Dunia Jangan Lipat Tangan (Rohingya Petanda Kemunduran Peradaban Negara & Kemanusian)

IMG-20170902-WA0001ist/net

Oleh :

Saifuddin Al Mughniy

Penulis & Kolomnis

Ada apa dengan penggalan kalimat tersebut diatas ? tentu diksi ini akan mengundang sekian banyak perspektif, ada yang mungkin mendarasnya dari sisi pendekatan saintek, mungkin juga ada yang memandang dengan psikoanalitik, kecemasan, kecurigaan, tuduhan bahkan rasa emosional. Yah, semua bisa diterima sebagai suatu knowledge (pengetahuan) atas realitas yang ada.

Sebagian sosiolog bisa memandang dengan pendekatan “resolusi”, apakah sesungguhnya penyebab terjadinya konflik di dunia ? apakah karena Eropasentris yang menegasikan kolonialisasi (penjajahan) pada negara lain.

Apakah karena perebutan sumber energi sebagaimana Timur Tengah dengan kandungan minyak sehingga invasi militer dilakukannya, apakah karena pertentangan epistemologi timur dengan barat (Islam versus barat) sebagaimana diterangkan oleh Bryan S. Turner (sosiologi dan agama), ataukah karena spirit kapitalisme sebagaimana Weber menafsirkannya. Semua itu bisa dikonfrontir dalam semua perspektif.

Tragedi kemanusiaan adalah hanya judul kecil dari peristiwa peradaban manusia. Ada tragedi karena bencana alam, seperti Tsunami, banjir bandang, angin puting beliung, gempa bumi.

Ini satu dari sebagian sabda alam atas manusia. Realitas seperti ini kadang lebih responsif dibanding dengan tragedi karena perang, pembantaian, serta kejahatan massal oleh negara terhadap negara lain, atau kelompok tertentu dengan kelompok lainnya.

Hal ini bisa dianalisa, perang di jalur gaza, Israel dan Palestina, Afghanistan, perang saudara di Timur Tengah, Suriah, Irak, Lybia dan beberapa negara lainnya.

Walau suara di gedung PBB diperjuangkan namun tetap saja perang tercipta. Pembantaian yang terjadi di Rohingya Myanmar adalah tragedi yang mendiamkan dunia. Rasa iba, sensitivisme, nyaris terabaikan, ini satu bukti bahwa dunia sedang melipat tangan, suara dunia atas perdamaian kian surut menepi.

Perempuan persih nobel perdamaian “menghukum dirinya”, sebab negara menyanderanya dalam tangis kemanusiaan yang di duga kuat membiarkannya. Muslim Rohingya terusir dari tanahnya, anak-anak dan perempuan menjadi korban.

Ada benarnya tesis John Naisbit dan Aburdene dalam Megatrend 2000 yang meramalkan satu diantaranya ketika “agama mulai merekah”, dihampir sudut dunia konflik terjadi karena persinggungan agama.

Peristiwa peledakan gedung kembar di Amerika 11 september 2001 yang lalu, Osama bin Laden dianggap sebagai pelakunya dengan klaim “Islam Teroris”.

Sementara peledakan Oklahoma City yang pelakunya Mc Feigh mantan marinir Angkatan Laut USA dengan Fujiko Sigenebu genster dari Jepang, nyaris ditutup oleh media sebab tidak berlebelkan “agama tertentu”.

Dan informasinya pun hanya sepenggal kita baca dianasir tukisan Samuel P. Huntington dalam Clash Civilitation atau Benturan Peradaban. Maka benar kata orang bijak, siapa yang menguasai media maka ia akan menguasai dunia.

Terus apakah ini memang murni konspirasi atau by desaign atas permusuhan terhadap kelompok agama ? Nah, kalau itu benar, maka kenapa negara bersekongkol untuk memusuhi agama ?

Marx pun yang dituduh anti Tuhan, ternyata tetap meyakini tentang eksistensi agama, Emil Durkheim dalam pandangannya tentang kemajuan saibtek dan harapan manusia modern

Ternyata masih percaya bahwa agama masih sangat dibutuhkan ummat manusia, bahkan Juan Paul Sartre pun yang memproklamirkan dirinya anti Tuhan, anti agama, ternyata diakhir diskusinya dengan Ali Syariati ia lun bertobat atas keyakinan yang dipahami Ali Syariati.

Yaitu ketauhidan Islam, perkataannya bisa disimak, saya (Sartre), aku memang tak memiliki Tuhan, tidak memiliki agama, aku marxis, tetapi ketika saya dihadapkan pada pilihan atas keyakinan, maka saya (Sartre), akan memilih keyakinan yang dipahami Ali Syariati.

Ini memberi bukti bahwa pengetahuan yang dimiliki filsuf pun mengartikulasikan agama sebagai kebaikan. Sehingga saya berpendapat bahwa membantai, membunuh tanpa alasan terhadap kelimpok agama tertentu adalah bagian kemunduran peradaban.

Rohingya adalah petanda kemunduran peradaban negara dan kemanusiaan. Dan dunia jangan melipat tangan dan memilih diam.

renaisance studies, 2 september 2017

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa