Drama ‘Topeng Monyet’ PDIP Di Pilgub DKI

images-5Setelah berbulan-bulan melalui berbagai tahapan proses internal dalam partai untuk menyongsong Pilgub DKI, akhirnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjatuhkan pilihan pada pasangan calon patahana Ahok-Djarot.

Proses ini sebelumnya di mulai dengan proses penjaringan di DPD PDIP DKI. Para tokoh berbondong-bondong ikut mendaftarkan diri dalam proses tersebut , sebut saja Yusril Ihza Mahendra, H. Lulung, Sandiaga Uno dll.

Namun di akhir, Ahok dan Djarot yang tak pernah mendaftar dalam proses di pilih menjadi paslon dengan alasan Megawati sebagai ketua umum memiliki hak prerogatif untuk memutuskan. Wacana yang di bangun bahwa PDIP memiliki mekanisme sebagai sebuah partai modern seperti jauh panggang dari api.

Ahok yang selama kepemimpinannya sebagai gubernur DKI menuai banyak kontroversi seperti kasus korupsi rumah sakit Sumber Waras, skandal pembelian tanah di Cengkareng, konfrontasi dengan DPRD dan berbagai penggusuran yang di duga untuk kepentingan para pengembang properti besar.

Belum lagi kata-kata kasar dan sikap ceplas ceplos Ahok membuat banyar orang tersinggung, serta mengaggap tindak Ahok tak sesuai dengan budaya timur dan betawi yang religius.

Perlawanan rakyat atas Ahok muncul dimana-mana. Perlawanan rakyat kecil di mulai dari Jakarta Utara, Jakarta Timur sampai ke Jakarta Selatan di dukung oleh Ratna Sarumpeat, Achmad Dhani.

Kedatangan Ahok di tolak rakyat Jakarta dimana-mana, Ahok di hadang, di lempari setiap berkunjung di berbagai wilayah di Jakarta. Para spartan anti Ahok sampai bertekad akan melakukan perang kota untuk melawannya.

Kemudian PDIP yang mengklaim diri sebagai partai ‘wong cilik’ dengan slogan Trisakti seolah sirna dengan dukungannya kepada Ahok. Basis masa PDIP yang nota bene dari kalangan rakyat kecil hari ini dkhianati sendiri.

Rakyat pada akhirnya punya cara sendiri untuk menghukum Ahok dan PDIP. Menarik di tunggu proses politik sampai masa akhir pendaftaran Pilgub DKI sampai 23 September mendatang siapa bakal calon penantang Ahok-Djarot.

Yang pasti, ingatan publik atas drama ‘topeng monyet’ PDIP yang di iringi dengan berbagai gendang palsu, akhirnya rakyat lah yang menjadi hakim tertingginya. Walahualam (TIM KA)

Post Comment

Kawal Kedaulatan Bangsa