicu  Erdogan harus menemukan cara untuk melindungi diri terhadap dampak dari ketidakstabilan Eropa.

Karenanya ia berharap untuk peningkatan hubungan dengan Rusia untuk  membantu dia keluar dari krisis domestik maupun regional. Bagi Rusia, ini kesempatan untuk menggunakan bantuan Turki dalam upaya menstabilkan Suriah dan menemukan solusi kemenangan politik di Suriah.

Dan bila Turki pada akhirnya menjalin aliansi dengan Rusia maka otomatis China akan ikut mem back-up nya. Turki akan bersama Iran dan Suriah melawan israel. Sikap keras terhadap Israel akan meningkatkan popularitas Erdogan di hadapan pemilihnya.

Tapi apakah AS akan berdiam diri? Kalau Erdogan berani melakukan akrobat politik ini maka AS akan berupaya menjatuhkannya, dan tentu Rusia tidak akan tinggal diam. Mengerikan sekali membayangkannya situasi ini akan terjadi. Setidaknya Erdogan belajar dari sikap Turki yang gagal memilih teman di perang dunia pertama dan kedua.

Karena krisis ekonomi dan Turki kehilangan dukungan ekonomi dari sekutunya AS dan Eropa maka Rekonsiliasi dengan Rusia adalah keniscayaan dan kalau karena itu Turki harus keluar dari kesepakatan rekonsiliasi dengan Israel dan hubungan yang memburuk dengan AS, itu adalah pilihan yang buruk diantara yang terburuk.

Dan kalau karena itu Turki harus menjalin aliansi dengan Iran dan rezim Basar dalam konflik di Syiriah juga tidak terlalu buruk. Tidak ada idiologi atau agama yang di usung dalam politik, tidak ada musuh yang abadi,  kecuali bagaimana menyelematkan ekonomi. Erdogan mampu bersikap soal itu.****

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa